Selasa, 09 Agustus 2011

Petunjuk Umum Penulisan Jurnal Tata Loka Jurusan PWK Undip

Petunjuk Umum
Setiap artikel yang dikirmkan dapat berupa 'laporan' suatu penelitian yang telah dilaksanakan sebelumnya atau berasal dari hasil review sebuah buku. Artikel minimal mengandung materi dan urutan: 1) judul artikel dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris; 2) nama pengarang, lembaga, dan alamat untuk dihubungi; 3) abstraksi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris; 4) pendahuluan; 5) metodologi; 6) temuan dan kajian atas temuan yang diperoleh; 7) kesimpulan dan atau rekomendasi; 8) ucapan terima kasih (jika diperlukan); dan 9) kepustakaan. Artikel menggunakan bahasa ilmiah baku, baik dalam bahasa Inggris atau Indonesia.


Petunjuk Penulisan
Naskah diketik dalam satu spasi, menggunakan font Arial; ukuran 11 inch; dan menggunakan program Word for Windows, maksimal 15 halaman kwarto atau dengan ukuran kertas (210 x 297 mm).


Judul
Judul artikel ditulis dengan huruf regular rata tengah, menggunakan font Arial ukuran 12 pt bold. Judul dirangkai dalam 13 kata dalam bahasa Indonesia dan 10 kata dalam bahasa Inggris. Nama penulis ditulis di bawah judul dengan format title case, sedangkan gelar penulis tidak perlu dicantumkan, tetapi harus mencantumkan instansi tempat penulis bekerja atau melakukan penelitian.


Abstrak
Abstrak merupakan intisari dari isi artikel sehingga di dalam abstrak harus tercantum secara jelas latar belakang penelitian, tujuan penelitian, metodologi dan analisis, serta kesimpulan akhir. Abstrak dan keywords ditulis dengan spasi tunggal, huruf yang digunakan adalah arial, ukuran huruf 10 pt dan ditulis miring atau dengan format Italic dan ditulis dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.


Isi
Artikel ditulis dengan format rata kanan kiri, menggunakan font Arial ukuran 11 pt. Format margin yang digunakan adalah margin atas 20 mm, margin bawah 20 mm, margin kanan 20 mm, dan margin kiri 30 mm. Batas header dan footer adalah 15 mm. Artikel ditulis dengan font Arial ukuran 11 pt, satu spasi dengan format dua kolom.


Sub Judul
Sub judul ditulis dengan format title case, yaitu huruf awal pada sauatu kata diawali huruf besar, menggunakan font Arial ukuran 11 pt. Ditulis huruf tebal tanpa garis bawah.


Gambar dan Tabel
Judul tabel/ gambar harus lengkap tetapi tidak boleh terlalu panjang, maksimal 13 kata. Judul tabel/gambar harus mengandung beberapa unsur, yaitu: jenis, letak/ lokasi, dimensi waktu, serta rincian mengenai satuan, wilayah, serta keterangan lain.

Penulisan judul tabel/gambar menggunakan huruf tebal dan besar, dengan alinemen rata tengah. Judul tabel diletakkan di atas tabel, sedangkan Judul Gambar diletakkan di bawah gambar. Jarak antara tabel/ gambar dengan paragraf sebelumnya maupun sesudahnya adalah 1 spasi.

Huruf di dalam tabel/gambar berukuran lebih kecil yaitu 10 pt. Penulisan sumber pada tabel/gambar menggunakan ukuran huruf yang sama yaitu 10 pt diletakkan di bawah tabel pada tepi batas kiri tabel, sedangkan untuk gambar diletakkan dibawah gambar sebelum judul gambar dengan alinemen tengah. Jenis font yang digunakan tetap sama yaitu Arial.


Daftar Pustaka
Ketentuan umum yang harus diperhatikan adalah Daftar pustaka ditulis dengan spasi tunggal menggunakan font Arial dengan ukuran 10 pt. Jarak antara pustaka yang satu dengan lainnya adalah 1 spasi. Jika satu judul buku penulisannya lebih dari satu baris, maka baris kedua dan seterusnya penulisannya masuk ke dalam (indent) sebesar 1 centimeter serta diharapkan daftar pustaka tidak hanya bersumber dari buku, namun juga beberapa jurnal yang sesuai.

Senin, 07 Maret 2011

Forfeit Ruckus

Jujur, ketika pertama kali mengetahui nama dan cerita Forfeit Ruckus, saya merasa sedang mendengarkan kisah dari negeri antah berantah. Deathcore memang bukan dunia saya, tetapi saya suka mendengar cerita unik yang berbeda, termasuk mengenai Forfeit Ruckus!



Makna
Pertama kali mendengar nama Forfeit Ruckus, saya mengira bahwa kata “forfeit” diambil dari kata “for faith” yang berarti untuk takdir. Namun, apa yang saya pikirkan ternyata tidaklah tepat. Begitu membuka kamus Bahasa Inggris – Bahasa Indonesia (niat banget ea), saya baru mengetahui bahwa Forfeit berarti pengorbanan atau kehilangan, sementara Ruckus sendiri diartikan sebagai kehebohan. Jadi, kesimpulan saya (saya mungkin saja salah), kata Forfeit Ruckus memiliki makna sebagai pengorbanan yang berlebihan. Lalu, pengorbanan apa? Pengorbanan untuk siapa? Saya tidak tahu, dan semua itu masih misteri. Selain itu, saya pun belum mengetahui sejarah kemunculan band indie asal Semarang ini.


Pandangan Umum
Kenapa memilih deathcore? Mereka menjawabnya hanya dengan dua kata sederhana, yaitu lebih kepada panggilan jiwa. Panggilan jiwa seperti apakah itu? Saya tidak tahu dan tidak mengerti. Mungkin ada yang mau menjawab?

Selain itu, menurut pandangan saya selama ini, pemain dan penggemar aliran musik deathcore identik dengan rokok, minuman keras, dan bahkan narkoba. Namun, pemikiran saya berubah total ketika melihat Forfeit Ruckus yang bebas dari segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia hitam. Paling hanya personilnya yang suka memakai kaos hitam dengan gambar-gambar yang berhubungan dengan sesuatu yang berbau kematian, misalnya tengkorak, kuburan, dan lain sebagainya. Dan, semua itu tentunya masih berada dalam taraf kewajaran …


Anggota
Forfeit Ruckus yang memilih deathcore di antara sekian banyak aliran musik ini digawangi oleh 5 orang. Untuk lebih jelasnya search saja di akun facebook dengan nama “Forfeit Ruckus!”. Selain jejaring sosial Facebook, Forfeit Ruckus juga mempunyai akun di My Space (saya lupa namanya, tetapi alamatnya tertera di stiker). Berikut ini adalah gambar yang saya ambil dari Facebook!

Gambar 1
Anggota Forfeit Ruckus

Kemudian, berdasarkan penuturan yang diberikan salah satu personilnya, saya mendengar bahwa di antara kelima anggota Forfeit Ruckus, vokalis dan basisnya lah yang paling suka mempermainkan perasaan cewek alias playboy abiz. Mereka berdua suka sekali berganti-ganti kekasih. Mungkin hal ini dikarenakan mereka tampak keren ketika berada di panggung, jadi banyak cewek yang suka. Oh ea? Benarkah? Mungkin juga iya, mungkin juga tidak …


Penggemar
Di Semarang, penggemar Forfeit Ruckus pada umumnya mulai dari anak SMP hingga mahasiswa. Sementara, di Jepara sendiri, penggemarnya benar-benar orang dewasa yang mungkin sudah mempunyai anak dan istri alias sudah menjadi bapak-bapak. Ea, bisa dibilang setiap kota memang memiliki karakteristiknya masing-masing.

