Sabtu, 30 Mei 2009

Lapangan Mataram Pekalongan


Lapangan Mataram terletak di Kelurahan Podosugih, Kota Pekalongan, tepatnya di depan Kantor DPRD dan Kantor Walikota Pekalongan. Nama Mataram ini tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan Kerajaan Mataram ataupun kerajaan-kerajaan lainnya. Mungkin, nama Mataram ini diambil dari nama jalan yang ada di depan lapangan tersebut, yaitu Jalan Mataram.

Ada banyak hal yang membuat Lapangan Mataram menjadi menarik di mata saya. Saya pun jatuh cinta pada pandangan pertama, walaupun belum bisa mengalahkan rasa sayang saya pada Simpang Lima di Kota Pati. Lapangan Mataram ini tidaklah berfungsi sebagai alun-alun, melainkan sebagai pusat aktivitas masyarakat di sekitarnya. Namun, yang perlu ditanyakan adalah pusat kegiatan apa saja yang ada di sana?

Luas Lapangan Mataram sangat memadai untuk bermain sepak bola, hingga sanggup menampung beberapa tim sepakbola sekaligus dengan sepasang gawang yang berada di sisi utara dan selatan. Apalagi ditambah dengan rumput yang selalu hijau di lapangan, sehingga apabila ada seorang pemain yang terjatuh, maka dia tidak akan terluka parah (hanya menggesek rerumputan, bandingkan dengan kondisi lapangan yang gersang, tandus, dan tidak ada pepohonan yang melingkupinya). Selain itu, Lapangan Mataram juga dikelilingi oleh paving lebar yang digunakan oleh masyarakat untuk jogging, terutama pada sore hari. Sebenarnya, tidak ada masalah dengan kondisi paving, hanya saja luas paving tersebut menyusut karena digunakan oleh pedagang kaki lima untuk menggelar tikar-tikar (semacam lesehan) dan tempat parkir bagi kendaraan tak bermotor (sepeda, becak) serta kendaraan bermotor (sepeda motor). Hal ini tentu saja akan mengganggu kenyamanan pejalan kaki. Bahkan, tidak jarang pula ada sepeda motor melintas di atas paving. Walaupun fasilitas umum dibangun untuk memenuhi kebutuhan publik, tetapi tetap saja ada aturan alias norma-norma tertentu yang harus dipenuhi oleh pengguna fasilitas tersebut.

Ada satu hal yang membuat keberadaan Lapangan Mataram berbeda dan terasa unik, yaitu jaringan hotspots yang terselenggara atas kerjasama dari pemerintah Kota Pekalongan dengan PT Telkom. Tidak hanya pagi dan siang hari, pada saat malam hari pun Lapangan Mataram dipadati oleh orang yang ingin berinternet ria secara gratis. Namun, yang disayangkan adalah kapasitas hotspots yang masih terbatas, sehingga untuk membuka satu situs saja diperlukan waktu connecting yang lama. Hal ini tentu saja akan mengurangi kenyamanan pengguna.

Pelayanan Hotspots di Lapangan Mataram
Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2009

Lapangan Mataram juga merupakan titik pertemuan dari empat jalan besar, di antaranya adalah Jalan Kurinci (jalan dimana Passer Podosugh berlokasi) dan jalan yang menuju Perumahan Bina Griya (dua jalan lainnya saya tidak tahu …). Salah satu alasan pembangunan lapangan ini adalah untuk memecah arus kendaraan yang melintas, sehingga tidak akan terjadi kemacetan. Apabila tidak ada Lapangan Mataram dan jalan tersebut hanya merupakan simpang empat biasa, maka dikhawatirkan akan terjadi kekacauan maupun kepadatan kendaraan pada pertemuan jalan-jalan tersebut.

Selain sisi positif yang ditonjolkan, ada satu masalah kecil (dan akan menjadi besar apabila dibiarkan) yang cukup krusial di hampir seluruh kota di Indonesia, termasuk Kota Pekalongan, yaitu keberadaan pedagang kaki lima. Selain merusak keindahan dengan gerobak-gerobak mereka yang berwarna-warni, para pedagang kaki lima juga suka membuang sampah di selokan pinggir Lapangan Mataram. Tentu saja, saluran drainase tersebut menjadi kotor dan berbau, yang dikhawatirkan akan terjadi bencana banjir pada musim penghujan (maupun penyakit-penyakit). Kemudian, pedagang kaki lima pun sering menggunakan badan jalan untuk berjualan. Dan, hal ini mengganggu arus lalu lintas kendaraan yang lewat maupun kenyamanan pengguna. Kapasitas jalan yang seharusnya digunakan secara penuh menjadi bekurang karena adanya pedagang kaki lima.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar