Taman langitku semakin memudar
Seiring senyummu yang mulai sirna
Diam …
Kosong …
Kini, hanya bayangmu yang tersisa
Kudekap dirimu
Tak bisa …
Hingga, aku terlempar
dalam samudra keputusasaan
Tenggelam …
Sisakan khayal fatamorgana
Lonceng kembali berdentang
Mengaburkan nyanyian cintaku
Dan, kumulai rasakan retak di hatiku
Keruntuhan telah menyapa
Tinggal menuju puing
19 September 2006
Senin, 10 Agustus 2009
Seperti Hujan
Hujan baru saja berlalu
Sisakan curahan gerimis
yang kutahu,
takkan pernah berganti
dengan
rona tujuh warna pelangi
Rona tujuh bidadari
Hanya suram dalam hujan
Hanya sedih dalam sunyi
Sesuram mentari yang tersapu
awan pekat
Sesedih hatiku yang remuk,
tak lagi berbentuk
Tetes-tetes air mata
Tetes-tetes air hujan
saling mendekap erat
Tak terpisahkan
dari semua masa
Tak terkikis, selamanya …
3 Oktober 2006
Sisakan curahan gerimis
yang kutahu,
takkan pernah berganti
dengan
rona tujuh warna pelangi
Rona tujuh bidadari
Hanya suram dalam hujan
Hanya sedih dalam sunyi
Sesuram mentari yang tersapu
awan pekat
Sesedih hatiku yang remuk,
tak lagi berbentuk
Tetes-tetes air mata
Tetes-tetes air hujan
saling mendekap erat
Tak terpisahkan
dari semua masa
Tak terkikis, selamanya …
3 Oktober 2006
Tiada yang Lain
Aku mencoba ‘tuk tak peduli
Ketika kau mengepakkan xayap
terbang menuju langit berawan
dan bermanja pada bidadari
Aku mencoba ‘tuk tak peduli
Ketika kau meninggalkanku
dan memilih yanglain
Aku … mencoba ‘tuk tak peduli
Tapi, mengapa aku tak sanggup?
Aku selalu menunggumu
dan terus menunggu
Menuju dekap jiwamu
Dan, yang kutemui
Hanyalah harapan maya
tak terperi
05 September 2009
Ketika kau mengepakkan xayap
terbang menuju langit berawan
dan bermanja pada bidadari
Aku mencoba ‘tuk tak peduli
Ketika kau meninggalkanku
dan memilih yanglain
Aku … mencoba ‘tuk tak peduli
Tapi, mengapa aku tak sanggup?
Aku selalu menunggumu
dan terus menunggu
Menuju dekap jiwamu
Dan, yang kutemui
Hanyalah harapan maya
tak terperi
05 September 2009
Kisah Pangeran Katak
Apakah pangeran katak itu nyata? ataukah hanya cerita yang dibuat untuk anak-anak sebagai dongeng pengantar tidur?
Seorang pangeran tampan yang dikutuk oleh penyihir sehingga berubah menjadi katak. Kemudian, seorang putri mencium katak tersebut dan membebaskan sang pangeran. Mereka pun hidup bahagia selamanya.
Tidak ada yang salah dari cerita tersebut. Hanya saja, mengapa pangeran selalu saja digambarkan sebagai sosok yang tampan. Begitu pula sang putri yang berparas cantik nan jelita. Apakah orang yang pas-pasan seperti aku ini dapat menjadi putri?
Dunia memang tidak adil. Dunia hanya memandang sosok-sosok berwajah menarik. Kriteria cewek cantik menurut mata internasional, antara lain berkulit putih, rambut lurus sebahu, hidung mancung, kaki jenjang, langsing, tinggi badan proporsional, dan lain-lain. Weh, lalu bagaimana dengan orang yang tidak termasuk kategori-kategori tersebut? Apakah akan dicap sebagai orang yang memiliki paras jelek? Ya ya ya …, pernah dengar tidak, jika pada zaman Hitler berkuasa, orang-orang yang tidak memiliki fisik yang sempurna akan dibunuh di kamp-kamp kamar gas. Hitler ingin mendirikan bangsa dengan ras yang paling unggul di dunia.
