Jumat, 19 November 2010

Klasifikasi Perencanaan

Perencanaan Kota
Perencanaan kota merupakan penyiapan upaya untuk mengantisipasi perkembangan dan pertumbuhan kota, serta menjadi pedoman tujuan yang selaras untuk wadah perkembangan masyarakat kota menuju kehidupan yang lebih baik. Selain itu, perencanaan kota dapat diartikan sebagai gambaran tatanan fisik yang mengatur peruntukan lahan, penataan jaringan jalan, utilitas, penempatan fasilitas sosial dan umum, dan sebagainya (Catanese dkk, 1996).

Perencanaan kota perlu dilakukan dalam upaya untuk mengantisipasi perkembangan dan pertumbuhan kota. Perencanaan kota juga digunakan sebagai pedoman tujuan yang selaras untuk wadah perkembangan masyarakat kota menuju kehidupan yang lebih baik. Perencanaan tersebut memberikan gambaran tatanan fisik yang mengatur peruntukan lahan, penataan jaringan jalan, utilitas, penempatan fasilitas sosial dan umum, dan sebagainya.

Perencanaan Wilayah
Perencanaan wilayah merupakan disiplin ilmu yang menekankan pada penjelasan sosial dalam ruang wilayah secara keseluruhan (Friedman, 1980). Selain itu, perencanaan wilayah dapat diartikan sebagai perubahan sosial ekonomi di berbagai wilayah, dinamika hubungan antarwilayah dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pembangunan wilayah, tetapi pengertian ini terlalu luas dan tidak mengena pada faktor-faktor yang relevan untuk pembangunan.

Sebagai langkah awal, seorang perencana pembangunan sangat perlu untuk mengenal daerah/ wilayah perencanaan, dimana potensi daerah serta kondisi masyarakatnya akan menjadi masukan (input) yang sangat strategis dalam menyusun langkah-langkah rencana, program maupun kegiatan dan proyek pembangunan, sehingga benar-benar sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan daerah yang bersangkutan. Proses pengenalan wilayah dapat dilakukan dengan memahami profil wilayah terlebih dahulu. Profil wilayah merupakan gambaran umum suatu wilayah yang menjadi obyek perencanaan, meliputi keadaan alam, sosial ekonomi, budaya, politik, kelembagaan dan lain sebagainya yang diperlukan untuk analisis perencanaan selanjutnya.

Gambaran Umum Desa Semampir, Kecamatan Pati

Permukiman
Sebagian besar penduduk di Desa ini merupakan penduduk asli yang sudah menetap hingga lebih dari 25 tahun. Sebagian kecil dari masyarakat merupakan penduduk pendatang namun kebanyakan berasal dari Kabupaten Pati. Pemukiman ini timbul dikarenakan lokasinya yan dekat dengan jalur pantura. Berdasarkan informasi yang diberikan oleh penduduk setempat, pemukiman ini sudah ada sejak lama, namun mulai berkembang pada awal tahun 1980. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai PNS dan pedagang.

Rumah
Sebagian besar penduduk menempati rumah pribadi yang memiliki sertifikat tanah namun tidak memiliki IMB. Mayoritas penduduk mendiami perkampungan ini sudah lama.

Sarana Prasarana
Mayoritas rumah memilki fasilitas MCK pribadi di hampir setiap rumah. Pemukiman pada desa ini mayoritas memiliki tempat penampungan sampah di depn rumah masing-masing. Pengangkutan sampah dilakukan oleh petugas setiap hari dan kemudian dibuang di TPA Margorejo. Masyarakat. Untuk minum dan mandi masyarakat menggunakan sumur artetis, Namun sebagian kecil masyarakat menggunakan air PAM.
Jalan di Desa ini cukup baik, perbaikan rata-rata dilakukan pada tahun 2008 di hampir setia perkampungan. Pemadaman listrik cukup jarang terjadi dan telepon rumah cukup banyak dibandngkan dengan desa lain karena desa ini cukup tua di Pati. Selokan di Desa ini cukup mampu mengalirkan air jika hujan karena juga terdapat kegiatan pembersihanyang rutin. Di desa ini tidak terdapat puskesmas, dan mayoritas masyarakat berobat ke Puskesmas Kota yang terletak di Kelurahan Plangitan. Menurut masyarakat pelayanan puskesmas plangitan terbilang baik. Mayoritas masyarakat berbelanja di Pasar Gowangsan dan berekreasi ke alun-alun. Namun banyak pula yang memilih ke luar kota.
Berdasarkan opini masyarakat, selokan merupakan prasarana pemukiman yang perlu masih diperbaiki.

