Jumat, 14 Agustus 2009

Temanku Pengkhianat

Teman
Apa arti seorang teman
Hanya sebagai penghisap
Hanya sebagai penggali
Hanya sebagai perebut

Teman
Aku tak mengerti
Mengapa di dalam tatapmu
‘ku merasa
Aku adalah sebuah kaleng
Ya … kaleng!
yang selesai diminum
langsung dibuang
Tanpa memandang resah derita
dari hatinya

Kuingin teman sejati
Kuragu …
bisakah dia menjawab
Apa aku harus terbang ke surga
untuk mendapatnya

Biarkan aku sendiri!
Mereguk pahitnya nyata
Hingga ‘ku kan lupa
bahwa engkau
telah menebar racun
Menghantam desah jiwaku

Dasar pengkhianat!
Persetan dengan teman
Kini … rasa percaya itu
telah berganti
Dendamku ‘kan melumatmu
jadi serpihan debu
Karena kau buat hatiku
mati

Nekad

Jemari angin kembali menyibak tabir hidupku
Menuangkan anggur cinta ke dalam piala keemasan
Syair yang terlupakan mengalun perlahan
Hina diri ini hingga tenggelam di dasar dunia

Ya, hina saja!
Tak mungkin kutemui mentari,
dalam ruang hampa yang tercipta
Aku ‘kan tertikam dengan sangat panas
Terbakar menjadi serpihan debu
Melayang-layang di angkasa,
tidak bisa pulang ke bumi

Laksana gelap menghitung hari berganti,
merindu sinar
Sekalipun silau ‘kan hapus tubuh ini
Tak ada ketakutan membayang
“Cahayaku, kekasihku, tarik aku
dalam hangat pelukmu”
Dan, begitulah takdir kehidupan

Tolonglah Aku ...

Apa yang terjadi dengan diri ini?

Mengapa angin menarikku
dalam dinginnya pelukan
Membawaku pergi ke lain dunia

Mengapa ombak menghantamku
Menjadi puing-puing kecil
Hancur, hilang tanpa asa

Siapapun, tolonglah …
Bangkitkan aku,
dari derita cinta tak terbalas
Bangunkan aku,
dari mimpi buruk tak berujung

Siapapun, tolonglah …
Bantu aku lupakan dia
Karena dia bukan milikku
Karena dia bukan takdirku
Karena dia adalah kenanganku
yang selalu tersimpan di hati
untuk selamanya

Apa Salahku?

Aku hanya seonggok bayang
bagimu
Kan lenyap menjadi serpih debu
saat tersiram kemilau sang bidadari

Bukit-bukit bermandikan cahaya keperakan
Membawa rahasia sepiku pergi
bersama nyanyian rumput
Bersama bunga dandelion, menari
bersama gemerisik angin

Mentari yang kutunggu
tak pernah terbit
‘tuk hibur aku dalam lingkaran cintaku
Rindu dan cinta dalam sendiri
Apa salahku?

Tuhan, Hapus Dia ...

Tertawa dalam kesedihan
hanya membuat hati semakin terluka
Menertawakan kebodohanku
Percaya akan kekuatan cinta

Dunia menjadi tak lagi ramah bagiku
Membawa kejenuhan
Memberi kepenatan
Bukan kesejukan

Tuhan, hapus dia dalam memori ini
Biar aku dapat kembali terlelap
Bebas dari mimpi buruk tiap malam
yang mengepung,
dalam lingkaran kebencian

30 September 2006

Senin, 10 Agustus 2009

Dirimu

Hariku penuh dengan warnanya
Angan membara tak tersampaikan

Setiap cinta di awang-awang
Takkan bisa menapak di atas bumi

Aku tersentuh oleh dinginnya perasaanmu
Dalamnya hati bersembunyi

Kau selalu katakan
Lewat lembut tatap matamu
Bukan sikapmu

Namun,
kau bangun sekat di antara kita
Kau ciptakan dinding tinggi menjulang
Hingga, mustahil ‘ku mampu
menghancurkannya

Haruskah kulawan segala penghalang?
Tabrakkan diri menuju
Walaupun ‘ku kan terluka
Dan, inilah kekuatan cinta

2 Mei 2007

Dia, Ada ...

Dia, ada …
Di antara kunang-kunang yang menari
Di antara padang bunga matahari
Di antara alam yang menyuarakan asa

Dia, ada …
Tersembunyi di balik bingkai awan
Tertutup debur ombak memecah karang
Seakan menghilang, tapi dia
tidak menghilang

Dia, ada …
Menjelma menjadi merpati
Melambai pada setetes embun
di rerumputan
Memainkan dawai senja untuk dirinya

Walau ‘ku lelah mencari
Aku bahagia
Kebahagiaan ini terukir dalam
menghentak-hentak hatiku, yang tengah
terombang-ambing dalam
samudra ketidakpastian

16 Mei 2007

Dedaunan

Kulihat,
Dedaunan yang merindukan
dekapan kasih sayang
dari sang embun
yang kini telah pergi
bersama mentari pagi

Kutatap,
dedaunan yang berdesir lembut
oleh sentuhan sang bayu
yang kini telah berubah
menjadi gelombang badai

Kutahu,
Perasaan dedaunan yang tumbuh subur
Karena tersiram oleh melodi nada cinta
dari sang kekasih
Namun, rasa itu kini telah mati
Tanpa membawa setetes harapan
‘tuk menjulang tinggi ke angkasa

Kejamnya Cinta

Aku berjalan sendirian
menembus kepekatan malam
Sunyi dan dingin
Selalu mengingatkanku
pada sosok itu
Sosok yang menhantuiku
kemanapun aku bersembunyi
Berusaha melupakannya

Dia …
Dialah yang kurindukan
yang selalu kuimpikan

Namun, apa yang kudapat?
Hanyalah harapan kosong
‘tuk memilikinya
Ilusi hampa tak bernyawa

Sia-sia kumenanti dekapannya
Kehangatan napasnya
Kuingin menangis, berteriak
tumpahkan segala gundah dan lara ini

Benarkah cinta tak pernah salah?
Cinta datang di setiap hati manusia
Tak kenal waktu dan ruang
Kadang membawa nikmat,
kadang membawa duka
mendalam
Perih terasa …

Aku
Apalah arti diriku
Aku telah menjadi korban cinta itu
Mengapa harus aku?
Mengapa cinta terasa sungguh kejam?
Mengapa?

Nafas Kematian

Helaian nyawaku hilang sudah
Hancur ditepis getar gelombang darimu
Tubuhku tergolek di sini,
mengais sisa harap setipis kabut
Jiwaku bebas berkelana
Menjemput fajar memerah
yang mengintip malu dari balik bukit
serta
terbang, mencium pipi setiap jengkal dunia

Air mata embun menitik jatuh,
sebelum menguap hancur oleh mentari
Dan, daun hanya mampu memandang bisu
Ikut menundukkan rangkaian kepedhan
Melantunkan himne sesaat

Tangan-tangan dingin itu
Tangan-tangan yang kesepian
Mencengkeramku dalam tajam cakranya
Percuma meronta menggapai cita
Tubuhku mulai hilang wujud
Aku takut!

Oh, kegelapan telah ada di hadapanku
Tercipta oleh kehampaan lorong hati
Siap melantunkan bujuk rayunya
Menyemaikan senyum dalam beku,
nafas kematian

19 Oktober 2006