Selasa, 02 Maret 2010

Krisis dan Bank Dunia

Ada yang menganggap bahwa Bank Dunia lebih sebagai “Si Tangan Besi” daripada “Dewa Penolong”. Pinjaman hanya diberikan bila negara pengutang menurunkan nilai nominal utang luar negerinya, juga bila perusahaan negara diprivatisasi, dan bila pasar negara tersebut dibuka lebar. Bagi negara berkembang hal ini seringkali menandakan adanya peningkatan pengangguran dan disunatnya bantuan sosial. Demo dan mogok makan yang memprotes syarat-syarat tersebut telah banyak memakan korban. Akan tetapi, yang menjadi masalah terbesar adalah tanpa preferensi dari Bank Dunia dan IMF, semua lembaga keuangan dunia, termasuk swasta, akan menghentikan kucuran dananya.

Negara berkembang pasti hanya gigit jari saja, jika negara maju menghentikan semua bantuan dananya, termasuk juga Indonesia, yang menurut saya masih belum pulih benar dari krisis multidimensional yang melanda pada tahun 1997. Memang, negara kita tercinta seperti disuruh untuk makan buah simalakama. Bagaimana tidak? Pilihan yang dimiliki sama-sama sulit. Pada suatu sisi, tanpa bantuan dari Bank Dunia, Indonesia akan mengalami kesulitan keuangan yang teramat sangat, tetapi di sisi lain … jika Indonesia menerima bantuan dana (alias hutang) dari Bank Dunia, maka hal itu sebenarnya malah sama saja dengan menghancurkan stabilitas negara secara perlahan, tetapi pasti. Susahnya jadi anak Indonesia … setiap bayi yang baru saja terlahir ke dunia di tanah air Indonesia telah menanggung hutang hampir 10 juta (itu dulu, kalo sekarang saya tidak tahu).

Hingga pada akhirnya, Indonesia pun menerima segala persyaratan yang diajukan oleh Bank Dunia. Memang susah sebenarnya mengambil keputusan tersebut. Namun, mungkin saja pemerintah memiliki berbagai pertimbangan. Walaupun, akibatnya sekarang ini cukup fatal. Salah satunya terlihat dari privatisasi PDAM di Jakarta. PDAM Kota Jakarta diharuskan untuk berbagai saham dengan Palija dari Perancis dan Tamija dari Inggris. Hingga hasilnya sekarang ini … PDAM mengalami kerugian setiap tahun yang jumlahnya semakin membengkak setiap tahun. Palija dan Tamija pun ternyata belum mampu menyediakan kebutuhan air bersih bagi masyarakat Jakarta, begitu pula pelayanannya yang ternyata kurang memadai. Hal ini pun meningkatkan beban negara yang sudah berat menjadi tambah berat …

Genuk Kemiri

Genuk Kemiri merupakan salah satu di antara belasan objek wisata yang “menarik” di Kabupaten Pati. Menarik? Sebenarnya, saya ga sepakat dengan kata menarik itu. Hmm, sebenarnya apa yang menarik dari objek wisata yang ada di kabupatenku? Duh, sebenarnya saya tidak mau menjelek-jelekkan, tetapi saya sedang berbicara tentang kenyataan hidup. Apa sih yang membuat Pati menarik dengan objek wisata yang sangat-sangat minimalis sekali? Cuma ada gua – itupun sudah mulai berkarat, ada waduk – yaa, masih bagus lah, ada genuk – cukup unik, dan sebagainya. Akan tetapi, masalah terbesarnya adalah … semua itu ga satu2nya ada di dunia ini. Gua, genuk, ataupun waduk juga bisa ditemui di daerah lain, dan tidak perlu jauh-jauh datang ke Kabupaten Pati. Malah, dengan fokus objek yang sama, kondisinya lebih bagus di daerah lain. Bagaimanakah ini? Kabupaten Pati BELUM punya suatu objek wisata yang khas, yang bisa menandakan bahwa itulah Pati. Wah, Kabupaten Pati memang ga bisa mengandalkan pemasukannya dari sektor pariwisata. Seandainya saja Candi Borobudur dipindahkan ke Kabupaten Pati? Atau, seandainya saja ditemukan tambang emas atau tambang minyak atau tambang batu bara di kabupatenku, pasti akan laen ceritanya. Hehe, saya memang sedang mengkhayal …

Sumber : Hasil Dokumentasi Pribadi, 2009
Gambar 1.1
Genuk Kemiri

Sumber : Hasil Dokumentasi Pribadi, 2009
Gambar 1.2
Ruang Tempat Genuk Kemiri Berada

Yuk, saya balik lagi ke bahasan sebelumnya, yaitu Genuk Kemiri. Genuk, atau yang biasa disebut sebagai tempayan (dalam http://dadilimbuksik.multiply.com) merupakan sejenis keramik yang digunakan untuk upacara-upacara tertentu di kalangan masyarakat Bidayuh, Iban, Kenyah, Murut dan sebagainya. Walah, saya ga mengerti apa itu Bidayuh, Iban, Kenyah, Murut. Ya mpun lah, mari kita lewati saja.

Gambaran Umum Genuk Kemiri
Berdasarkan gambaran umum yang saya ambil dari beberapa situs internet, maka Genuk Kemiri memiliki lokasi yang ditengarai bekas pusat pemerintahan Kadipaten Pati, sebelum dipindahkan ke Kampung Kaborongan, Kelurahan Pati Lor hingga sekarang, semula berupa tanah kosong yang banyak ditumbuhi pohon besar dan rumpun bambu. Bagian depan masuk lokasi tersebut terdapat pohon beringin tua. Kawasan itu mulai ditata dan diperindah, ketika masa Pemkab Pati dijabat Bupati Sunardji. Selain dipasang tembok pembatas keliling, bekas bangunan pendapa kabupaten juga dipindahkan ke lokasi tersebut, sehingga pada setiap peringatan HUT Pati yang tiap tahun jatuh pada 7 Agustus, pendapa berfungsi sebagai tempat malam tirakatan.