Gambar 2
Penggemar Forfeit Ruckus


Lalu, bagaimana dengan saya sendiri? Apakah saya ikut menggemari Forfeit Ruckus? Hmm, jujur saja … saya belum mampu menikmati musik yang ditawarkan oleh Forfeit Ruckus.


Manggung
Forfeit Ruckus biasanya tampil di Taman Budaya Raden Saleh Semarang atau yang lebih dikenal dengan nama TBRS. Hingga salah satu personil dari band indie tersebut mengatakan,” kamu akan bisa menemukanku di TBRS setiap Sabtu malam minggu.” Jadi, dengan demikian, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa TBRS merupakan tempat yang paling sering disambangi oleh Forfeit Ruckus. Selanjutnya, selain tampil di Semarang sendiri, Forfeit Ruckus juga seringkali diundang ke kota-kota lain. Sayangnya, maaf … saya kurang begitu tahu kemana saja band tersebut telah melanglang buana. Pokoknya, terakhir kali, saya mendengar jika Forfeit Ruckus menggelar pertunjukannya di Kota Jepara, dalam salah satu event yang bernama “Jepara Gelap 5”. Sebenarnya, saya pun merinding juga dan bertanya-tanya … dimananya Jepara yang gelap ea? Kata-katanya, seperti Jepara akan tertimpa musibah saja.

Gambar 3
Forfeit Ruckus di Jepara Gelap 5

Berbicara mengenai masalah kostum pada saat berada di panggung, Forfeit Ruckus tampil dengan pakaian biasa dan tidak mencolok. Ea, seperti manusia biasa … memakai kaos dan sepatu. Aliran Forfeit Ruckus berbeda dengan aliran musik rock yang berdandan putih-putih dan memakai rantai-rantai yang menakutkan.


Lagu
Saya mempunyai dua buah lagu dari Forfeit Ruckus, dan ketika saya mencoba untuk mendengarkannya … saya hanya mendengar suara orang berteriak-teriak tidak jelas arahnya kemana, dan bukan suara orang yang menyanyi dengan merdu. Kepala saya tiba-tiba merasa pusing. Apakah mungkin saya yang tidak bisa menikmati keindahan lagu? Masih mending yang menyanyi seoarang cewek, karena saya masih bisa mendengarkannya (walaupun tidak jelas juga …). Lirik dari Forfeit Ruckus sendiri susah didengarkan, padahal katanya … lagu yang diciptakan tersebut memiliki lirik yang bagus. Akan tetapi, bagaimana mungkin saya bisa mendengarkan liriknya jika saya hanya mendengar suara “awawawa …” dari awal hingga akhir lagu? Dan, menurut saya, lagu-lagu Forfeit Ruckus cenderung bertujuan untuk menyenangkan diri sendiri daripada menyenangkan orang lain, terutama saya. Haha, penting ea?


Stiker
Forfeit Ruckus mempunyai stiker band yang khas, yaitu kuning di atas hitam, sehingga terlihat mencolok (soalnya, biasanya itu … putih di atas hitam atau hitam di atas putih). Selain warnanya yang sungguh sedap dipandang mata, font yang digunakan dalam pembuatan stiker tersebut juga aduhai. Bagaimana tidak aduhai, lha wong tulisannya ruwet bikin tambah mumet begitu. Orang biasa seperti saya pun mungkin perlu kacamata yang lebih tebal, agar dapat membaca nama band tersebut setiap hurufnya. Akan tetapi, memang begitulah label dari band ini seringkali memang tidak terbaca. Oh ya, penting untuk diketahui bahwa kata salah satu personilnya, jika sedang membagikan stiker pada penggemar, dia merasa seperti memberi makan ikan lele. Hehe, saya hanya tertawa mendengarnya, tetapi dalam hati … saya bilang,” sok ngartis banget, sih …”. Memang benar kan kata-kata saya?



Sebagai orang awam yang belum mengerti mengenai apa itu deathcore, sangat dimungkinkan apabila penilaian saya ini tidaklah objektif. Mohon koreksi dan masukan atas penulisan artikel ini. Apabila terdapat kesalahan, sebagai penulis, saya minta maaf … Tetap semangat! Go Forfeit Ruckus!!!

Jumat, 19 November 2010

Klasifikasi Perencanaan

Perencanaan Kota
Perencanaan kota merupakan penyiapan upaya untuk mengantisipasi perkembangan dan pertumbuhan kota, serta menjadi pedoman tujuan yang selaras untuk wadah perkembangan masyarakat kota menuju kehidupan yang lebih baik. Selain itu, perencanaan kota dapat diartikan sebagai gambaran tatanan fisik yang mengatur peruntukan lahan, penataan jaringan jalan, utilitas, penempatan fasilitas sosial dan umum, dan sebagainya (Catanese dkk, 1996).

Perencanaan kota perlu dilakukan dalam upaya untuk mengantisipasi perkembangan dan pertumbuhan kota. Perencanaan kota juga digunakan sebagai pedoman tujuan yang selaras untuk wadah perkembangan masyarakat kota menuju kehidupan yang lebih baik. Perencanaan tersebut memberikan gambaran tatanan fisik yang mengatur peruntukan lahan, penataan jaringan jalan, utilitas, penempatan fasilitas sosial dan umum, dan sebagainya.

Perencanaan Wilayah
Perencanaan wilayah merupakan disiplin ilmu yang menekankan pada penjelasan sosial dalam ruang wilayah secara keseluruhan (Friedman, 1980). Selain itu, perencanaan wilayah dapat diartikan sebagai perubahan sosial ekonomi di berbagai wilayah, dinamika hubungan antarwilayah dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pembangunan wilayah, tetapi pengertian ini terlalu luas dan tidak mengena pada faktor-faktor yang relevan untuk pembangunan.

Sebagai langkah awal, seorang perencana pembangunan sangat perlu untuk mengenal daerah/ wilayah perencanaan, dimana potensi daerah serta kondisi masyarakatnya akan menjadi masukan (input) yang sangat strategis dalam menyusun langkah-langkah rencana, program maupun kegiatan dan proyek pembangunan, sehingga benar-benar sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan daerah yang bersangkutan. Proses pengenalan wilayah dapat dilakukan dengan memahami profil wilayah terlebih dahulu. Profil wilayah merupakan gambaran umum suatu wilayah yang menjadi obyek perencanaan, meliputi keadaan alam, sosial ekonomi, budaya, politik, kelembagaan dan lain sebagainya yang diperlukan untuk analisis perencanaan selanjutnya.

Gambaran Umum Desa Semampir, Kecamatan Pati

Permukiman
Sebagian besar penduduk di Desa ini merupakan penduduk asli yang sudah menetap hingga lebih dari 25 tahun. Sebagian kecil dari masyarakat merupakan penduduk pendatang namun kebanyakan berasal dari Kabupaten Pati. Pemukiman ini timbul dikarenakan lokasinya yan dekat dengan jalur pantura. Berdasarkan informasi yang diberikan oleh penduduk setempat, pemukiman ini sudah ada sejak lama, namun mulai berkembang pada awal tahun 1980. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai PNS dan pedagang.

Rumah
Sebagian besar penduduk menempati rumah pribadi yang memiliki sertifikat tanah namun tidak memiliki IMB. Mayoritas penduduk mendiami perkampungan ini sudah lama.

Sarana Prasarana
Mayoritas rumah memilki fasilitas MCK pribadi di hampir setiap rumah. Pemukiman pada desa ini mayoritas memiliki tempat penampungan sampah di depn rumah masing-masing. Pengangkutan sampah dilakukan oleh petugas setiap hari dan kemudian dibuang di TPA Margorejo. Masyarakat. Untuk minum dan mandi masyarakat menggunakan sumur artetis, Namun sebagian kecil masyarakat menggunakan air PAM.
Jalan di Desa ini cukup baik, perbaikan rata-rata dilakukan pada tahun 2008 di hampir setia perkampungan. Pemadaman listrik cukup jarang terjadi dan telepon rumah cukup banyak dibandngkan dengan desa lain karena desa ini cukup tua di Pati. Selokan di Desa ini cukup mampu mengalirkan air jika hujan karena juga terdapat kegiatan pembersihanyang rutin. Di desa ini tidak terdapat puskesmas, dan mayoritas masyarakat berobat ke Puskesmas Kota yang terletak di Kelurahan Plangitan. Menurut masyarakat pelayanan puskesmas plangitan terbilang baik. Mayoritas masyarakat berbelanja di Pasar Gowangsan dan berekreasi ke alun-alun. Namun banyak pula yang memilih ke luar kota.
Berdasarkan opini masyarakat, selokan merupakan prasarana pemukiman yang perlu masih diperbaiki.

Keamanan dan Kebersihan
Kondisi lingkungan di desa ini cukup aman dan mayoritas perkampungan memiliki siskamling dan kerja bakti rata-rata dilakukan sebulan sekali.

Kegiatan Sosial
Sama seperti desa lain, tradisi sedekah bumi masih rutin dilakukan setahun sekali Arisan dilakukan setiap bulan dan pengajian setiap jumat. Hubungan antar warga cukup akrab.

Program Pemerintah
PNPM di desa ini dilakukan rata-rata pada tahun 2008 dan mayoritas dilakukan untuk membangun jalan dan selokan dan partisipasi masyarakat cukup tinggi.

Rabu, 17 November 2010

Intisari Jurnal SagePub - Ketahanan Sosial Ekonomi

Jurnal 1
Perlindungan Sosial dan Dasar Sosial Ekonomi Global : Berbasis pada Pendekatan Hak Asasi Manusia
Wouter Van Ginneken

Jurnal ini menunjukkan bahwa komitmen terhadap hak asasi manusia, termasuk terhadap hak untuk mendapatkan jaminan sosial, akan memberikan kekuatan untuk mewujudkan dasar dari globalisasi sosial ekonomi. ILO memperkirakan bahwa pencapaian dasar globalisasi ekonomi pada umumnya telah dapat dijangkau bagi negara yang memiliki pendapatan yang rendah, meskipun dukungan internasional tetap diperlukan pada masa mendatang. Sehubungan dengan perluasan jaminan sosial yang dilakukan, tantangan terbesar yang dihadapi adalah dalam mendesain dan mengatur hubungan antara pembiayaan pajak dengan skema kontribusi jaminan sosial dalam kerangka sosial ekonomi yang lebih luas.

Jaminan sosial dapat diartikan sebagai perlindungan yang diberikan kepada individu maupun rumah tangga untuk mendapatkan akses terhadap perawatan kesehatan dasar dan menjamin keamanan penghasilan, terutama bagi masyarakat usia lanjut, pengangguran, orang sakit, kecelakaan kerja, persalinan ataupun kehilangan pencari nafkah. Sementara, UDHR menyatakan definisi jaminan sosial dalam pasal 25, “setiap orang berhak mendapatkan standar kehidupan yang layak bagi diri maupun keluarganya, termasuk dalam hal makanan, pakaian, perumahan, kesehatan, hak untuk mendapatkan jaminan sosial pada saat menganggur, sakit, cacat, janda, usia tua, dan lain sebagainya. Ketika seseorang dilindungi oleh jaminan sosial, maka dia berhak untuk mengklaim haknya. Menurut ILO, jaminan sosial ini ditujukan bagi kelompok-kelompok pekerja tertentu.

Hak untuk mendapatkan jaminan sosial merupakan kebijakan dasar nasional untuk memperluas cakupan dari jaminan sosial tersebut. Ada 3 metode dan pendekatan yang digunakan untuk memperluas cakupan dari jaminan sosial, dalam hal ini terkait dengan orang, kontingensi, dan tingkat manfaat yang diperoleh. Di negara miskin, jaminan sosail yang berupa sistem pensiun hanya mampu diberikan kepada sedikit pekerja di bidang ekonomi formal. Sistem ini masih memiliki permasalahan yang terletak pada pemberian pensiun bagi pekerja di sektor ekonomi informal. Di sub Sahara, masyarakat membentuk skema pembangunan berbasis masyarakat dan asuransi mikro. Hal ini disebabkan oleh masyarakat yang kesulitan di dalam membayar biaya perawatan kesehatan yang tinggi.

Secara umum, ada kecenderungan dari pemerintah untuk mulai meningkatkan perlindungan sosial secara nasional dan adanya perencanaan jaminan sosial dengan tujuan untuk memperluas cakupan jaminan nasional tersebut. Misalnya, pemerintah Senegal yang telah merumuskan perlindungan sosial pada tahun 2005. Strategi yang diambil adalah meningkatkan respon prioritas kebutuhan yang lebih baik bagi para pekerja informal.

The Report of World Commission of The Social Dimension of Globalisation mendukung ide dari dasar sosial ekonomi globl untuk semua warga negara, karena dapat membantu legitimasi dari globalisasi. Laporan ini juga menekankan ‘tingkat minimum dari perlindungan sosial perlu untuk disetujui dan diletakkan sebagai bagian dari dasar sosial ekonomi global.

The Basic Social Security Floor dapat meningkatkan akses finansial terhadap perawatan kesehatan, dan dapat meningkatkan dukungan jaminan sosial dasar untuk anak-anak, orang usia kerja, orang yang telah berusia tua. The Basic Social Security Floor ini terdiri dari serangkaian jaminan sosial dasar bagi seluruh masyarakat, dengan memastikan bahwa pada akhirnya :
• Semua masyarakat memiliki akses terhadap menfaat perawatan kesehatan dasar.
• Semua anak memikmati pelayanan kecukupan nutrisi, pendidikan, dan kesehatan.
• Ada dukungan pendapatan yang ditargetkan bagi masyarakat miskin dan pengangguran dalam periode usia aktif.
• Semua masyarakat usia tua atau cacat menikmati jaminan pendapatan melalui dana pensiun bagi usia tua, kaum difabel, dan korban.


Jurnal 2
Memahami Ketahanan Pemuda di Papua Nugini Melalui Kisah Nyata
Tracie Mafile’o and Unia Kaise Api

Media massa menggambarkan kehidupan pemuda Papua Nugini sebagai sub-kultur siswa yang negatif, kejahatan yang dilakukan pemuda dan pengangguran, dan tingginya HIV untuk perempuan muda. The PNG National Statistical Office menyatakan bahwa terdapat presentase yang tinggi bagi anak-anak yang tidak pernah bersekolah (33%), datang ke sekolah (29%), sedangkan 38% lainnya sudah tidak bersekolah. Akan tetapi, dalam hal ini adalah sekelompok pemuda yang memperkenalkan ketahanan dalam menghadapi kesulitan, yang telah mempresentasikan alternatif pandangan yang berbeda.

Penelitian mengenai ketahanan pemuda di Papua Nugini ini menggunakan metode penceritaan kisah nyata. Hal ini salah satunya dikarenakan oleh penceritaan kisah nyata sebagai bentuk penyelidikan naratif dari kisah hidup yang dialami, dengan menyoroti aspek yang paling penting. Penelitian ini menggunakan kisah hidup Taylor. Keluarga, iman, dan masa depan merupakan 3 variabel yang dibahas dalam hubungan Taylor dengan beberapa permasalahan dan bernegosiasi dengan ketahanan menggunakan sumberdaya di lingkungannya. Hubungan keluarga merupakan faktor yang menghambat dan mendukung Taylor. Iman memberi Taylor filosofi hidup yang membantunya menghentikan penggunaan narkotika selama masa remaja, memberikan maaf dan penyembuhan dalam hubungan dengan ayah dan ibu tirinya dan pada umumnya mampu mengadopsi perspektif positif dalam hidupnya. Sementara, harapan di masa depan memberinya pandangan bahwa visi dan tujuan itu penting. Selanjutnya, dia memiliki komitmen untuk mewujudukan tujuan tersebut, agar dia ‘menjadi orang di negerinya, untuk menjadi pemimpin dan orang besar.