Seorang pangeran tampan yang dikutuk oleh penyihir sehingga berubah menjadi katak. Kemudian, seorang putri mencium katak tersebut dan membebaskan sang pangeran. Mereka pun hidup bahagia selamanya.
Tidak ada yang salah dari cerita tersebut. Hanya saja, mengapa pangeran selalu saja digambarkan sebagai sosok yang tampan. Begitu pula sang putri yang berparas cantik nan jelita. Apakah orang yang pas-pasan seperti aku ini dapat menjadi putri?
Dunia memang tidak adil. Dunia hanya memandang sosok-sosok berwajah menarik. Kriteria cewek cantik menurut mata internasional, antara lain berkulit putih, rambut lurus sebahu, hidung mancung, kaki jenjang, langsing, tinggi badan proporsional, dan lain-lain. Weh, lalu bagaimana dengan orang yang tidak termasuk kategori-kategori tersebut? Apakah akan dicap sebagai orang yang memiliki paras jelek? Ya ya ya …, pernah dengar tidak, jika pada zaman Hitler berkuasa, orang-orang yang tidak memiliki fisik yang sempurna akan dibunuh di kamp-kamp kamar gas. Hitler ingin mendirikan bangsa dengan ras yang paling unggul di dunia.
Kisah Kasih
Senja ini, aku masih berpikir … adalah kasih di batas jauh di ujung cakrawala. Semalam, ali mengerti bahwa bayang kasihmu sudah tidak ada lagi. Bukan dia! Ya, dia bukanlah untukku! Relung-relung hati kami tiada cukup untuk saling mengisi.
Esok hari, aku sadar bahwa segalanya telah berakhir dan selesailah kisah kasih kaku yang telah membeku dan takkan pernah ‘kan mencair. Ingin ‘ku menangis, tetapi tiada lagi air mata yang tersisa. Di dalam hati, segala khayalku menggumpal.
Di malam hari, ingin kuhapus mimpi, kubuang jauh bayangmu, sulit. Namun, aku yakin, aku dapat. Mungkin, memang sudah nasibku. Cita dan cintaku harus hancur di persimpangan jalan. Aku mengerti, burung-burung di angkasa jauh lebih bahagia dariku. Lebih tenteram dan damai.
Jika malam mulai menyongsong, kunikmati desir angin dan kupandangi bintang-bintang. Aku ingin mereka tahu akan nasibku, mengerti isi hatiku, tetapi mereka hanya membisu dan balas menatapku.
Senja demi senja kulalui dengan pilu dan air mata yang kini mulai menetes. Menangisi puing-puing cinta dan citaku yang terserak di ambang kedewasaanku.
Di ujung pengharapan terakhir, kutengadahkan kepala, kupandang langit. Maafkan! Maafkan bila aku telah berbuat salah kepadamu. Kuharap, angin menyampaikan maafku padamu. Selamat tinggal dan selamat berbahagia. Hanya itu yang dapat terucap.
Esok hari, aku sadar bahwa segalanya telah berakhir dan selesailah kisah kasih kaku yang telah membeku dan takkan pernah ‘kan mencair. Ingin ‘ku menangis, tetapi tiada lagi air mata yang tersisa. Di dalam hati, segala khayalku menggumpal.
Di malam hari, ingin kuhapus mimpi, kubuang jauh bayangmu, sulit. Namun, aku yakin, aku dapat. Mungkin, memang sudah nasibku. Cita dan cintaku harus hancur di persimpangan jalan. Aku mengerti, burung-burung di angkasa jauh lebih bahagia dariku. Lebih tenteram dan damai.
Jika malam mulai menyongsong, kunikmati desir angin dan kupandangi bintang-bintang. Aku ingin mereka tahu akan nasibku, mengerti isi hatiku, tetapi mereka hanya membisu dan balas menatapku.
Senja demi senja kulalui dengan pilu dan air mata yang kini mulai menetes. Menangisi puing-puing cinta dan citaku yang terserak di ambang kedewasaanku.