Keamanan dan Kebersihan
Kondisi lingkungan di desa ini cukup aman dan mayoritas perkampungan memiliki siskamling dan kerja bakti rata-rata dilakukan sebulan sekali.

Kegiatan Sosial
Sama seperti desa lain, tradisi sedekah bumi masih rutin dilakukan setahun sekali Arisan dilakukan setiap bulan dan pengajian setiap jumat. Hubungan antar warga cukup akrab.

Program Pemerintah
PNPM di desa ini dilakukan rata-rata pada tahun 2008 dan mayoritas dilakukan untuk membangun jalan dan selokan dan partisipasi masyarakat cukup tinggi.

Rabu, 17 November 2010

Intisari Jurnal SagePub - Ketahanan Sosial Ekonomi

Jurnal 1
Perlindungan Sosial dan Dasar Sosial Ekonomi Global : Berbasis pada Pendekatan Hak Asasi Manusia
Wouter Van Ginneken

Jurnal ini menunjukkan bahwa komitmen terhadap hak asasi manusia, termasuk terhadap hak untuk mendapatkan jaminan sosial, akan memberikan kekuatan untuk mewujudkan dasar dari globalisasi sosial ekonomi. ILO memperkirakan bahwa pencapaian dasar globalisasi ekonomi pada umumnya telah dapat dijangkau bagi negara yang memiliki pendapatan yang rendah, meskipun dukungan internasional tetap diperlukan pada masa mendatang. Sehubungan dengan perluasan jaminan sosial yang dilakukan, tantangan terbesar yang dihadapi adalah dalam mendesain dan mengatur hubungan antara pembiayaan pajak dengan skema kontribusi jaminan sosial dalam kerangka sosial ekonomi yang lebih luas.

Jaminan sosial dapat diartikan sebagai perlindungan yang diberikan kepada individu maupun rumah tangga untuk mendapatkan akses terhadap perawatan kesehatan dasar dan menjamin keamanan penghasilan, terutama bagi masyarakat usia lanjut, pengangguran, orang sakit, kecelakaan kerja, persalinan ataupun kehilangan pencari nafkah. Sementara, UDHR menyatakan definisi jaminan sosial dalam pasal 25, “setiap orang berhak mendapatkan standar kehidupan yang layak bagi diri maupun keluarganya, termasuk dalam hal makanan, pakaian, perumahan, kesehatan, hak untuk mendapatkan jaminan sosial pada saat menganggur, sakit, cacat, janda, usia tua, dan lain sebagainya. Ketika seseorang dilindungi oleh jaminan sosial, maka dia berhak untuk mengklaim haknya. Menurut ILO, jaminan sosial ini ditujukan bagi kelompok-kelompok pekerja tertentu.

Hak untuk mendapatkan jaminan sosial merupakan kebijakan dasar nasional untuk memperluas cakupan dari jaminan sosial tersebut. Ada 3 metode dan pendekatan yang digunakan untuk memperluas cakupan dari jaminan sosial, dalam hal ini terkait dengan orang, kontingensi, dan tingkat manfaat yang diperoleh. Di negara miskin, jaminan sosail yang berupa sistem pensiun hanya mampu diberikan kepada sedikit pekerja di bidang ekonomi formal. Sistem ini masih memiliki permasalahan yang terletak pada pemberian pensiun bagi pekerja di sektor ekonomi informal. Di sub Sahara, masyarakat membentuk skema pembangunan berbasis masyarakat dan asuransi mikro. Hal ini disebabkan oleh masyarakat yang kesulitan di dalam membayar biaya perawatan kesehatan yang tinggi.