Sumber : Hasil Dokumentasi Pribadi, 2009
Gambar 1.3
Pohon Beringin di Area Objek Wisata Genuk Kemiri

Di belakang sisi utara pendapa terdapat cungkup mirip sebuah makam. Di dalam bangunan itulah terdapat sebuah genuk (tempayan) yang dikenal sebagai Genuk Kemiri yang kondisinya sudah tidak utuh lagi karena pecah. Di lokasi genuk itu, biasanya dijadikan tempat orang untuk ngalap berkah. Pada sisi belakang pendapa terdapat makam tua yang diyakini warga sebagai makam sesepuh Kemiri.

Sumber : Hasil Dokumentasi Pribadi, 2009
Gambar 1.4
Tulisan Jawa yang Terdapat di Depan Ruangan Makam

Sejak dipindahkan bekas bangunan pendapa kabupaten, tempat tersebut bila malam tidak gulita karena diberi penerangan listrik. Selain itu, Balai Desa Serirejo juga sudah dipindahkan ke lokasi tersebut. Balai Desa Sarirejo memiliki bentuk yang unik dengan ukiran yang memenuhi sisi atap dan tiang penyangga. Lantai nya pun mewah dan modern, berupa keramik merah.
Sumber : Hasil Dokumentasi Pribadi, 2009
Gambar 1.5
Kantor Desa Sarirejo

Sumber : Hasil Dokumentasi Pribadi, 2009
Gambar 1.6
Balai Desa Sarirejo


Sumber : Hasil Dokumentasi Pribadi, 2009
Gambar 1.7
Ukiran di Balai Desa Sarirejo

Aksesibilitas

Untuk mencapai ke objek wisata Genuk Kemiri, maka dapat ditempuh dengan berjalan kaki ataupun naik kendaraan bermotor, misalnya sepeda motor, mobil, dan truk. Untuk kendaraan berat (seperti bus, truk kontainer) tidak dapat masuk, karena letak Genuk Kemiri berada di dalam gang, yaitu di tengah-tengah permukiman penduduk yang cukup padat. Adapun, jalan di depan Genuk Kemiri telah beraspal (walaupun ga mulus-mulus amat) dengan lebar kira-kira 3-4 meter (jalan lingkungan).

Isi
Isi apa ini? Hehe, tentu saja isi dari objek wisata Genuk Kemiri, bagaimana keadaan di dalamnya, ada penjaganya atau tidak, dan lain sebagainya. Nah, Genuk Kemiri ini terletak di dalam suatu ruangan yang dikeramatkan, dimana hanya penjaganya (ga tahu namanya siapa? Maksudnya, jika penjaga makam dinamakan juru kunci, kalau penjaga Genuk Kemiri disebut apa ya???) yang memiliki kunci untuk membuka ruangan yang berisi Genuk Kemiri tersebut. Yang dinamakan Genuk Kemiri ternyata adalah sebuah lubang berisi air yang di atasnya diberi kelambu dan terdapat pula kemenyan. Hal itu menandakan betapa keramatnya Genuk Kemiri. Mungkin saja, banyak orang yang percaya bahwa air dalam genuk tersebut banyak mengandung berkah (walaupun saya sendiri kurang percaya akan hal tersebut).

Kemudian, penjaga Genuk Kemiri tersebut bernama Bapak Slamet, yang telah bertahun-tahun diberikan amanah untuk menjadi juru jaga tempat tersebut. Beliau pun sudah berpengalaman, bahkan beliau juga menceritakan rentetan kisah panjang tentang asal muasal terjadinya Genuk Kemiri. Sebagai generasi muda, waduh, saya tidak begitu paham dengan cerita beliau. Namun, cerita tersebut sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut, melibatkan banyak sekali tokoh pada saat Kabupaten Pati mulai terbentuk. Selain melihat Genuk Kemiri, Bapak Slamet mengajak kami berdua (pada saat mengunjungi Genuk Kemiri, saya bersama ibu saya …, keleatan banget kalo anak mami) mengunjungi makam Joyokusumo, yang tidak berada terlalu jauh dengan Genuk Kemiri. Huff, di dalam ruangan yang merupakan makam tersebut, saya takut banget. Rasanya merinding ga karuan. Yah, bagaimana lagi … lha, pada saat itu saya bersama makam, sih. Di dinding di ruangan tempat makam tersebut berada, digantungkan beberapa pigura, salah satunya adalah silsilah keluarga Kerajaan Pesantenan Pati. Sayangnya, silsilah tersebut ditulis oleh tangan, seandainya dicetak dengan printer pasti hasilnya akan lebih maksimal.

Sumber : Hasil Dokumentasi Pribadi, 2009
Gambar 1.8
Bapak Slamet, Penjaga Genuk Kemiri

Sumber : Hasil Dokumentasi Pribadi, 2009
Gambar 1.9
Silsilah Kerajaan Kadipaten Pati

Sumber : Hasil Dokumentasi Pribadi, 2009
Gambar 1.10
Makam Joyokusumo

Bapak Slamet pun bercerita bahwa telah menjadi kebiasaan yang turun temurun, jika Bupati dan Wakil Bupati yang terpilih pasti akan mengunjungi (sowan) ke Genuk Kemiri, mungkin untuk meminta restu. Saya tahu perbuatan tersebut dilarang oleh agama, tetapi hal itu tidak bisa terlepas dari istilah Islam Kejawen yang tidak bisa ditinggalkan oleh penganutnya. Setiap ada masalah yang menimpa Kabupaten Pati, misalnya demo memprotes kenaikan tarif PDAM, maka beberapa saat kemudian, demo tersebut sirna dan tidak lagi terdengar gaungnya. Menurut Bapak Slamet, pada saat terjadi situasi genting, maka Bupati Pati yang saat itu sedang berkuasa sowan ke Genuk Kemiri (biasanya Bupati Pati datang pada pukul 2 malam). Genuk Kemiri sudah dianggap sebagai “Danyang Kabupaten Pati”.