Keluarga dan diri mereka sendiri berkontribusi di dalam penyediaan pelayanan sosial informal dan harus dapat menjadi jaring pengaman sosial yang efektif bagi merekaa sendiri. Pengembangan jejaring pertemanan juga memberikan kontribusi terhadap perubahan sosial yang positif. Pengembangan jaringan teman di sekolah dan mendukung program yang diberikan akan memaksimalkan penggunaan layanan sosial masyarakat yang jarang dilakukan. kisah hidup Taylor menunjukkan perubahan yang signifikan mungkin dalam kehidupan orang muda dalam waktu relatif singkat. Hidup Taylor termasuk pengalaman keluarga yang broken, sekolah terganggu, mencoba bunuh diri, penyalahgunaan obat-obatan, afiliasi geng, kekerasan fisik. Namun, di sisi lain kehidupan Taylor menggambarkan kelangsungan hidup, transformasi, kesetiaan, pemeliharaan keluarga dan rekonsiliasi, berpantang dari penggunaan narkoba, filantropi, kepemimpinan,dan inisiatif. Pada akhirnya, kisah Taylor menggambarkan pentingnya mendukung ketertarikan pemuda dan kekuatan yang mereka miliki. Kisah Taylor menunjukkan perubahan dari fokus utama pada tekanan psikologis menuju fokus pada kapasitas pengembangan kekuatan individual.


Jurnal 3
Pemasok Industri Baja di Pittsburgh : Klaster – Berdasarkan Analisis Ketahanan Ekonomi Wilayah
Carey Durkin Treado dan Frank Giarratani

Pada tahun 1970an, Pittsburgh mulai mengalami kemunduran sebagai salah satu pusat produksi baja di Amerika Serikat. Hal ini menimbulkan persepsi bahwa produksi baja tidak akan bertahan lama dan akan segera digantikan oleh produk industri baru yang berteknologi tinggi. Akan tetapi, persepsi tersebut kurang tepat, mengingat bahwa Pittsburg memiliki perusahaan pensuplai bahan pembuatan baja, yaitu memasok material, peralatan, proses pengontrolan, dan aspek lainnya. perusahaan pensuplai industri baja telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari eskpor Pittsburght.

Adanya kluster industri pensuplai baja dapat berperan sebagai kontributor penting di dalam ketahanan ekonomi wilayah di dalam menghadapi penurunan industri signature. Pengalaman yang ada di Pittsburght meyakinkan bahwa bahkan dalam menghadapi penurunan industri signature, klaster industri yang terkait dengan signature industri akan mengembangkan tingkat kemandirian yang penting. Namun, kita tahu bahwa kluster, memiliki kontribusi terhadap ketahanan wilayah dan mempertahankan keberlangsungan wilayah. Apapun dasar asal mula aglomerasi industri baja, klaster pensuplai industri baja sekarang melayani sebagai sumber ekspor ke luar daerah.

Penemuan kita juga melayani untuk memperkuat perhatian, bahwa kecenderungan bagi praktisi pembangunan ekonomi wilayah untuk fokus terhadap produksi berbasis klaster, dapat menyebabkan kebijakan berinisiatif untuk menghilangkan kesempatan pembangunan. Konsep dari klaster industrri dari Porter memotret jaringan yang kaya akan hubungan vertikal dan horizontal. Analisis kita menunjukkan 2 tipe hubungan vertikal dan horizontal, yang dapat berkelanjutan oleh perusahaan pensuplai, bahkan ketika industri tersebut dalam produk berbasis kluster mengalami penurunan dalam suatu wilayah. Banyak responden yang mengidentifikasi ada keterkaitan horizontal di dalam klater. Misalnya pabrik di dalam klaster mungkin bekerjasama untuk mencari jaringan pasar melalui pembangunan produk atau untuk mengatasi permasalahan dengan mengambil keuntungan komplementer mereka dalam klaster.

Inisiatif kebijakan dapat memperkuat klaster dengan membantu perusahaan, terutama perusahaan baru untuk mengambil keuntungan dari komplemeteritas mereka. Hal ini dapat dicapai melalui investasi publik pada sektor infrastruktur, misalnya pembuatan kantor yang memiliki tujuan khusus atau upaya untuk meningkatkan komunikasi antarperusahaan di dalam klaster.

Organisasi swasta, misalnya asosiasi profesional dan universitas dapat memainkan peranan penting dalam memperkuat hubungan klaster. Menggunakan Pittsburght, kita melihat bahwa sejarah dominan dari industri manufaktur diterapkan dalam kenyataan bahwa wilayah merupakan rumah bagi dua asosiasi profesional utama yang menarik praktisi industri. Anggota asosiasi berkisar dari insinyur hingga wirausahawan profesional dan akademisi. Sebagai tamabahan, 3 pusat penelitian akademisi pada 2 universitas utama mempunyai fokus khusus terhadap baja.

Inisiatif kebijakan yang mempromosikan kerjasama di antara institusi dalam suatu wilayah melalui presentasi gabungan atau partisipasi dalam konferensi juga mempromosikan kepedulian terhadap komplementar yang mungkin menimbulkan keterkaitan horisontal yang positif dalam hubungan pemasok. Pengembangan klaster yang sukses dapat mendorong ketahanan ekonomi di suatu wilayah.


Jurnal 4
Kesulitan Sosial Ekonomi, Ketahanan dalam Bidang Pendidikan, dan Tingkat Adaptasi Orang Dewasa
Ingrid Schoon, Samantha Parsons, dan Amanda Sacker

Kesulitan sosial ekonomi menjadi faktor utama yang mempengaruhi seseorang untuk mendapatkan pendidikan yang layak, dimana anak tidak mampu mengembangkan potensi akademik yang mereka miliki. Akan tetapi, sejumlah penelitian telah menyatakan bahwa banyak negara telah memberikan dukungan bagi peningkatan kapasitas sumberdaya manusia, sehingga mereka dapat mengatasi kesulitan dan mampu menunjukkan adaptasi yang positif untuk mengatasi kesulitan, fenomena tersebut kemudian dikenal sebagai ketahanan.

Faktor resiko utama untuk kegagalan pendidikan adalah kesulitan sosial ekonomi dan investigasi mengatakan bahwa terdapat keterkaitan yang konsisten antara penampilan pendidikan dan latar belakang sosial keluarga. Penjelasan dari adanya fenomena ini menekankan pada kesempatan berbeda dan prsoses sosialisasi yang ada pada tingkat status sosial ekonomi. Tidak semua individual yang berasal dari keluarga yang kurang menguntungkan mengalami kegagalan untuk sukses di sekolah. Sejumlah penelitian menyatakan bahwa banyak negara telah memberikan dukungan bagi kapasitas sumberdaya manusia, agar mereka dapat mengatasi kesulitan dan untuk menunjukkan adaptasi yang positif untuk mengatasi kesulitan, suatu fenomena yang disebut sebagai ketahanan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan sosial ekonomi merupakan faktor resiko signifikan yang mencegah anak muda untuk mengembangkan potensi akademik mereka. Dampak dari resiko sosial dapat dimodifikasi oleh sejumlah faktor psikologi. Dukungan guru untuk remaja untuk melanjutkan sekolah mereka memainkan peranan penting dalam mengurangir resiko tersebut, begitu pula untuk motivasi pendidikan, keterlibatan orang tua, aspirasi untuk anak, aspirasi dari diri sendiri, dan penyesuaian diri yang baik di sekolah. Pengharapan positif untuk masa depan anak yang berasal dari guru, orang tua, diri sendiri, penting untuk merangsang keberhasilan sekolah menengah.

Kondisi sosial ekonomi merupakan faktor resiko utama yang menentukan keberhasilan dalam bersekolah. Aspirasi dari orang tua untuk mendukung pendidikan anaknya yang lebih tinggi, tampaknya menjadi faktor penting bagi anak-anak yang kurang beruntung untuk mencapai pendidikan sekolah. Analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa ada pola yang dimiliki oleh seseorang pada saat dia berada di sekolah menengah menuju tingkat adaptasi dewasa, terutama dalam sektor pendidikan dan dunia kerja. Sekolah menengah, memiliki pengaruh yang lemah berhubungan dengan kesehatan orang dewasa, yang berlangsung dalam fenomena yang sama, yaitu hampir selalu lebih besar diripada hubungan antar variabel yang tidak mirip untuk keluarga yang kurang mampu, sekolah menengah menjadi prediktor penting dari penyeseuaian diri menuju dewasa yang sukses daripada keluarga yang mapan. Mkan anak muda dari keluarga kurang beruntung haus membuktikan diri mereka.

Selanjutnya, di antara individu-individu sosial yang kurang beruntung, dewasa penyesuaian dalam pekerjaan yang berhubungan lebih kuat dengan penyesuaian di bidang kesehatan dari antara rekan-rekan mereka yang lebih istimewa, menunjukkan bahwa sekolah menengah penyesuaian memainkan peran penting di antara yang kurang beruntung secara sosial tidak hanya di penyesuaian memprediksi dewasa berhasil dalam domain dari bekerja tetapi juga dalam pencegahan awal onset penyakit dan tekanan psikologis atau depresi.

Mengapa Perencanaan Kota dan Wilayah Penting?

Perencanaan sesungguhya berkaitan dengan faktor-faktor produksi atau sumber daya yang terbatas, untuk dimanfaatkan mencapai hasil yang optimal sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Dalam hal perencanaan wilayah, pentingnya perencanaan disebabkan faktor-faktor sebagai berikut:

Pertama, banyak di antara potensi wilayah yang terbatas jumlahnya dan juga tidak dapat dapat diperbaharui. Kalaupun ada yang masih mungkin untuk diperbarui akan memerlukan waktu yang cukup lama dan biayanya cukup besar. Bayangkan jika potensi wilayah ini tidak direncanakan penggunaannya dengan baik, maka akan terjadi semacam kepunahan potensi. Potensi yang dimaksud antara lain menyangkut luas wilayah, sumber air bersih yang tersedia, bahan tambang yang sudah terkuras, luas hutan penyangga yang menciut, luas jalur hijau yang menciut, tanah longsor, atau permukaan tanah yang terkena erosi.

Kedua, kemampuan teknologi dan cepatnya perubahan dalam kehidupan manusia. Perencanaan kembali diperlukan agar tidak terjadi perubahan yang tak terkendali. Jika hal itu telah terjadi walaupun kemudian diketahui bahwa hal itu salah, akan sulit untuk mengembalikannya pada keadaan semula yang dapat ditoleransi.

Ketiga, kesalahan perencanaan yang sudah dieksekusi di lapangan sering tidak dapat diubah atau diperbaiki kembali. Hal ini misalnya adanya penggunaan lahan yang tidak terencana ataupun salah dalam perencanaan. Walaupun kemudian diketahui dampaknya negatif tetapi sulit untuk diperbaiki atau ditata kembali. Hal ini terjadi karena dalam penggunaan lahan telah melekat berbagai kepentingan yang tidak ingin dilepas oleh pengguna lahan tersebut. Misalnya, masyarakat yang sudah terlanjur membangun rumah di jalur hijau atau daerah yang terna banjir tahunan.

Keempat, potensi wilayah berupa mberian alam maupun hasil karya manusia di masa lalu adalah aset yang harus dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dalam jangka panjang dan bersifat langgeng. Untuk mencapai hal ini maka pemanfaatan aset itu haruslah direncanakan secara menyeluruh dengan cermat.

Kelima, tatanan wilayah sekaligus menggambarkan kepribadian dari masyarakat yang berdomisili di wilayah tersebut, di mana kedua hal tersebut adalah saling mempengaruhi. Masyarakat yang tidak berdisiplin (tidak mematuhi aturan yang berlaku) cenderung membuat wilayahnya tidak tertata, tetapi di sisi lain wilayah yang tidak tertata juga cenderung membuat masyarakatnya tidak disiplin.


Diambil dari http://fitrawanumar.blogspot.com


Selasa, 16 November 2010

Sejarah Pemikiran Perencanaan

The CITY PATHOLOGICAL (1890-1901)
Permasalahan yang dihadapi adalah munculnya berbagai epidemi penyakit, seperti desentri, pes dan kolera yang diakibatkan oleh buruknya pelayanan sanitasi, di kota-kota besar yang tidak mampu mengantisipasi besarnya tingkat urbanisasi. Penanganannya melalui perbaikan sanitasi lingkungan dan peremajaan permukiman kumuh.

The CITY BEAUTIFUL (1901-1915)
Berkembangnya kota-kota kecil dan menengah menjadi kota besar dan munculnya kota-kota baru, dikembangkan dengan pendekatan perencanaan fisik, yang menghadirkan bangunan-bangunan dan lingkungan yang indah, dengan mengedepankan arsitek sebagai perencananya.

The CITY FUNCTIONAL (1916-1939)
Kota dikembangkan dengan memperhatikan fungsi kota, yang diwujudkan dalan penataan guna lahan yang sesuai dengan kapasitas dan kesesuaian lahan untuk menampung kegiatan penduduknya. Konsep rencana guna lahan dimulai pada era ini.

The CITY VISONARY (1923-1936)
Para perencana dan arsitek mengemukakan berbagai konsep tentang kota masa depan, dan menjadi masukan bagi pengembangan kota dengan tema-tema tertentu. Konsep-konsep kota-kota besar, seperti metropolitan, broadacre city, townless highway dikemukakan pada periode ini. Konsep pengembangan kota dengan mempertimbangkan perencanaan wilayah (regional planning) muncul pada masa ini.

The CITY RENEWABLE (1937-1964)
Pada masa ini, upaya untuk meremajakan kota-kota kuno dan bersejarah sangat diperhatikan. Termasuk memperhatikan kawasan-kawasan permukiman kumuh. Tujuannya adalah untuk memperbaiki lingkungan pusat kota yang mengalami degradasi kualitas.

The CITY GRASSROOTED (1965-1980)
Perhatian yang besar terhadap human rights yang muncul pada masa ini, mendorong munculnya perencanaan pembangunan kota yang lebih memperhatikan masyarakat, khususnya masyarakat pinggiran. Pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan kota secara mulai mengemuka pada masa ini.

The CITY THEORITICAL (1975-1989)
Pada masa ini, banyak perencana yang mengemukakan gagasan, ide, konsepnya tentang pengembangan kota. Perdebatan tentang teori perencanaan mulai mengemuka pada saat ini, dengan terbitnya banyak buku yang mengulas tentang bidang perencanaan kota.

The CITY ENTERPRISING (1980-1989)
Munculnya partisipasi pengusaha swasta yang besar pada pembangunan perkotaan, khususnya pembangunan sarana umum perkotaan, khususnya sarana hiburan. Konsep pembangunan sarana wisata Walt Disney mengemuka pada masa ini dan mempengaruhi kecenderungan pembangunan perkotaan di Amerika dan Eropa.

The CITY OF ECOLOGICALLY NIMBYSM (1980-1989)
Kota-kota berkembang pesat yang berkembang pesat dianggap dapat mempengaruhi keseimbangan lingkungan. Pembuangan sampah yang besar, alih fungsi lahan dan semakin terbatasnya sumber daya alam untuk mendukung kehidupan perkotaan, khususnya air bersih, menyebabkan munculnya perhatian yang besar untuk mengembangkan kawasan perkotaan dengan konsep-konsep lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Pada masa ini, ada upaya untuk mencegah munculnya pendekatan NIMBYS (Not In My Backyards) yang cenderung mengabaikan masalah lingkungan dalam pembangunan perkotaan.