Secara umum, ada kecenderungan dari pemerintah untuk mulai meningkatkan perlindungan sosial secara nasional dan adanya perencanaan jaminan sosial dengan tujuan untuk memperluas cakupan jaminan nasional tersebut. Misalnya, pemerintah Senegal yang telah merumuskan perlindungan sosial pada tahun 2005. Strategi yang diambil adalah meningkatkan respon prioritas kebutuhan yang lebih baik bagi para pekerja informal.

The Report of World Commission of The Social Dimension of Globalisation mendukung ide dari dasar sosial ekonomi globl untuk semua warga negara, karena dapat membantu legitimasi dari globalisasi. Laporan ini juga menekankan ‘tingkat minimum dari perlindungan sosial perlu untuk disetujui dan diletakkan sebagai bagian dari dasar sosial ekonomi global.

The Basic Social Security Floor dapat meningkatkan akses finansial terhadap perawatan kesehatan, dan dapat meningkatkan dukungan jaminan sosial dasar untuk anak-anak, orang usia kerja, orang yang telah berusia tua. The Basic Social Security Floor ini terdiri dari serangkaian jaminan sosial dasar bagi seluruh masyarakat, dengan memastikan bahwa pada akhirnya :
• Semua masyarakat memiliki akses terhadap menfaat perawatan kesehatan dasar.
• Semua anak memikmati pelayanan kecukupan nutrisi, pendidikan, dan kesehatan.
• Ada dukungan pendapatan yang ditargetkan bagi masyarakat miskin dan pengangguran dalam periode usia aktif.
• Semua masyarakat usia tua atau cacat menikmati jaminan pendapatan melalui dana pensiun bagi usia tua, kaum difabel, dan korban.


Jurnal 2
Memahami Ketahanan Pemuda di Papua Nugini Melalui Kisah Nyata
Tracie Mafile’o and Unia Kaise Api

Media massa menggambarkan kehidupan pemuda Papua Nugini sebagai sub-kultur siswa yang negatif, kejahatan yang dilakukan pemuda dan pengangguran, dan tingginya HIV untuk perempuan muda. The PNG National Statistical Office menyatakan bahwa terdapat presentase yang tinggi bagi anak-anak yang tidak pernah bersekolah (33%), datang ke sekolah (29%), sedangkan 38% lainnya sudah tidak bersekolah. Akan tetapi, dalam hal ini adalah sekelompok pemuda yang memperkenalkan ketahanan dalam menghadapi kesulitan, yang telah mempresentasikan alternatif pandangan yang berbeda.

Penelitian mengenai ketahanan pemuda di Papua Nugini ini menggunakan metode penceritaan kisah nyata. Hal ini salah satunya dikarenakan oleh penceritaan kisah nyata sebagai bentuk penyelidikan naratif dari kisah hidup yang dialami, dengan menyoroti aspek yang paling penting. Penelitian ini menggunakan kisah hidup Taylor. Keluarga, iman, dan masa depan merupakan 3 variabel yang dibahas dalam hubungan Taylor dengan beberapa permasalahan dan bernegosiasi dengan ketahanan menggunakan sumberdaya di lingkungannya. Hubungan keluarga merupakan faktor yang menghambat dan mendukung Taylor. Iman memberi Taylor filosofi hidup yang membantunya menghentikan penggunaan narkotika selama masa remaja, memberikan maaf dan penyembuhan dalam hubungan dengan ayah dan ibu tirinya dan pada umumnya mampu mengadopsi perspektif positif dalam hidupnya. Sementara, harapan di masa depan memberinya pandangan bahwa visi dan tujuan itu penting. Selanjutnya, dia memiliki komitmen untuk mewujudukan tujuan tersebut, agar dia ‘menjadi orang di negerinya, untuk menjadi pemimpin dan orang besar.

Keluarga dan diri mereka sendiri berkontribusi di dalam penyediaan pelayanan sosial informal dan harus dapat menjadi jaring pengaman sosial yang efektif bagi merekaa sendiri. Pengembangan jejaring pertemanan juga memberikan kontribusi terhadap perubahan sosial yang positif. Pengembangan jaringan teman di sekolah dan mendukung program yang diberikan akan memaksimalkan penggunaan layanan sosial masyarakat yang jarang dilakukan. kisah hidup Taylor menunjukkan perubahan yang signifikan mungkin dalam kehidupan orang muda dalam waktu relatif singkat. Hidup Taylor termasuk pengalaman keluarga yang broken, sekolah terganggu, mencoba bunuh diri, penyalahgunaan obat-obatan, afiliasi geng, kekerasan fisik. Namun, di sisi lain kehidupan Taylor menggambarkan kelangsungan hidup, transformasi, kesetiaan, pemeliharaan keluarga dan rekonsiliasi, berpantang dari penggunaan narkoba, filantropi, kepemimpinan,dan inisiatif. Pada akhirnya, kisah Taylor menggambarkan pentingnya mendukung ketertarikan pemuda dan kekuatan yang mereka miliki. Kisah Taylor menunjukkan perubahan dari fokus utama pada tekanan psikologis menuju fokus pada kapasitas pengembangan kekuatan individual.


Jurnal 3
Pemasok Industri Baja di Pittsburgh : Klaster – Berdasarkan Analisis Ketahanan Ekonomi Wilayah
Carey Durkin Treado dan Frank Giarratani

Pada tahun 1970an, Pittsburgh mulai mengalami kemunduran sebagai salah satu pusat produksi baja di Amerika Serikat. Hal ini menimbulkan persepsi bahwa produksi baja tidak akan bertahan lama dan akan segera digantikan oleh produk industri baru yang berteknologi tinggi. Akan tetapi, persepsi tersebut kurang tepat, mengingat bahwa Pittsburg memiliki perusahaan pensuplai bahan pembuatan baja, yaitu memasok material, peralatan, proses pengontrolan, dan aspek lainnya. perusahaan pensuplai industri baja telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari eskpor Pittsburght.

Adanya kluster industri pensuplai baja dapat berperan sebagai kontributor penting di dalam ketahanan ekonomi wilayah di dalam menghadapi penurunan industri signature. Pengalaman yang ada di Pittsburght meyakinkan bahwa bahkan dalam menghadapi penurunan industri signature, klaster industri yang terkait dengan signature industri akan mengembangkan tingkat kemandirian yang penting. Namun, kita tahu bahwa kluster, memiliki kontribusi terhadap ketahanan wilayah dan mempertahankan keberlangsungan wilayah. Apapun dasar asal mula aglomerasi industri baja, klaster pensuplai industri baja sekarang melayani sebagai sumber ekspor ke luar daerah.

Penemuan kita juga melayani untuk memperkuat perhatian, bahwa kecenderungan bagi praktisi pembangunan ekonomi wilayah untuk fokus terhadap produksi berbasis klaster, dapat menyebabkan kebijakan berinisiatif untuk menghilangkan kesempatan pembangunan. Konsep dari klaster industrri dari Porter memotret jaringan yang kaya akan hubungan vertikal dan horizontal. Analisis kita menunjukkan 2 tipe hubungan vertikal dan horizontal, yang dapat berkelanjutan oleh perusahaan pensuplai, bahkan ketika industri tersebut dalam produk berbasis kluster mengalami penurunan dalam suatu wilayah. Banyak responden yang mengidentifikasi ada keterkaitan horizontal di dalam klater. Misalnya pabrik di dalam klaster mungkin bekerjasama untuk mencari jaringan pasar melalui pembangunan produk atau untuk mengatasi permasalahan dengan mengambil keuntungan komplementer mereka dalam klaster.

Inisiatif kebijakan dapat memperkuat klaster dengan membantu perusahaan, terutama perusahaan baru untuk mengambil keuntungan dari komplemeteritas mereka. Hal ini dapat dicapai melalui investasi publik pada sektor infrastruktur, misalnya pembuatan kantor yang memiliki tujuan khusus atau upaya untuk meningkatkan komunikasi antarperusahaan di dalam klaster.

Organisasi swasta, misalnya asosiasi profesional dan universitas dapat memainkan peranan penting dalam memperkuat hubungan klaster. Menggunakan Pittsburght, kita melihat bahwa sejarah dominan dari industri manufaktur diterapkan dalam kenyataan bahwa wilayah merupakan rumah bagi dua asosiasi profesional utama yang menarik praktisi industri. Anggota asosiasi berkisar dari insinyur hingga wirausahawan profesional dan akademisi. Sebagai tamabahan, 3 pusat penelitian akademisi pada 2 universitas utama mempunyai fokus khusus terhadap baja.

Inisiatif kebijakan yang mempromosikan kerjasama di antara institusi dalam suatu wilayah melalui presentasi gabungan atau partisipasi dalam konferensi juga mempromosikan kepedulian terhadap komplementar yang mungkin menimbulkan keterkaitan horisontal yang positif dalam hubungan pemasok. Pengembangan klaster yang sukses dapat mendorong ketahanan ekonomi di suatu wilayah.


Jurnal 4
Kesulitan Sosial Ekonomi, Ketahanan dalam Bidang Pendidikan, dan Tingkat Adaptasi Orang Dewasa
Ingrid Schoon, Samantha Parsons, dan Amanda Sacker

Kesulitan sosial ekonomi menjadi faktor utama yang mempengaruhi seseorang untuk mendapatkan pendidikan yang layak, dimana anak tidak mampu mengembangkan potensi akademik yang mereka miliki. Akan tetapi, sejumlah penelitian telah menyatakan bahwa banyak negara telah memberikan dukungan bagi peningkatan kapasitas sumberdaya manusia, sehingga mereka dapat mengatasi kesulitan dan mampu menunjukkan adaptasi yang positif untuk mengatasi kesulitan, fenomena tersebut kemudian dikenal sebagai ketahanan.

Faktor resiko utama untuk kegagalan pendidikan adalah kesulitan sosial ekonomi dan investigasi mengatakan bahwa terdapat keterkaitan yang konsisten antara penampilan pendidikan dan latar belakang sosial keluarga. Penjelasan dari adanya fenomena ini menekankan pada kesempatan berbeda dan prsoses sosialisasi yang ada pada tingkat status sosial ekonomi. Tidak semua individual yang berasal dari keluarga yang kurang menguntungkan mengalami kegagalan untuk sukses di sekolah. Sejumlah penelitian menyatakan bahwa banyak negara telah memberikan dukungan bagi kapasitas sumberdaya manusia, agar mereka dapat mengatasi kesulitan dan untuk menunjukkan adaptasi yang positif untuk mengatasi kesulitan, suatu fenomena yang disebut sebagai ketahanan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan sosial ekonomi merupakan faktor resiko signifikan yang mencegah anak muda untuk mengembangkan potensi akademik mereka. Dampak dari resiko sosial dapat dimodifikasi oleh sejumlah faktor psikologi. Dukungan guru untuk remaja untuk melanjutkan sekolah mereka memainkan peranan penting dalam mengurangir resiko tersebut, begitu pula untuk motivasi pendidikan, keterlibatan orang tua, aspirasi untuk anak, aspirasi dari diri sendiri, dan penyesuaian diri yang baik di sekolah. Pengharapan positif untuk masa depan anak yang berasal dari guru, orang tua, diri sendiri, penting untuk merangsang keberhasilan sekolah menengah.

Kondisi sosial ekonomi merupakan faktor resiko utama yang menentukan keberhasilan dalam bersekolah. Aspirasi dari orang tua untuk mendukung pendidikan anaknya yang lebih tinggi, tampaknya menjadi faktor penting bagi anak-anak yang kurang beruntung untuk mencapai pendidikan sekolah. Analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa ada pola yang dimiliki oleh seseorang pada saat dia berada di sekolah menengah menuju tingkat adaptasi dewasa, terutama dalam sektor pendidikan dan dunia kerja. Sekolah menengah, memiliki pengaruh yang lemah berhubungan dengan kesehatan orang dewasa, yang berlangsung dalam fenomena yang sama, yaitu hampir selalu lebih besar diripada hubungan antar variabel yang tidak mirip untuk keluarga yang kurang mampu, sekolah menengah menjadi prediktor penting dari penyeseuaian diri menuju dewasa yang sukses daripada keluarga yang mapan. Mkan anak muda dari keluarga kurang beruntung haus membuktikan diri mereka.

Selanjutnya, di antara individu-individu sosial yang kurang beruntung, dewasa penyesuaian dalam pekerjaan yang berhubungan lebih kuat dengan penyesuaian di bidang kesehatan dari antara rekan-rekan mereka yang lebih istimewa, menunjukkan bahwa sekolah menengah penyesuaian memainkan peran penting di antara yang kurang beruntung secara sosial tidak hanya di penyesuaian memprediksi dewasa berhasil dalam domain dari bekerja tetapi juga dalam pencegahan awal onset penyakit dan tekanan psikologis atau depresi.

Mengapa Perencanaan Kota dan Wilayah Penting?

Perencanaan sesungguhya berkaitan dengan faktor-faktor produksi atau sumber daya yang terbatas, untuk dimanfaatkan mencapai hasil yang optimal sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Dalam hal perencanaan wilayah, pentingnya perencanaan disebabkan faktor-faktor sebagai berikut:

Pertama, banyak di antara potensi wilayah yang terbatas jumlahnya dan juga tidak dapat dapat diperbaharui. Kalaupun ada yang masih mungkin untuk diperbarui akan memerlukan waktu yang cukup lama dan biayanya cukup besar. Bayangkan jika potensi wilayah ini tidak direncanakan penggunaannya dengan baik, maka akan terjadi semacam kepunahan potensi. Potensi yang dimaksud antara lain menyangkut luas wilayah, sumber air bersih yang tersedia, bahan tambang yang sudah terkuras, luas hutan penyangga yang menciut, luas jalur hijau yang menciut, tanah longsor, atau permukaan tanah yang terkena erosi.

Kedua, kemampuan teknologi dan cepatnya perubahan dalam kehidupan manusia. Perencanaan kembali diperlukan agar tidak terjadi perubahan yang tak terkendali. Jika hal itu telah terjadi walaupun kemudian diketahui bahwa hal itu salah, akan sulit untuk mengembalikannya pada keadaan semula yang dapat ditoleransi.

Ketiga, kesalahan perencanaan yang sudah dieksekusi di lapangan sering tidak dapat diubah atau diperbaiki kembali. Hal ini misalnya adanya penggunaan lahan yang tidak terencana ataupun salah dalam perencanaan. Walaupun kemudian diketahui dampaknya negatif tetapi sulit untuk diperbaiki atau ditata kembali. Hal ini terjadi karena dalam penggunaan lahan telah melekat berbagai kepentingan yang tidak ingin dilepas oleh pengguna lahan tersebut. Misalnya, masyarakat yang sudah terlanjur membangun rumah di jalur hijau atau daerah yang terna banjir tahunan.

Keempat, potensi wilayah berupa mberian alam maupun hasil karya manusia di masa lalu adalah aset yang harus dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dalam jangka panjang dan bersifat langgeng. Untuk mencapai hal ini maka pemanfaatan aset itu haruslah direncanakan secara menyeluruh dengan cermat.

Kelima, tatanan wilayah sekaligus menggambarkan kepribadian dari masyarakat yang berdomisili di wilayah tersebut, di mana kedua hal tersebut adalah saling mempengaruhi. Masyarakat yang tidak berdisiplin (tidak mematuhi aturan yang berlaku) cenderung membuat wilayahnya tidak tertata, tetapi di sisi lain wilayah yang tidak tertata juga cenderung membuat masyarakatnya tidak disiplin.