Kamis, 18 Februari 2010

Visi dan Misi Kabupaten Pati (II)

Pencapaian tujuan suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh visi yang telah ditetapkan, yang merupakan gambaran tujuan jangka panjang secara abstrak yang ingin diwujudkan. Untuk mewujudkan visi tersebut, maka dibuatlah misi yang merupakan cerminan dari langkah-langkah konkrit yang hendak dicapai. Oleh karena itu, visi dan misi harus bersifat rasional dan disesuaikan dengan kemampuan serta kondisi organisasi yang bersangkutan.

Berdasarkan Peraturan Bupati Pati Nomor 25 Tahun 2006 tanggal 1 Desember 2006 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Pati tahun 2006-2011, dan dalam rangka menghadapi pelaksanaan otonomi daerah, maka visi Kabupaten Pati adalah “Terwujudnya Pati Bumi Mina Tani, Berbasis Keunggulan Pertanian dan Industri yang Berkelanjutan”.

Pelaksanaan visi tersebut ditunjang oleh beberapa misi, antara lain:
a. Mengembangkan pengamalan nilai-nilai agama untuk peningkatan kualitas keimanan dan ketaqwaan berbasis kemajemukan masyarakat.
b. Menciptakan sistem pemerintahan yang baik dan demokratis melalui peningkatan profesionalisme aparatur dan lebih dekat kepada rakyat, serta bebas korupsi, kolusi dan nepotisme.
c. Mewujudkan peningkatan kualitas SDM melalui pemerataan pelayanan pendidikan, peningkatan derajat kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.
d. Membangun ekonomi kerakyatan dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya kelautan dan pertanian.
e. Meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
f. Mendorong berkembangnya industri melalui optimalisasi potensi lokal dengan mewujudkan iklim investasi yang kondusif dan berkesinambungan.

Meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Sarana merupakan fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan sosial, ekonomi dan budaya. Sedangkan, prasarana adalah kelengkapan dasar fisik suatu lingkungan, kawasan, kota atau wilayah (spatial space) sehingga memungkinkan ruang tersebut berfungsi sebagaimana mestinya. Pembangunan sarana di Kabupaten Pati yang sudah menampakkan hasilnya dan dapat kita lihat sekarang ini adalah pembangunan jalan lingkar selatan. Pembangunan jalan lingkar tersebut bertujuan untuk memindahkan jalur pantura yang semula melewati tengah kota, sehingga tengah kota tidak lagi tercemar oleh polusi suara maupun udara, dan tidak lagi membahayakan pengemudi kendaraan. Namun, sayangnya … pembangunan jalan lingkar selatan tersebut baru selesai sebagian. Truk-truk besar masih saja melewati tengah kota, baik untuk menuju Kota Semarang maupun Surabaya. Menurut saya, infrastruktur jalan merupakan infrastruktur yang paling penting dibandingkan dengan yang lainnya. Jalan yang bagus dan lebar, seperti Jalan Semarang – Demak, akan memudahkan pendistribusian barang dan jasa. Walaupun pembangunan maupun perbaikan jalan membutuhkan dana yang cukup besar, tetapi dampak multiplier effect nya akan terasa kemudian.

Hmm, selain jalan lingkar selatan, ada satu hal penting yang juga patut untuk mendapatkan perhatian dimana semua orang, khususnya penduduk Kabupaten Pati, pun mengetahuinya. Pembangunan sarana dan prasarana yang ada sangat sangat terpusat di Kecamatan Pati yang tentu saja berperan sebagai ibukota dari Kabupaten Pati. Berbagai macam fasilitas hiburan, seperti Stadion Joyokusumo, Alun-Alun Kota Pati, Taman Hutan Kota Pati, dan lain sebagainya … semuanya terletak di Kecamatan Pati. Belum lagi macam-macam tempat perbelanjaan yang tersebar di sepanjang Jalan Panglima Sudirman. Sebenarnya, apabila dilihat dengan tidak sungguh-sungguh pun, hal tersebut tidak adil bagi kecamatan lain di Kabupaten Pati. Begitu pula dengan SMA Negeri 1, 2, dan 3 Pati yang tentu saja menjadi favorit bagi pelajar di Kabupaten Pati, yang ditandai oleh banyaknya anak-anak yang berasal dari kecamatan lain yang merelakan diri berpisah dengan keluarga (nge-kos) untuk dapat mengasah ilmu di ketiga sekolah tersebut. Intinya adalah terjadi disparitas yang cukup parah antara Kecamatan Pati dengan 20 kecamatan lain yang ada di Kabupaten Pati.

Ada suatu model pembangunan yang bernama growth center, yang berbicara bahwa pemerintah sebaiknya membangun daerah yang yang memiliki potensi yang tinggi, seperti daerah yang menjadi pusat ekonomi, pemerintahan, perdagangan dan jasa, yang kemudian diharapkan daerah tersebut dapat menyebarkan pengaruhnya ke daerah-daerah sekitarnya. Pemerintah memang harus memilih satu diantara dua pilihan, pemusatan ataukah pemerataan? Pemikirannya dulu … pemusatan akan berdampak pada pemerataan. Akan tetapi, entah kapan hal tersebut akan terjadi, apalagi mengingat bahwa Kabupaten Pati adalah sebuah kabupaten yang belum semaju kabupaten tetangga-tetangganya. Kudus memiliki industri rokok, Rembang sekarang terkenal dengan pengembangan good governance-nya, Jepara unggul dalam ukirannya.