The CITY PATHOLOGICAL REVISITED (1980-1989)
Munculnya berbagai masalah di perkotaan, seperti permasalahan lingkungan, penyakit-penyakit masyarakat, seperti HIV, kanker, sipilis dan sebagainya, menyebabkan perhatian kembalinya upaya untuk mengembangkan dan membangun kawasan perkotaan dengan konsep menangani penyakit-penyakit yang terdapat didalamnya.

Diambil dari Bahan Pengajaran Mata Kuliah Teori Perencanaan, Bapak Hadi Wahyono

Rabu, 27 Oktober 2010

Jadi Polisi

Jadi polisi itu susah, uangnya susah, kerjaannya susah, kalo ga berhasil nangkap teroris dianggap tidak mampu menangani upaya perterorisan di Indonesia, kalau ga mampu menangkap penjahat juga disalahin. Lha, bagaimana konsep pengayom masyarakat bisa diterapkan jika polisi belum mampu melaksanakan semua tugas dan kewajibannya dengan optimal? Seminggu yang lalu … saya tertangkap oleh Pak Polisi bagian Satlantas. Yah, maklum saja … saya yang salah karena melanggar lampu merah. Hehe, dah tahu merah malah asal ditabrak saja. Ya, dan begitu lah. Manusia Indonesia ya kebanyakan kayak saya ini, ga bener (saya tahu saya ga bener, tetapi ya begitulah), tidak mau repot-repot ngurus di pengadilan, mau gampangnya saja. Untunglah saya membawa seperangkat SIM dan STNK, jadi ya “cuma” kena 40 ribu. Pak Polisi mintanya 65 ribu, sih. Saya bingung sebenarnya … darimana asal dari 65 ribu itu? Apa sudah tercantum dalam Undang-Undang ataukah hanya Pak Polisinya sendiri yang menentukan? Oh ya, yang jelas memang aturan lalu lintas di jalan raya kota Semarang sangat ketat. Untunglah juga saya tidak ditangkap, karena saya tidak memakai helm ber-SNI. Hwa, tambah nangis saja kalau iya.

Jadi polisi di Kota Semarang itu susah. Mengapa? Karena rawan stres. Bagaimana tidak? Lalu lintasnya amburadul, bikin siapa saja mumet dan stres. Salah duanya ea di Jatingaleh dan Srondol pada jam-jam sibuk. Namun, belum seperti di Jakarta sih, yang macetnya sampe berhenti. Di Semarang, walaupun macet, motor saya masih bisa jalan kok. Hmm, tetapi … saya sebenarnya tidak setuju dengan kata temen saya beberapa minggu lalu yang mengatakan bahwa Kota Semarang mendapat predikat sebagai salah satu kota yang bebas macet. What! Sungguh ga percaya … di Jalan Prof. Soedharto Tembalang saja macet ug, padahal itu hanya jalan lokal. Masih membicarakan tentang pak polisi di Semarang, selain harus mengatur lalu lintas yang begitu amburadul, yang perlu diperhatikan adalah kantor pos polisi yang biasanya terletak di perempatan jalan. Wah, saya lihatnya rada ngenes. Kemaren itu, ada 3 orang pak polisi, tetapi pos polisinya itu lho … kecil banget. Sempit banget. Ketika berada di situ, rasanya jadi tertekan banget. Apalagi, pak polisinya yang sering ada di situ. Terkurung dalam tempat sesempit itu. Mending kerja di kantornya saja ya, lebih adem dan nyaman.

Lalu, masih berkaitan dengan aparatur negara yang satu ini, kemarin malam … 2 motor temennya adekku di 2 kos yang berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan ilang tanpa jejak. Wuh, si maling emang bener-bener canggih, bisa menggasak motor dalam 2 menit, sampe dirinya dikenal dengan julukan “siluman”. Nah, di sini ini, di Tembalang ini juga pak polisi bisa stres berat. Masa kalah canggih sama si maling? Dengan pencurian yang sebegitu banyaknya, terutama motor dan laptop, pak polisinya pasti bingung mau menangani kasus yang mana dulu. Laporan kehilangan memang diterima, tetapi apa yang kemudian dilakukan pak polisi setelah itu? Segera menerjunkan anggotanya untuk memburu si maling atau hanya berusaha menenangkan keluarga yang kehilangan. “Sabar … sabar, Pak, Bu. Kasus segera saya tangani,” apa cuma begitu saja? Padahal, keluarga yang kehilangan sungguh berharap bahwa si maling bisa ditangkap dan bila perlu digebuki (habisnya sebel, sih!).

Yah, begitulah … kinerja polisi harus terus ditingkatkan, supaya bisa mengayomi masyarakat, bukan cuma slogan tok. Bikin slogan itu gampang, tetapi emang tindakan di lapangannya itu yang tidak gampang. Jadi polisi itu susah, tetapi hal ini hanya berlaku bagi para polisi yang setia menjalankan tugasnya, benar-benar mengabdi pada tugasnya. Kalau pak polisi yang masa bodoh dan dibenci masyarakat sih, …

Kamis, 21 Oktober 2010

Pangeran Katak

“Tuhan, mengapa semua menjadi begini? Aku merasa tidak akan sanggup lagi menjalani hidup, Tuhan. Apa yang harus kulakukan? Hidupku tidak pernah sama lagi sejak dia meninggalkanku,” keluhku dalam hati.
Sudah berpuluh tempat aku jelajahi untuk melupakan Gilang, tetapi hasilnya nihil alias nol besar. Percuma saja! Walaupun dia pergi ke ujung dunia atau kemanapun, bayangan Gilang selalu tampak di depan mataku. Menghantuiku!
Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Hening. Hanya ada angin yang berhembus perlahan dan membelai rambutku. Mengingatkanku kembali akan masa-masa indah bersamanya. Aku tertawa sekaligus menangis.
“Putri …”
Tiba-tiba ada sepotong suara yang mengagetkanku. Namun, tidak ada siapapun di padang rumput ini. Sama sekali tidak ada satupun manusia di sini. Dan, aku mulai berpikir yang tidak-tidak.
“Jangan-jangan, ada …,” aku tidak sanggup meneruskan ucapannya. Lututku bergetar hebat, jantungku pun ikut berdebar kencang, bahkan kesedihanku tadi menguap begitu saja entah kemana.
“Putri …”
Suara itu memanggilku lagi. Kini aku benar-benar tidak bisa bergerak. Semua anggota tubuhku seketika telah menjadi batu. Berdiri pun tidak sanggup, apalagi berteriak minta tolong.
Setelah sekian menit berubah menjadi patung, aku akhirnya bisa mengeluarkan suara juga.
“Ka … kamu siapa?” kataku seperti orang yang sedang tersedak.
Hening beberapa saat.
“Aku ada di sini, Putri. Di dekat sepatumu.”
Hah? Aku hanya terbengong mendengarnya. Kuarahkan juga mataku untuk melihat ada apa di kakiku.
“Kataaaaaak,” tanpa sadar aku berteriak sekencang-kencangnya. Setelah agak tenang, otakku mulai berpikir. Bagaimana mungkin ada seorang katak hijau yang dapat berbicara? Ini kan bukan negeri impian. Bukan negeri dongeng seperti dalam buku-buku cerita yang pernah kubaca sewaktu kecil. Apakah ini nyata? Kucubit pipiku untuk memastikan bahwa semuanya hanyalah mimpi belaka, dan aku akan segera terbangun di tempat tidurku yang nyaman.
Aduh! Pipiku terasa sakit. Dalam sekejap, dunia seakan berputar di sekelilingku.
“Putri, kamu tidak apa-apa?”
“Jangan panggil aku putri. Aku bukan putri,” aku berteriak pada katak itu.
Kaget, bingung, takut bercampur aduk menjadi satu dalam diriku.

