Sabtu, 29 Desember 2007

Ibu, Cinta Sejatiku

Bagaimana sosok Ibu di matamu? Ketika seseorang menanyakan hal itu, aku hanya menjawab singkat ‘Ibuku begitu sempurna’. Ya, beliau memang sangat berarti bagiku. Aku menyayangi, dan membanggakannya. Beliau seakan telah menjadi satu dengan jiwaku, bersama – sama melebur hati demi menatap masa yang akan datang.

Ibuku adalah jantungku. Tanpanya … aku ‘kan mati, karena tidak mampu bertahan hidup di dunia ini.

Ibuku adalah pahlawanku. Mengapa aku mengatakan demikian? Ibuku sekalipun tidak pernah mengeluh ketika aku sedang mengalami banyak masalah. Dengan penuh kerelaan … dengan penuh kesabaran …, beliau mendengarkan cerita – ceritaku yang mungkin sangat membosankan, dan kemudian mencari jalan keluarnya untukku. Beliau bagaikan samudra luas yang menyimpan rapat semua rahasia dunia.

Ibuku adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepadaku. Di saat – saat yang sulit, beliau senantiasa menghiburku dan menenangkanku dengan mengatakan bahwa semua akan berlalu seiring dengan berjalannya waktu. Aku percaya padamu, Ibu. Dan, ternyata semua itu benar!

Ibuku adalah pelita yang menerangi gelap malamku. Ketika kabut tebal menutup sinar hatiku yang memang mulai melemah, beliau segera menghampiri dengan penuh kecemasan dan memastikan bahwa aku baik – baik saja. Ibu telah mengusir gelap itu!

Aku sangatlah berhutang budi pada Ibu. Mungkin benar bahwa kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak hanya sepanjang galah. Selama ini, sekalipun belum pernah aku membahagiakan beliau.
Aku selalu saja menyusahkannya dan membebaninya dengan masalah – masalahku. Sayangnya, aku tidak pernah bisa membalas semua kebaikannya.

Ibu, aku tidak dapat membayangkan bagaimana reaksimu, bila anakmu ini tidak pernah bisa memberi arti bagi hidupmu …

Ada malam di lorong – lorong jiwaku
Aku tahu … Ibu ‘kan memanggil mentari untukku

Ada jalan buntu di hadapku
Aku yakin … Ibu ‘kan memecahkan batas itu untukku

Ada hujan membasahi hatiku
Aku mengerti … Ibu kan menyingkirkannya untukku

Ada ombak menyeretku ke tengah lautan
Aku percaya … Ibu ‘kan menarikku kembali

Karena engkaulah cinta sejatiku …

Tidak ada komentar:

Posting Komentar