Saya kagum dengan pembangunan sarana dan prasarana Demak yang sekarang ini. Menurut Bapak, sejak memiliki Bupati baru yang memiliki latar belakang pendidikan perencanaan kota, maka Demak menjadi lebih maju. Jalan pantura diperbaiki … bagus banget sekarang (saya sampai kaget ketika mau pulang ke Pati setelah tidak bisa pulang selama sebulan dan terkungkung di Semarang), di pinggir jalan tersebut ada trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki (berarti memanusiakan manusia, hehe …), pasar-pasar direnovasi menjadi lebih tertata dan keliatan rapi dengan cat yang berwarna-warni, dan mungkin pembangunan yang lainnya akan menyusul. Seperti juga Walikota Surakarta yang berhasil menyelesaikan permasalahan permukiman kumuh dengan cara damai, bukan dengan penggusuran semata.

Saya pun kemudian menjadi iri … kenapa ya Kabupaten Pati setidaknya tidak bisa meniru Demak? Padahal, jalan lingkar selatan saja dibangun terlebih dahulu dibandingkan dengan perbaikan Jalan pantura Semarang – Demak. Yang justru berkembang adalah pembangunan karaoke-karaoke yang marak dan mulai dipusatkan di sekitar Pasar Wagenan, Kecamatan Margorejo. Saya sedih … kenapa bisa Pati dijuluki kota seribu karaoke? Tidaklah apa-apa jika sebutan tersebut bernada positif. Sayangnya, semua itu bernada negatif, dan bisa-bisa di kemudian hari terkenal pula akan wisata sex-nya. Semua itu, sungguh-sungguh memprihatinkan. Kotaku … kampungku … tempat tinggalku … tanah kelahiranku …

Selasa, 19 Januari 2010

Morfologi

Morfologi didefinisikan sebagai ilmu tentang roman muka bumi beserta aspek-aspek yang mempengaruhinya. Pada dasarnya, morfologi mempelajari bentuk-bentuk bentang alam, bagaimana bentang alam tersebut terbentuk secara konstruksional dan bagaimana bentang alam tersebut dipengaruhi oleh pengaruh dari luar berupa gaya eksogen seperti pelapukan, sedimentasi, air, angin, dan es sebagai agent yang mengubah batuan/tanah membentuk bentang alam yang destruksional dan menghasilkan bentuk-bentuk alam darat tertentu (landform).

Pada kenyataannya bentuk daratan dari bumi ini tidak rata tetapi berlekuk-lekuk yang menyerupai sebuah cekungan. Hal ini dikarenakan oleh tenaga yang berasal dari dalam bumi itu sendiri dan tenaga yang berasal dari luar bumi. Dalam kamus geografi, tenaga yang berasal dari dalam bumi sering disebut dengan tenaga endogen, sedangkan yang berasal dari luar bumi disebut tenaga eksogen.

1. Tenaga Endogen
Tenaga endogen merupakan semua proses yang berasal dari dalam bumi, seperti aktivitas tektonik berupa pembentukan pegunungan, perlipatan dan pensesaran, aktivitas magmatis, dan aktivitas vulkanisme seperti pembentukan gunung api, letusan gunung api, dan aliran lava.
Tenaga ini biasanya memberikan bentuk pada permukaan bumi dan bersifat konstruktif. Adapun sumber-sumber dari tenaga endogen ini sebagai berikut:

A. Tektonisme
Tektonisme adalah aktivitas yang berasal dari pergerakan lempeng-lempeng yang ada pada kerak bumi (lithosphere). Tektonisme merupakan tenaga endogen yang dapat menyebabkan perubahan letak atau pergeseran lapisan kulit bumi.
a) Patahan
Gerakan pada lapisan bumi yang sangat besar dan berlangsung dalam waktu yang sangat cepat akan menyebabkan lapisan kulit bumi retak atau patah. Hal ini juga dapat terjadi apabila ada tekanan horizontal sangat kuat, kulit buminya tidak elastis, dan disertai tekanan secara vertikal. Bagian muka bumi yang mengalami patahan adalah graben dan horst. Horst adalah patahan naik dan graben adalah patahan turun.
b) Lipatan
Apabila terjadi gerakan pada lapisan bumi yang tidak terlalu besar dan berlangsung dalam waktu lama akan menyebabkan lapisan kulit bumi berkerut atau melipat. Lipatan ini nantinya akan menjadi pegunungan. Punggung lipatan dinamakan antiklinal, daerah lembah (sinklinal) yang sangat luas dinamakan geosinklinal.

B. Aktivitas Magmatis
Aktivitas magmatis adalah segala aktivitas magma yang berasal dari dalam bumi. Pada dasarnya, aktivitas magma dipengaruhi oleh aktivitas tektonik seperti tumbukan lempeng. Produk dari aktivitas magma dapat menghasilkan batuan beku, baik batuan beku intrusif maupun batuan beku ekstrusif.