“Ibu, aku pulang,” kataku seraya menenangkan diri. Menganggap bahwa apa yang kualami setengah jam yang lalu hanyalah ilusi semata. Titik!
“Kamu makan dulu sana.”
“Iya.”
Setelah makan, aku kembali ke kamar. Namun, aku melihat seekor makhluk sedang bertengger di atas kasurku.
“Kyaaa,” aku berteriak kencang.
“Ada apa, Ndin? Ada apa?” kata Ibu berlari penuh kepanikan menuju kamarku.
“Tidak. Tidak ada apa-apa kok, Bu. Tadi aku cuma kaget liat katak di atas tempat tidur. Tapi, sekarang kataknya sudah pergi, kok. Maaf, Bu.”
“Cepetan tidur. Sudah malam,” jawab Ibu.
Aku mengangguk.
“Bagaimana katak bisa masuk ke kamarku?” tanyaku heran. Namun, ketika melihat jendela kamarku yang masih terbuka, aku langsung diam.
“Pergi!” Aku mengarahkan sapu ke tubuh katak itu.
Akan tetapi, suara itu tiba-tiba terdengar lagi.
“Jangan, Putri!”
Sapuku mengawang di udara.
“Kamu bisa berbicara?” tanyaku terbata.
“Iya, Putri.”
Aku tidak berani berkata apa-apa. Seakan kakiku sudah terpaku di lantai. Mau lari pun rasanya tidak sanggup.
“Kamu siapa?”
“Aku, Putri?”
“Siapa lagi?”
“Aku Pangeran Suryo.”
“Hah?”
Mana mungkin? Saat ini kan sudah modern, mana ada cerita dongeng seperti itu? Aku tertawa. Sampai-sampai rasanya tidak bisa berhenti.
“Aku serius, Putri.”
“Katak, aku bukan Putri,” kataku pada katak itu sambil terus tersenyum. “Aku Andin.”
“Aku serius, Putri Andin.”
“He … he … he …, jangan panggil aku Putri. Tidak cocok, dan aku bukanlah putri.”
“…”
“Jadi, bagaimana Pangeran bisa kembali menjadi manusia? Berarti, harus ada seorang cewek yang mencium Pangeran, ya?”
“Mungkin.”
“Hah? Beneran?”
“Mana aku tahu.”
“Pangeran mau kucium? Sini!” kataku setengah bercanda.
“Ogah! Dicium cewek seperti kamu bisa mati aku!” Nah nah, mulai muncul sifat asli seorang pangeran. Ga elit!
“Ih, menghina. Ya sudah, terserah Pangeran. Sana! Minggir dari kamarku! Pangeran tidur di lantai saja! Makan tuh nyamuk!”
“Kamu berani kasar dengan Pangeran! Biar kalau aku menjadi manusia lagi, aku akan menyuruh pengawalku untuk menangkapmu! Seorang Pangeran tidak mungkin tidur di lantai! Kamu saja yang tidur di lantai!”
“Apa? Ini katak berani ngatur-ngatur! Tidak bisa. Pangeran harus minggir. Siapa tahu Pangeran cuma ngaku-ngaku, aku kan tidak tahu.”
“Tiba-tiba, suara Ibu mengagetkanku.
“Andin, kamu bicara dengan siapa?” seru beliau dari luar kamar.
“Nggak kok, Bu. Aku cuma ngomong sendirian.”
Kruyukkk.
“Ndin, suara apa itu?”
“Oh, malam dingin begini membuatku lapar lagi.”
“Ya, sudah. Di dapur masih ada makanan.”
“Makasih, Bu.”
Aku pun mengambil makanan, melewati kamar Ibu. Untunglah, beliau sudah kembali tidur.
“Nih, makanan. Pangeran lapar, kan?” Aku menyodorkan sepiring makanan ke dekat kaki katak itu.”
Aku tersenyum. Aku seperti menemukan mainan baru. Dan, aku seakan merasa bagaikan seorang putri dari negeri dongeng. Ya, walaupun tidak mungkin menjadi nyata.
Sambil mengunyah makanan, katak itu berkata,” Hmm, makanannya enak sekali. Ibumu memang pandai memasak.”
Aku hanya tersenyum mendengarnya.
“Tidur sana! Pangeran di bawah, aku di atas.”
“Nggak bisa. Kita tidur sekasur saja. Biar lebih gampang. Masa Pangeran tidur di lantai?”
“Dasar Pangeran manja! Siapa tahu sebenarnya kamu ini cuma tukang becak.”
“Jangan berani kurang ajar ya sama Pangeran!”
Karena kelelahan, aku tertidur dan nggak mikirin lagi pangeran tidur dimana.

Keesokan pagi …
“Selamat pagi, Ndin.”
“Pagi,” jawab Andin.
Ketika membuka mata, Andin hampir pingsan melihat seekor katak telah berada di atas selimutnya.
“Aaaa …,” Andin berteriak sekencang-kencangnya, tetapi beberapa detik kemudian, dia menutup mulutnya sendiri. Takut mengganggu orang rumah yang masih terlelap.
“Pangeran jangan seenaknya gitu, dong. Masa baru membuka mata, aku langsung melihat sepasang mata yang memandangku,”protes Andin marah,” mentang-mentang pangeran bisa berbuat seenaknya. Kalau aku mati kena serangan jantung, pangeran lah yang akan aku hantui.”
“Suka-suka, dong. Oh ya, banyak yang salah, tuh. “
“Hah?” Andin tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Pangeran.
“Matematika dan Bahasa Inggris. Aku liatnya sambil menahan tawa, lho. Masa soal-soal segampang itu saja nggak bisa.”
“Emang umur Pangeran sekarang berapa?”
“…”
“Berapa?”
“17 tahun.”
“Hah, berarti kita sebaya, dong.”
“Iya, yang membedakan kita, kamu tuh bodoh, sedangkan aku pinter.”
“Nyebelin banget nih Pangerab. Padahal, pangeran yang berada dalam impianku selalu ramah, sopan, pengertian, tampan, dan punya segudang kebaikan lainnya. Wew! Tapi, Pangeran yang satu ini beda banget dari harapan,” kata Andin dalam hati.

“Pangeran, makasih ya,” Andin tertawa-tawa ga jelas gitu di depan seekor katak. Kalau ada yang melihat, pasti bakal menyangka kalau Andin sudah sakit jiwa. Untunglah, saat itu dia sedang ada di kamar.
“Nih, makanan enak buat Pangeranku.”
“Emang ada apa?” tanya Pangeran heran.
Andin tersenyum bahagia.
“Tadi, PR kuu paling perfect, lho.”
“Selamat, ya,” kata Pangeran datar.
“Kok tanggapannya gitu?”
“Biasa aja kenapa? Pake histeris segala.”
“Ya udah, terserah,” jawab Andin cemberut.
“Andin marah ya? Maaf.”
“Nggak mau. Pokoknya malam ini Pangeran tifur di bawah. Titik!”

Keesokan harinya, kemarahan Andin telah surut.
“Pangeran?” panggil Andin, tetapi tidak ada jawaban,” Pangeran, cepetan keluar, donk.”
Hening.
Andin tidak tahu lagi apa yang mesti dia lakukan. Sudah seisi rumah digeledah, tetapi tidak ketemu juga. Ibunya sampai heran melihatnya.
“Ada apa, Ndin? Kamu sedang mencari apa?”
“Katak,” jawab Andin singkat.
“Sejak kapan kamu suka katak?”
“Nggak tahu, Bu,” jawab Andin sambil mencari Pangeran di kolong meja makan.
Ibu masih terbengong keheranan, ketika Andin teringat pada suatu tempat.
“Ya, Pangeran pasti ada di sana.”