Di ujung pengharapan terakhir, kutengadahkan kepala, kupandang langit. Maafkan! Maafkan bila aku telah berbuat salah kepadamu. Kuharap, angin menyampaikan maafku padamu. Selamat tinggal dan selamat berbahagia. Hanya itu yang dapat terucap.
Ruang Luar Stadion Joyokusumo 2
Gambar 1.1
Orang Lagi Bobok
Orang Lagi Bobok
Gambar 1.3
Lapangan Voli yang Menjadi Arena Bermain
Lapangan Voli yang Menjadi Arena Bermain
Pintu Gerbang Majapahit
Sejarah Pintu Gerbang Majapahit
Berdasarkan cerita yang saya dengar, kisah Pintu Gerbang Majapahit dimulai ketika Kebo Anabrang ingin memperistri putri Sunan Muria. Nah, syarat yang diajukan oleh putri tersebut cukup berat, yaitu mengangkat Pintu Gerbang Majapahit, dimana Kerajaan Majapahit itu sendiri terletak di Provinsi Jawa Timur. Demi cintanya yang sangat besar dan agar dapat menikah dengan sang putri, maka Kebo Anabrang menyanggupi dan berusaha memenuhi permintaan itu. Kebo Anabrang pergi ke Majapahit dan mulai mengangkat Pintu Gerbang Majapahit. Perjalanan dari Jawa Timur menuju Gunung Muria sangatlah jauh dan berat. Akhirnya, ketika sampai di desa Rendole, Kebo Anabrang sudah tidak kuat lagi. Hal ini mengingat kondisi geografis Desa Rendole yang mulai menanjak. Kebo Anabrang pun disuruh menunggu Pintu Gerbang Majapahit itu hingga meninggal dunia.
Walaupun hanya mitos – cerita dari mulut ke mulut yang tidak diketahui bagaimana kebenarannya, tetapi apabila dipikir secara nalar, rasanya tidak masuk akal juga. Bagaimana cara mengangkut pintu gerbang sebesar itu pada zaman dahulu? Dan, untuk tujuan apa pintu gerbang diangkat hingga Desa Rendole? Apalagi Pintu Gerbang Majapahit ini terbuat dari kayu jati yang telah berusia ratusan tahun. Bagaimana bisa kayu jati seawet itu? Apakah ada kekuatan magis yang melingkupi?
Daya Tarik dan Aksesibilitas Menuju Pintu Gerbang Majapahit
Saya sendiri masih heran, daya tarik apa yang sebenarnya terdapat pada Pintu Gerbang Majapahit? Apabila tidak mengetahui sejarah dari pintu gerbang tersebut, maka kita pun bisa-bisa hanya menganggapnya sebagai pintu reot yang berusia ratusan tahun. Nah, ketika mengetahui sejarahnya, kita pun dapat menjadi takjub, bagaimana mungkin Pintu Gerbang Majapahit tersebut masih berdiri kokoh dan tidak lapuk dimakan usia.
Sedangkan, aksesibilitas menuju Pintu Gerbang Majapahit cukup mudah. Jarak dari jalan lokal ke jalan lingkungan – atau dengan kata lain, jarak jalan lokal dengan gang masuk menuju Pintu Gerbang Majapahit sangatlah dekat, yaitu kurang dari 100 meter, dimana kondisi jalan yang tergolong baik – sudah beraspal. Sedangkan, jarak objek wisata ini dengan pusat kota hanya sekitar 4 kilometer. Apalagi, lokasi Pintu Gerbang Majapahit tidak jauh dari Stadion Joyokusumo. Ikuti saja jalur menuju Gembong, dan berhentilah ketika sampai tepat di depan SDN Muktiharjo. Di seberang jalan akan kita temui signate sederhana berwarna putih yang menjadi petunjuk keberadaan objek wisata Pintu Gerbang Majapahit.