2. Tenaga Eksogen
Tenaga eksogen adalah tenaga yang berasal dari luar bumi yang berpengaruh terhadap relief permukaan bumi. Tenaga ini berupa sinar matahari, pemanasan, pendinginan, hujan, air, angin, gelombang laut, dan makhluk hidup. pada umumnya, tenaga eksogen bersifat merusak bentukan-bentukan yang telah dibangun oleh tenaga endogen. Menurut Noor (2005: 18-24) yang termasuk tenaga eksogen adalah :
a. Pelapukan
Pelapukan merupakan proses desintegrasi atau dekomposisi material penyusun kulit bumi berupa batuan. Pelapukan dapat dipengaruhi oleh kondisi iklim, suhu, serta komposisi kimia penyusun batuan. Salah satu hasil dari pelapukan batuan adalah tanah.
b. Erosi dan Mass Wasting
Merupakan proses pengikisan yang terjadi pada batuan maupun hasil pelapukan batuan (tanah) oleh media angin, air, serta gletser.
c. Sedimentasi
Suatu proses pengendapan material yang diangkut oleh media air, angin, gletser di suatu cekungan.

Tata Guna Lahan

Tata guna lahan adalah sebuah pemanfaatan lahan dan penataan lahan yang dilakukan sesuai dengan kodisi eksisting alam. Tata guna lahan berupa:

Kawasan permukiman
Kawasan permukiman ini ditandai dengan adanya perumahan yang disertai prasana dan sarana serta infrastrukutur yang memadai. Kawasan permukiman ini secara sosial mempunyai norma dalam bermasyarakat. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 0-15% (datar hingga landai).

Kawasan perumahan
Kawasan perumahan hanya didominasi oleh bangunan-bangunan perumahan dalam suatu wilayah tanpa didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 0-15% (datar hingga landai).

Kawasan perkebunan
Perkebunan ini ditandai dengan dibudidayakannya jenis tanaman yang bisa menghasilkan materi dalam bentuk uang. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 8-15% (landai).

Kawasan pertanian
Kawasan pertanian ditandai oleh adanya jenis budidaya satu tanaman saja. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 8-15% (landai).

Kawasan ruang terbuka hijau
Kawasan terbuka hijau ini dapat berupa taman yang hanya ditanami oleh tumbuhan yang rendah dan jenisnya sedikit. Namun dapat juga berupa hutan yang didominasi oleh berbagai jenis macam tumbuhan. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 15-25% ( agak curam ).

Kawasan perdagangan
Kawasan perdagangan ini biasanya ditandai dengan adanya bangunan pertokoan yang menjual berbagai macam barang. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 0-8% ( datar )

Kawasan industri
Kawasan industri ditandai dengan adanya proses produksi baik dalam jumlah kecil maupun dalam jumlah besar. Kawasan ini sesuai pada tingkat kelerengan 8-15% ( hingga landai ).

Kawasan perairan
Kawasan perairan ini ditandai oleh adanya aktifitas perairan, seperti budidaya ikan, pertambakan, irigasi, dan sumber air bagi wilayah dan sekitarnya.

Analisis Agregat dan Analisis Intrawilayah dalam Teori

Analisis Agregat (Agregate Regional)
Analisis agregat digunakan untuk mengetahui gambaran umum konstribusi perkembangan perekonomian suatu wilayah kepada wilayah lain yang lebih luas dimana wilayah tersebut berada pada satu tempat. Dengan demikian, analisis agregat dapat digunakan untuk melihat wilayah sebagai replika dari nasional dengan modifikasi, wilayah dipandang sebagai sebuah unit dalam konteks ruang yang lebih luas.

Dengan analisis agregat kita dapat mengetahui bagaimana tingkat, sumber dan distribusi pendapatan dan tenaga kerja yang terdapat dalam suatu wilayah, data ini sangat penting untuk melihat gambaran umum keadaan perekonomian suatu wilayah dan bagaimana setiap sektor perekonomian menyumbangkan pendapatannya dalam pendapatan suatu wilayah.

Melalui data tingkat pendapatan yang dianalisis melalui analisis agregat, kita juga dapat mengetahui bagaimana komposisi sektor ekonomi berkonstribusi dalam perkembangan perekonomian wilayah tersebut, sehingga kita dapat mengetahui jumlah faktor – faktor produksi (investasi, tenaga kerja) yang tersedia dan bagaimana kualitasnya.

Seluruh data-data tersebut memiliki keterkaitan satu sama lain, terutama antar sektor ekonomi (backward forward linkage) yang dapat menunjukan pola perubahan aspek-aspek ekonomi dan perbandingan aspek-aspek tesebut terhadap aspek yang terdapat di nasional dan wilayah lain.

Pola perubahan aspek-aspek ekonomi yang terjadi memliki sifat dan intensitas aliran faktor-faktor produksi yang terjadi antarwilayah. Dalam analisa agregat hal ini tidak mendapat perhatian yang khusus, akan tetapi dalam pola tersebut terdapat konsekuensi yang terjadi dari adanya aliran-aliran faktor produksi yang berdampak terhadap perkembangan perekonomian wilayah.

Peran pemerintah dalam perkembangan perekonomian yang dilihat melalui analisis agregat sangat penting, terutama dalam menentukan kebijakan publik, dan administrasi yang berpengaruh terhadap kinerja perekonomian wilayah. Oleh karena itu pola perubahan aliran faktor produksi dan tingkat pendapatan sangat dipengaruhi kebijakan instusional yang berkaitan dengan bagaimana potensi masalah dan peluang yang dapat dilihat dalam upaya pengembangan kondisi perekonomian suatu wilayah di masa depan. Kebujakan pemerintah juga sangat berpengaruh dalam melihat konsekuensi dari kebijakan ini dalam kaitan dengan wilayah lain.

Analisis Intrawilayah
Analisis intrawilayah merupakan salah satu jenis analisis yang melihat secara lebih mendalam apa yang ada di wilayah. Wilayah dilihat sebagai sebuah unit atau penjumlahan dari elemen-elemen yang ada di dalamnya.

Dalam analisis intarawilayah ini, hal yang disoroti adalah bagaimana karakteristik dari tempat-tempat dalam suatu wilayah dan bagaimana interaksi yang terjadi di dalamnya. Analisis dilakukan lebih dalam pada setiap komponen yang ada di dalamnya. Jadi, analisis ini memandang suatu wilayah sebagai kumpulan dari wilayah-wilayah lain yantg skalanya lebih sempit serta masing-masingnya memiliki aktivitas dan karakteristik sendiri-sendiri. Analisis intrawilayah suatu kotamadya berarti menyoroti pokok analisis pada kecamatan-kecamatan yang ada di dalamnya, analisis intrawilayah suatu provinsi berarti menyoroti pokok analisis pada kabupaten-kabupaten yang ada di dalamnya, dan seterusnya.

Contoh hal yang dibahas dalam suatu analisis intarawilayah yaitu bagaimana karakteristik ekonomi di subwilayah dan bagaimana perbandingan diantaranya, bagaimana tingkat pendapatan pada masing-masing subwilayah dan bagaimana kontribusi masing-masingnya terhadap wilayah, bagaimana tingkat konsentrasi dan spesialisasi sektor-sektor ekonomi pada masing-masing subwilayah, dan lain-lain.

Senin, 18 Januari 2010

Kemiskinan dan Kualitas SDM di Kabupaten Pati

Saya termasuk salah satu orang yang beruntung. Bagaimana tidak? Saya bisa bersekolah hingga masuk ke salah satu perguruan tinggi negeri, saya bisa makan hingga 10 kali sesuka saya, bisa membeli baju satu bulan sekali kalau saya mau, bisa bermain-main dengan notebook setiap waktu, dan bisa … bisa … bisa lainnya. Namun, semua itu terjadi karena adanya dukungan finansial dari orang tua. Tanpa mereka, saya tidak akan mampu menjalani hidup.

Satu hal yang selalu mengganggu nurani saya. Saya tidak bisa adil. Ketika sedang lapar dan makanan belum tersedia, seringkali saya berpikir tentang kaum duafa. Apakah mereka bisa makan hari ini? Bagaimana jika mereka tidak mendapatkan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari? Akan tetapi, ketika makanan telah terhidang, saya menjadi lupa pada mereka. Pikiran saya seketika berubah menjadi “masa bodoh dengan nasib mereka”. Lalu, apakah saya ini tergolong sebagai penjahat?

Kabupaten Pati dan Kemiskinan
Salah satu dosen saya pernah membacakan daftar perkembangan wilayah kabupateb/kota di Provinsi Jawa Tengah. Hasilnya, tidaklah mengejutkan. Sebagai ibukota provinsi, Kota Semarang merupakan satu-satunya kota yang memiliki perkembangan wilayah yang pesat. Untunglah, Kabupaten Pati tidak terpuruk di peringkat bawah. Kabupaten ini berada pada tingkat perkembangan wilayah yang sedang-sedang saja. Tidak lambat, tetapi juga tidak cepat. Hmm, bisa dibilang kecepatannya mencapai 60 km/jam jika kita sedang mengendarai sepeda motor.

Berdasarkan data yang saya peroleh di BPS (Provinsi Jawa Tengah dalam Angka, 2007), penduduk miskin di Kabupaten Pati pada tahun 2002, 2003, dan 2004 adalah sebagai berikut.

Tabel I.1
Jumlah Penduduk Miskin di Kabupaten Pati 2002-2004
Sumber : BPS Kabupaten Pati, 2006

Sedangkan, untuk presentase penduduk miskin dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

Sumber : Hasil Analisis Penulis, 2009
Gambar 1.1
Presentase Penduduk Miskin Kabupaten Pati 2002-2004


Dari grafik di atas, dapat kita ketahui bahwa pada tahun 2003 terjadi penurunan presentase penduduk miskin sebesar 1.85% dari tahun sebelumnya. Akan tetapi, angka ini naik sebesar 0.01% pada tahun 2004. Jadi, sekitar 2500 penduduk yang tergolong tidak miskin mengalami perubahan status menjadi miskin pada tahun 2004. Jumlah tersebut kecil apabila kita mengingat total jumlah penduduk Kabupaten Pati yang mencapai 1,1 juta.

BPS juga mengeluarkan indikator kemiskinan yang digunakan untuk menilai keluarga miskin yang layak menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT). Indikator kemiskinan tersebut, meliputi :
• Luas lantai bangunan tempat tinggal bangunan kurang dari 8 m2 per orang.
• Jenis lantai bangunan tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan.
• Jenis dinding tempat tinggal terbuat dari bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester.
• Tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah tangga lain.
• Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.
• Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air hujan.
• Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah.
• Hanya mengkonsumsi daging/susu/ayam satu kali dalam seminggu.
• Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun.
• Hanya sanggup makan sebanyak satu/dua kali dalam sehari.
• Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas /poliklinik.
• Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah petani dengan luas lahan 0.5 ha, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp 600.000,- per bulan.
• Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga tidak sekolah/tidak tamat SD/hanya SD.
• Tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan nilai Rp 500.000,- seperti sepeda motor (kredit/non-kredit), emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.