Diambil dari http://fitrawanumar.blogspot.com


Selasa, 16 November 2010

Sejarah Pemikiran Perencanaan

The CITY PATHOLOGICAL (1890-1901)
Permasalahan yang dihadapi adalah munculnya berbagai epidemi penyakit, seperti desentri, pes dan kolera yang diakibatkan oleh buruknya pelayanan sanitasi, di kota-kota besar yang tidak mampu mengantisipasi besarnya tingkat urbanisasi. Penanganannya melalui perbaikan sanitasi lingkungan dan peremajaan permukiman kumuh.

The CITY BEAUTIFUL (1901-1915)
Berkembangnya kota-kota kecil dan menengah menjadi kota besar dan munculnya kota-kota baru, dikembangkan dengan pendekatan perencanaan fisik, yang menghadirkan bangunan-bangunan dan lingkungan yang indah, dengan mengedepankan arsitek sebagai perencananya.

The CITY FUNCTIONAL (1916-1939)
Kota dikembangkan dengan memperhatikan fungsi kota, yang diwujudkan dalan penataan guna lahan yang sesuai dengan kapasitas dan kesesuaian lahan untuk menampung kegiatan penduduknya. Konsep rencana guna lahan dimulai pada era ini.

The CITY VISONARY (1923-1936)
Para perencana dan arsitek mengemukakan berbagai konsep tentang kota masa depan, dan menjadi masukan bagi pengembangan kota dengan tema-tema tertentu. Konsep-konsep kota-kota besar, seperti metropolitan, broadacre city, townless highway dikemukakan pada periode ini. Konsep pengembangan kota dengan mempertimbangkan perencanaan wilayah (regional planning) muncul pada masa ini.

The CITY RENEWABLE (1937-1964)
Pada masa ini, upaya untuk meremajakan kota-kota kuno dan bersejarah sangat diperhatikan. Termasuk memperhatikan kawasan-kawasan permukiman kumuh. Tujuannya adalah untuk memperbaiki lingkungan pusat kota yang mengalami degradasi kualitas.

The CITY GRASSROOTED (1965-1980)
Perhatian yang besar terhadap human rights yang muncul pada masa ini, mendorong munculnya perencanaan pembangunan kota yang lebih memperhatikan masyarakat, khususnya masyarakat pinggiran. Pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan kota secara mulai mengemuka pada masa ini.

The CITY THEORITICAL (1975-1989)
Pada masa ini, banyak perencana yang mengemukakan gagasan, ide, konsepnya tentang pengembangan kota. Perdebatan tentang teori perencanaan mulai mengemuka pada saat ini, dengan terbitnya banyak buku yang mengulas tentang bidang perencanaan kota.

The CITY ENTERPRISING (1980-1989)
Munculnya partisipasi pengusaha swasta yang besar pada pembangunan perkotaan, khususnya pembangunan sarana umum perkotaan, khususnya sarana hiburan. Konsep pembangunan sarana wisata Walt Disney mengemuka pada masa ini dan mempengaruhi kecenderungan pembangunan perkotaan di Amerika dan Eropa.

The CITY OF ECOLOGICALLY NIMBYSM (1980-1989)
Kota-kota berkembang pesat yang berkembang pesat dianggap dapat mempengaruhi keseimbangan lingkungan. Pembuangan sampah yang besar, alih fungsi lahan dan semakin terbatasnya sumber daya alam untuk mendukung kehidupan perkotaan, khususnya air bersih, menyebabkan munculnya perhatian yang besar untuk mengembangkan kawasan perkotaan dengan konsep-konsep lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Pada masa ini, ada upaya untuk mencegah munculnya pendekatan NIMBYS (Not In My Backyards) yang cenderung mengabaikan masalah lingkungan dalam pembangunan perkotaan.

The CITY PATHOLOGICAL REVISITED (1980-1989)
Munculnya berbagai masalah di perkotaan, seperti permasalahan lingkungan, penyakit-penyakit masyarakat, seperti HIV, kanker, sipilis dan sebagainya, menyebabkan perhatian kembalinya upaya untuk mengembangkan dan membangun kawasan perkotaan dengan konsep menangani penyakit-penyakit yang terdapat didalamnya.

Diambil dari Bahan Pengajaran Mata Kuliah Teori Perencanaan, Bapak Hadi Wahyono