Signate Pintu Gerbang Majapahit
Signate atau yang biasa kita kenal sebagai papan penunjuk jalan, merupakan suatu tanda penting bagi pengenalan Pintu Gerbang Majapahit. Besar kecilnya signate ataupun jelas tidaknya signate akan mempengaruhi minat seseorang untuk berkunjung. Wajar saja, sebab Pintu Gerbang Majapahit terletak di sebuah gang kecil, sehingga apabila kita tidak teliti, mungkin saja kita tersesat dan justru berputar-putar di jalan tanpa mengetahui arah. Bagi orang-orang yang tinggal di sekitar Pintu Gerbang Majapahit tidak akan menjadi masalah, tetapi untuk orang-orang Kabupaten Pati sendiri yang lokasinya jauh atau orang-orang dari daerah lain yang sengaja datang, sangatlah tidak lucu jika mereka tersesat. Kemudian, satu-satunya cara yang yang dapat ditempuh adalah dengan bertanya pada masyarakat yang berada sekitar Pintu Gerbang Majapahit. Langkah ini sangatlah tidak efektif bagi para pengunjung, karena dapat menimbulkan keengganan mereke untuk kembali mengunjungi salah satu objek wisat sejarah di Kabupaten Pati ini. Apalagi, ditambah dengan tiadanya papan informasi pariwisata, yang sedikitnya dapat menggambarkan potensi wisata apa saja yang dimiliki.
Perhatian Pemerintah Kabupaten Pati
Selama ini tidak ada biaya retribusi masuk ke objek wisata Pintu Gerbang Majapahit. Akan tetapi, mengapa jarang ada orang yang sekedar datang berkunjung? Walaupun ada, hanya ada serombongan kecil yang melihat-lihat. Apabila persepsi orang selalu diarahkan kepada “hanya melihat pintu gerbang”, maka tidak akan ada pengunjung yang tertarik.
Gambar 1.1
Pintu Gerbang Majapahit
Pintu Gerbang Majapahit
Walaupun hanya mitos – cerita dari mulut ke mulut yang tidak diketahui bagaimana kebenarannya, tetapi apabila dipikir secara nalar, rasanya tidak masuk akal juga. Bagaimana cara mengangkut pintu gerbang sebesar itu pada zaman dahulu? Dan, untuk tujuan apa pintu gerbang diangkat hingga Desa Rendole? Apalagi Pintu Gerbang Majapahit ini terbuat dari kayu jati yang telah berusia ratusan tahun. Bagaimana bisa kayu jati seawet itu? Apakah ada kekuatan magis yang melingkupi?
Daya Tarik dan Aksesibilitas Menuju Pintu Gerbang Majapahit
Saya sendiri masih heran, daya tarik apa yang sebenarnya terdapat pada Pintu Gerbang Majapahit? Apabila tidak mengetahui sejarah dari pintu gerbang tersebut, maka kita pun bisa-bisa hanya menganggapnya sebagai pintu reot yang berusia ratusan tahun. Nah, ketika mengetahui sejarahnya, kita pun dapat menjadi takjub, bagaimana mungkin Pintu Gerbang Majapahit tersebut masih berdiri kokoh dan tidak lapuk dimakan usia.
Sedangkan, aksesibilitas menuju Pintu Gerbang Majapahit cukup mudah. Jarak dari jalan lokal ke jalan lingkungan – atau dengan kata lain, jarak jalan lokal dengan gang masuk menuju Pintu Gerbang Majapahit sangatlah dekat, yaitu kurang dari 100 meter, dimana kondisi jalan yang tergolong baik – sudah beraspal. Sedangkan, jarak objek wisata ini dengan pusat kota hanya sekitar 4 kilometer. Apalagi, lokasi Pintu Gerbang Majapahit tidak jauh dari Stadion Joyokusumo. Ikuti saja jalur menuju Gembong, dan berhentilah ketika sampai tepat di depan SDN Muktiharjo. Di seberang jalan akan kita temui signate sederhana berwarna putih yang menjadi petunjuk keberadaan objek wisata Pintu Gerbang Majapahit.