Namun, 2500 jiwa ini tidak boleh dipandang remeh begitu saja. Apabila diasumsikan bahwa setiap keluarga memiliki 4 anggota, maka dapat dikatakan bahwa terdapat 650 KK yang menderita kemiskinan. Dengan total 247.900 jiwa penduduk miskin, saya agak sanksi dengan upaya pemerintah kabupaten untuk mengatasi permasalahan ini. Ya, berat juga sih …

Kemudian, presentase penduduk miskin di Kabupaten Pati pada 2002 – 2004, masih selalu berputar-putar pada angka 20%. Nyawa lebih dari 200 ribu penduduk dipertaruhkan di sini. O ya, hampir lupa. Batas kemiskinan memang meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan oleh adanya inflasi yang terjadi dalam lingkup nasional, bukan karena adanya peningkatan taraf hidup masyarakat. Kita pasti sudah paham betul apabila terjadi kenaikan harga barang-barang kebutuhan dan sektor jasa. Misalnya saja, apabila kita membeli gorengan Rp. 1000 dapat 3, tahun berikutnya bisa-bisa kita hanya mendapat 2 potong saja. Itupun dengan ukuran yang lebih kecil daripada sebelumnya. Maklum, saya ini hobinya makan gorengan …

Kabupaten Pati dan Pendidikan
Masih berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BPS, pada tahun 2006 ada 632.692 penduduk yang telah lulus SD+ tidak/belum pernah sekolah dan tidak/belum tamat SD, 194.871 penduduk tamat SMP, dan 176.549 penduduk tamat SMA/Perguruan Tinggi/Akademi.

Sumber : Hasil Analisis Penulis, 2009
Gambar 1.2
Presentase Penduduk yang Bersekolah di Kabupaten Pati Tahun 2006


Setelah saya mencoba mengolahnya dengan menggunakan pie chart, waw … hasilnya sungguh sangat mengejutkan. Ternyata, lebih dari 50% penduduk Kabupaten Pati merupakan tamatan SD. Bagaimana ini? Tingkat pendidikan biasanya terkait dengan tinggi rendahnya sumber daya manusia yang dimiliki. Hal tersebut menandakan bahwa kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Pati masih tergolong rendah. Sebenarnya, saya tidak ingin mengatakan demikian, tetapi kenyataan berbicara lain. Nah, kemudian … bisakah kita asumsikan bahwa rendahnya kualitas sumber daya manusia akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat Kabupaten Pati?

Secara umum, Indonesia masih mengandalkan bahan baku dan tenaga buruh yang murah untuk menarik investor, dan begitu pula yang terjadi di Kabupaten Pati. Dengan kualitas sumber daya manusia yang tidak memadai, maka mau tidak mau masyarakat tidak mempunyai pilihan lain selain menjadi buruh pabrik. Pilihan lain yang tidak kalah sulit adalah menjadi petani, nelayan, pedagang. Hal ini pun juga tidak mudah untuk dijalani. Petani membutuhkan lahan + pupuk + bibit, nelayan membutuhkan perahu + jala + solar, sedangkan pedagang membutuhkan warung/kios + barang. Ketiga profesi tersebut memiliki ujung yang sama, ketiganya membutuhkan uang/modal/suntikan dana. Ya kalau usahanya lancar, jika tidak … apa yang akan terjadi?

Dari sinilah awal mula terjadinya kemiskinan. Masyarakat tidak memiliki penghasilan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup. Akibatnya, kualitas hidup menjadi semakin menurun, yang dapat dilihat dari kondis rumah, apakah memiliki jaringan sanitasi yang memadai, ada/tidaknya dapur, bahan pembuat rumah (dinding/bambu/kayu), dan masih banyak kriteria-kriteria lainnya.

Lagu Sedih

Begitu indahnya untuk dikenang
Saat kamu masih … mengejar cintaku
Begitu manisnya tangismu untuk
memohon hadirku ke dalam hidupmu

Katamu kau tak akan tinggalkan aku,
sakiti aku, lukai aku
Tapi, kau ternyata tinggalkan aku sendiri
Katamu kau tak akan pernah duakan hatimu,
cintamu

Kemana perginya kamu yang dulu,
yang maunya selalu dekat dengan aku
Kemana perginya cinta yang dulu
yang pernah kau tikam ke dalam jantungku

Katamu kau tak akan tinggalkan aku,
lukai aku, sakiti aku
Tapi, kau ternyata tinggalkan aku sendiri
Katamu kau tak akan pernah duakan hatimu,
cintamu

Siapa yang tidak kenal dengan lagu sedihnya Mulan? Lagu ini begitu tenar, walaupun sebenarnya aku ga suka ma Mulan …, tapi lagu ini begitu meresap ke dalam jiwaku. Menurutku, ‘lagu sedih’ ini benar-benar lagu sedih, ga hanya judulnya saja. Kok bisa ya? Kok bisa aku mengalami kisah cinta yang sama persis dengan yang diceritakan oleh lagu itu?

Aku begitu menghargai bagaimana dia benar-benar memperhatikanku pada awal kisahku, bagaimana dia mengenalkanku pada dunia. Aku yang tidak tahu apa-apa menjadi mulai mengenal lingkungan luar. Bagaimana aku yang semula hidup dalam ‘sangkar’ menjadi mulai mengetahui indahnya dunia. Secara perlahan dan pasti, dia mulai menyusup masuk ke dalam jiwaku. Aku adalah orang yang tidak mudah untuk jatuh cinta, aku adalah orang yang membutuhkan pembuktian, tak sekedar kata-kata rayuan gombal saja. Namun, kemudian dia meninggalkanku dengan cara yang bahkan sebelumnya aku hanya tahu dari teorinya saja.

Seperti kisah dalam Lagu Sedih, begitu pula dengan kisahku. Hehe, untukku semua itu begitu menyedihkan, karena selama 20 tahun masa hidupku, dia menjadi yang pertama dalam hidupku. Mungkin, hal ini aneh bagi orang lain. Tapi, aku mempunyai prinsip yang mungkin juga aneh bagi kebanyakan orang. Tidak bisa jika tanpa rasa. Jadi, aku terpengaruh oleh Ibu atau juga oleh film-film romantis yang pernah aku tonton. Ketika menjalin suatu hubungan, aku harus memiliki rasa kepadanya, begitu pula sebaliknya. Maka, ketika dia meninggalkan aku, aku sangat terpukul. Tidak tahu mesti bilang apa, kepalaku sampe mumet ga karuan. Akan tetapi, cinta memang tidak bisa dipaksakan, bukan? Ketika cinta di antara kita berdua tidak lagi seimbang, apakah aku akan tetap memaksakan bahwa dia harus kembali menyayangiku? Aku yakin, jawabannya tidak bisa.