“Pangeran ada dimana?”
Teriakan Andin menggema di padang rumput. Beberapa orang yang sedang melintas melihatya dengan pandangan yang mengatakan bahwa dia telah sinting. Tapi, mau bagaimana lagi? Masa mencari seorang Pangeran? Di padang rumput? Memang mana ada sih yang percaya kalau ada seorang Pangeran yang berubah menjadi katak.
Sudah satu jam lebih Andin mencari di sela-sela rumput, di lubang-lubang pohon, tetapi tidak ada hasilnya. Dia merasa putus asa. Dia sudah lelah berjalan, sudah lelah berteriak. Akhirnya, Andin memutuskan untuk pulang, tentu saja dengan wajah cemberut dan menggerutu.
“Dasar Pangeran bodoh! Kalau ketemu, biar kuinjak dia.”
Namun, Andin tiba-tiba sadar,” Ngapain ya, aku memikirkan Pangeran? dia kan bukan siapapun. Kenal wajahnya saha tidak, ngaku-ngaku dari Keraton, padahal nggak ada beritanya sama sekali. Tapi, aku … sudah sepuluh hari kita bersama, bertengkar, tertawa.”
Tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak di rerumputan.
“Wah, Pangeran!” kata Andin sambil mendekati rumput itu. Namun, alangkah terkejutnya Andin, yang muncul justru seekor ular yang berdesis dengan jarak hanya setengah meter dari tempatnya berdiri. Sungguh, dia tidak berani bergerak selangkah pun. Ular itu perlahan-lahan mulai mendekatinya. Sumpah, baru kali ini dia bertatapan dengan ular. Andin melihat bisanya menyembur-nyembur keluar.
Hanya tinggal berjarak satu detik saja, ketika tiba-tiba seekor katak menerjang ular itu. Berusaha mengusirnya agar menjauhi Andin.
Dengan kepala matanya sendiri, Andin melihat bagaimana perjuangan katak itu. Bukankah makanan ular memang katak?
Hingga beberapa saat kemudian, katak itu terluka, seakan dia sudah menyerah sebentar lagi. Melihat hal itu, akhirnya Andin tidak bisa tinggal diam. Dia mencari apa saja yang dapat digunakan untuk menolong katak itu. Untunglah, dia kemudian menemukan batu tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tanpa berpikir panjang, Andin saat itu sudah tidak peduli lagi apakah ular itu akan menggigitnya, dia menghantamkan batu itu tepat ke tubuh ular, berkali-kali hingga ular itu pergi meninggalkan katak.
Andin segera bergegas mendekati katak itu dan meletakkannya dengan hati-hati di telapak tangannya.
“Pangeran! Bangun Pangeran!” kata Andin cemas. Sejak tadi Pangeran tidak juga membuka mata. Dia ternyata mengalami luka yang cukup parah di sekujur tubuhnya.
“Pangeran, apakah kau mendengar suaraku?” Namun, pangeran tidak juga bergerak.
“Ya Tuhan, semua ini salahku. Kalau saja Pangeran tidak menolongku, dia tidak akan menjadi begini,” batin Andin. Perlahan-lahan, air mata mulai mengalir membasahi pipinya, walaupun dia sudah berusaha menyekanya, tetapi masih saja tetap keluar.
Andin memeluk Pangeran,” betapa aku sangat menyayangimu, Pangeran. Sungguh, aku tidak ingin Pangeran menghilang dari hidupku.”
Tanpa terasa, air mata Andin menetes membasahi kepala katak.

Tiba-tiba, ada cahaya yang keluar dari tubuh katak. Cahaya yang sangat indah menyelimuti mereka berdua. Andin merasa silau. Dan, ketika membuka mata, dia telah meliha seorang pria yang sedang berdiri di hadapannya. Semua bagaikan mimpi.
Andin bingung. Sejak kapan ada seorang cowok di tempat ini? Namun, dia langsung sadar ketika katak yang ada di dalam pelukannya menghilang.
“Pangeran?”
Beberapa saat Andin terpana dan tidak bisa mengatakan apapun. Apakah ini hanya fatamorgana? Berulang kali dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanyalah mimpi.
Cowok ini, tidak seperti pangeran-pangeran Yogya yang selama ini dia bayangkan. Memakai blangkon dan segala atribut pakaian Jawa. Bukan! Cowok ini seperti dirinya, memakai baju biasa dan berpenampilan biasa pula. Namun, Pangeran memang mempunyai wajah tampan dan kharisma seorang pangeran.
“Terima kasih, Ndin. Aku tidak akan kembali menjadi manusia tanpamu.”
Andin tidak berkata apapun selama beberapa saat.
“Ti … tidak apa-apa, Pangeran. Seharusnya, aku yang berterima kasih karena Pangeran sudah menolongku.”

Hari-hari berlalu. Andin kembali menjalani kegiatannya sehari-hari. Kadang-kadang dia merindukan Pangeran, tetapi dia tahu jika dia takkan bertemu kembali dengan pangeran. Andin tidak percaya akan janji pangeran yang berkata bahwa suatu hari nanti pasti akan berkunjung ke rumah. Namun, kapan? Bukankah kata ‘suatu hari’ itu terasa begitu jauh?
“Hh …” Andin merasa lelah sekali hari ini dan memutuskan untuk membaca koran saja. Alangkah terkejutnya Andin ketika dia melihat salah satu artikel, yang berjudul “Pangeran telah Kembali.” Di koran itu, terpampang foto Pangeran Suryo, tidak mungkin Andin salah mengenalinya, sedang berpelukan dengan Sri Sultan. Menurut artikel itu, Pangeran sudah menghilang sejak tiga bulan yang llau, tetapi tidak disiarkan kepada publik, karena hanya akan membuat semua masyarakat merasa khawatir. Maklum, Pangeran Suryo merupakan pewaris tunggal Kesultanan.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang telah menolong saya. Seumur hidup, saya tidak akan melupakan kebaikan hatinya,” kata Pangeran Suryo.
“Ya Tuhan, ternyata Pangeran tidak melupakannya,” batin Andin tersenyum.

Hari Minggu yang cerah, Andin pergi ke mall bersama dengan teman-temannya. Ketika sedang memilih-milih barang, walaupun hanya sekilas, dia melihat Pangeran Suryo melintas.
“Tunggu sebentar, Mi,” katanya pada Ami.
“Oke, tapi jangan lama-lama!”
“Sip.”
Tanpa pikir panjang, Andin mengejar Pangeran.
Namun, alangkah terkejutnya dirinya, ketika melihat Pangeran berjalan berdampingan dengan cewek yang seusia dengannya. Kemudian, dia menyadari bahwa memang seorang rakyat jelata biasa seperti dirinya tidak boleh berteman dengan seorang Pangeran.
Pangeran yang ada di dalam mimpinya … menunggang seekor kuda putih dan menghampirinya.
Dan, bukankah kenyataan itu tidak seindah impian?

TAMAT

Rela

Tak ubah berbunga lalang
Rendahnya pandanganmu
Padaku yang amat memerlukan
Kegersangan sekeping hati
Mengharapkan setitis embun
Agar basah rindu ini

Aku yang terbuang
Sejak mula lagi
Puas ku merintih
Puas ku berduka

Ku hanya mampu berserah
Berserta doa harapan
Ubahlah haluan hidup ini

Demi cinta yang menyala
Kurela menggenggam bara api
Demi kasih yang mengharum
Sungguh aku rela

Biarpun pada pandangan
Seperti bunga yang layu terbuang
Namun kau pasti tahu
Semua kerna
Aku masih lagi setia padamu
Biar ku menangis seumpama pengemis

Ku hanya mampu berserah
Berserta doa harapan
Ubahlah haluan hidupku ini