Signate Pintu Gerbang Majapahit
Signate atau yang biasa kita kenal sebagai papan penunjuk jalan, merupakan suatu tanda penting bagi pengenalan Pintu Gerbang Majapahit. Besar kecilnya signate ataupun jelas tidaknya signate akan mempengaruhi minat seseorang untuk berkunjung. Wajar saja, sebab Pintu Gerbang Majapahit terletak di sebuah gang kecil, sehingga apabila kita tidak teliti, mungkin saja kita tersesat dan justru berputar-putar di jalan tanpa mengetahui arah. Bagi orang-orang yang tinggal di sekitar Pintu Gerbang Majapahit tidak akan menjadi masalah, tetapi untuk orang-orang Kabupaten Pati sendiri yang lokasinya jauh atau orang-orang dari daerah lain yang sengaja datang, sangatlah tidak lucu jika mereka tersesat. Kemudian, satu-satunya cara yang yang dapat ditempuh adalah dengan bertanya pada masyarakat yang berada sekitar Pintu Gerbang Majapahit. Langkah ini sangatlah tidak efektif bagi para pengunjung, karena dapat menimbulkan keengganan mereke untuk kembali mengunjungi salah satu objek wisat sejarah di Kabupaten Pati ini. Apalagi, ditambah dengan tiadanya papan informasi pariwisata, yang sedikitnya dapat menggambarkan potensi wisata apa saja yang dimiliki.
Perhatian Pemerintah Kabupaten Pati
Selama ini tidak ada biaya retribusi masuk ke objek wisata Pintu Gerbang Majapahit. Akan tetapi, mengapa jarang ada orang yang sekedar datang berkunjung? Walaupun ada, hanya ada serombongan kecil yang melihat-lihat. Apabila persepsi orang selalu diarahkan kepada “hanya melihat pintu gerbang”, maka tidak akan ada pengunjung yang tertarik.
Gambar 1.5
Pintu Gerbang Majapahit yang Dikelola
Balai Pelestarian Purbakala Jawa Tengah
Saya merasa, pemerintah daerah Kabupaten Pati kurang memberi perhatian terhadap obyek wisata ini. Dinas Kebudayaan yang dimiliki hanya berperan sebagai instansi saja, tanpa memiliki usaha apapun untuk lebih mengembangkan objek wisata di kabupaten tersebut? Apakah pemerintah daerah hanya mempedulikan objek wisata yang mampu mendatangkan keuntungan saja? Sebenarnya, tidak hanya Pintu Gerbang Majapahit saja, tetapi objek wisata lain juga tidak diperhatikan, berbanding terbalik dengan janji yang diucapkan pemerintah. Lalu, apa yang dikerjakan oleh Dinas Kebudayaan? Untuk apa Dinas Kebudayaan ada, sedangkan tidak memiliki fungsi? Apa hanya ingin pamer saja? Saya ingin tahu …Pintu Gerbang Majapahit yang Dikelola
Balai Pelestarian Purbakala Jawa Tengah
07 Agustus 2009
Aku Sudah Mencoba
Di kala sang mentari kembali meredup
dan tertutup
oleh raksasa yang bertengger gagah
Senja kemerahan menyiram tubuhku
Hangat
Kehangatan yang tak mampu
meresap ke dalam jiwa
Kuberlari menyongsong hadirmu
di tempat itu,
di atas pelangi
yang membawa kita menari
bersama mega
Dalam dinginnya air telaga
Kucipta impian
Kutata harapan
Dan, mungkin bila nanti
Leleh air mataku
‘kan ada
Aku tak menyesal
Karena …
Karena aku sudah mencoba
9 Oktober 2006
dan tertutup
oleh raksasa yang bertengger gagah
Senja kemerahan menyiram tubuhku
Hangat
Kehangatan yang tak mampu
meresap ke dalam jiwa
Kuberlari menyongsong hadirmu
di tempat itu,
di atas pelangi
yang membawa kita menari
bersama mega
Dalam dinginnya air telaga
Kucipta impian
Kutata harapan
Dan, mungkin bila nanti
Leleh air mataku
‘kan ada
Aku tak menyesal
Karena …
Karena aku sudah mencoba
9 Oktober 2006
Selasa, 04 Agustus 2009
Ruang Luar Stadion Joyokusumo 1
Langganan:
Postingan (Atom)