Dan begitulah ketika kisah itu dimulai. Begitu pula ketika kisah itu berakhir …

Sabtu, 02 Januari 2010

Pemanfaatan Lahan

Analisis mengenai pemanfaatan ruang meliputi :
  1. Analisis kesesuaian lahan, yaitu analisis untuk mengetahui tingkat kesesuaian wilayah studi dengan kelayakan lahan yang ada.
  2. Analisis ekonomi lahan, yaitu analisis yang berisikan mengenai nilai ekonomi lahan pada tempat-tempat yang berbeda, terutama pada lahan terbangun maupun non terbagun dan pada lahan yang efektif maupun non efektif penggunaannya.
  3. Identifikasi bentuk dan struktur kota, yaitu mengidentifikasi bentuk dan struktur kota berdasarkan data-data yang ada.
  4. Analisis fungsi dan intensitas pemanfaatan lahan, bertujuan untuk mengetahui deskripsi intensitas penggunaan lahan di wilayah studi.
  5. Analisis pemanfaatan ruang, yaitu analisis mengenai pemanfaatan ruang beserta fungsi-fungsi kegiatan diatasnya, sehingga didapatkan ruang kota yang teratur dan tertata.
  6. Analisis kepadatan bangunan, yaitu analisis mengenai perbandingan luas lahan yang tertutup bangunan-bangunan dalam tiap unit lingkungan yang bersangkutan.
  7. Analisis ketinggian bangunan, yaitu analisis penentuan kelayakan tinggi bangunan maksimal yang masih dapat diperbolehkan untuk tiap-tiap unit fungsi. (Laporan Studio Perencanaan Kota, 1998).

Jumat, 01 Januari 2010

Mudah Berganti Pasangan

Apa aku nanti bisa membanggakan diri karena telah berpacaran puluhan kali? Apa orang laen akan menganggapku hebat karena telah berhasil menakhlukkan 100 cowok?


Menurutku, bagi anak mig33, menjalin suatu hubungan hanya merupakan permainan – kesenangan sesaat. Kenapa? Kebanyakan di antara mereka tidak pernah serius ketika memulainya. Menurut obbay_xx, aku biasanya memanggilnya dengan sebutan Mas Obbay – aku nggak tahu nama aslinya, sangat mudah untuk mendapatkan pasangan di dalam suatu komunitas maya mig33 ini, dengan pengertian bahwa hubungan setiap cowok/ceweknya sebagian besar hanya bertahan tidak lebih dari hitungan bulan saja, dan kemudian masing-masing dari mereka akan putus dengan sendirinya dan dalam waktu yang singkat pula mereka mendapat pasangan yang baru – yang berasal dari komunitas mig33 juga. Jadi, seakan-akan hubungan itu berputar-putar di tempat. Mas Obbay juga bilang jika dia tidak akan memilih cewek dari kalangan mig33. Kenapa? Aku tidak menanyakan alasannya, tetapi mungkin saja …

Aku … mungkin adalah korban, atau mungkin juga aku adalah salah satu cewek yang beruntung. Walaupun hubungan itu menurutku sangat singkat, tetapi setidaknya aku pernah mengalami masa-masa yang indah bersamanya. Dan, hal tersebut semakin menambah khasanah hidup, wawasan dan pengalamanku. Dia memang bukan cinta pertamaku, bukan pula cinta terakhirku, tetapi dia mampu membuat hatiku menjadi terang. Kenangan itu tidak akan bisa tergantikan, masa-mas bahagiaku …. Aku memang harus berterima kasih untuknya.

Sebenarnya, ada beberapa orang yang pernah memintaku untuk menjalin hubungan – masih dalam komunitas mig33 tadi. Aka tetapi, aku tidak bisa. Bagaimana mungkin aku berpacaran dengan seseorang yang tidak aku kenal (aku hanya mengenal dia kewat dunia maya)? Aku pun membutuhkan interaksi, tidak hanya sekedar ngobrol lewat chatting. Aku membutuhkan pertemuan demi pertemuan dengan frekuensi yang intens. Mungkin saja jika aku ‘mengiyakan’, kita bisa langsung jadian. Namun, selanjutnya apa? Apa aku nanti bisa membanggakan diri karena telah berpacaran puluhan kali? Apa orang laen akan menganggapku hebat karena telah berhasil menakhlukkan 100 cowok?

Aku yakin, sudah tidak ada rasa sayang yang ‘benar-benar dalam’ di antara mereka yang mudah berganti pasangan. Misalnya saja, aku sayang dengan X sekarang, tetapi 2 bulan kemudian … aku telah ganti menyayangi Y. it’s so impossible! Bagiku, untuk menumbuhkan ‘rasa dalam hati’ saja membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Waktu 2 bulan tidaklah cukup!

Aku mempunyai impian, walaupun aku tahu impian itu tidak akan menjadi kenyataan. Bersama seseorang, aku ingin memandang bintang dari atas bukit, berjalan menelusuri pantai pada saat mentari senja, memandang matahari terbit dari atas gunung. Akan tetapi, tanggapan dia … tidak ada hal seperti itu di dunia ini. Aku terlalu banyak nonton sinetron, padahal aku kan ga pernah nonton sinetron. Akan tetapi, apa aku salah jika mempunyai mimpi?