Senin, 04 Februari 2008

Adakah Bahagia Untukku? ( II )

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dicka. Dia berusaha menahan sakit yang menjalar, juga air matanya yang mati – matian ditahan agar tidak mengalir turun. Ayah tidak suka dengan anak yang cengeng. Lagipula, laki – laki tidak boleh mengeluarkan air mata.
“Yah, apa salah Dicka?”
“Masih berani bertanya apa salahmu, hah? Dasar anak keparat. Pergi saja sana ke neraka.”
Dicka hanya terdiam menedengar perkataan ayahnya. Hatinya merasa sangat sakit. Dia sering bertanya – tanya apakah bagi ayah dia hanyalah seonggok sampah busuk yang harus dilempar ke tengah jalanan?”
“Pukul saja. Biar sekalian Dicka mati. Biar ayah tidak malu lagi punya anak seperti Dicka,” katanya sinis.
“Kamu … kamu sudah berani melawan ayah, ya!” gertak ayahnya sambil melayangkan tinjunya ke wajah Dicka.
Tubuh Dicka terjengkang menabrak kursi yang ada di belakangnya. Darah tampak meleleh di sudut bibirnya.
Dicka masih tersungkur di lantai yang dingin. Sedangkan ayahnya berdiri angkuh di hadapannya.
“Bangun!” suara ayah menggelegar di telinga Dicka. Detik berikutnya, ayah mencengkeram kerah bajunya dan menghujaninya dengan pukulan yang seakan tak pernah berhenti. Mengapa ayah tega melakukan ini semua kepadanya?
Setelah itu, Dicka merasakan matanya menjadi kabur. Dia tidak melihat benda – benda di sekitarnya dengan jelas. Lalu, semua menjadi gelap.

Dulu, dulu sekali …, mereka adalah kelaurga yang bahagia. Walaupun ayah adalah seorang tentara berpangkat rendah dan ibu hanya membuka warung di depan rumah, dia mendapat kasih sayang yang utuh. Hingga suatu hari … pertengkaran itu terjadi. Pertengkaran yang mengubah hidup Dicka. Menjadi suram. Gambaran tentang sebuah keluarga yang harmonis sudah menghilang.
Dicka mengintip dari sela – sela pintu yang terbuka.
“Dasar wanita laknat! Berani – beraninya kau main mata dengan pria lain selama aku tidak ada di rumah,” ayah berteriak sambil menjambk rambut ibu. Ibu pun meronta lepas dari cengkeraman tangan ayah.
“Mana?” Mana janjimu dulu untuk membuatku bahagia?” ibu tidak kalh garang dari ayah.
Dicka memandang mereka berdua dengan ketakutan. Selama ini, dia tidak pernah melihat ayah dan ibunya saling mencaci maki. Dicka kecil, hanya tahu bila ibunya adalah seseorang yang lembut, tak pernah memarahinya dan ayah yang sayang padanya. Mengapa semuanya jadi begini?
“Aku sudah memberimu kebahagiaan.”
“Kebahagiaan apa? Rumah sempit dengan perabotannya yang dekil?”
Kali ini, ayah tidak menjawab.
“Sekarang, mau kamu apa?”
“Aku sudah tidak tahan lagi. Aku ingin keluar dari rumah sialan ini,” kata ibu sambil memasukkan baju – bajunya ke dalam tas.
“Kamu mau kemana?”
“Bukan urusanmu. Aku minta kau menceraikanku.”
“Tapi aku mencintaimu.”
“Makan saja cinta itu. Aku tidak butuh!”
Ibu pergi dari rumah tanpa sekalipun menoleh ke arah Dicka. Padahal, dia berada di dekat situ.
“Ibu … Ibu jangan pergi,” kata Dicka perlahan sambil membuntuti ibunya sampai di depan rumah. Dia pun menarik – narik baju ibunya.
“Lepaskan!” hardik ibunya kasar,”sana tinggal sama ayah.”
Dicka memandang ibunya samapi dia benar – benar berlalu. Kini, dia menemukan kenyataan yang pahit. Ibu tak pernah menyayanginya. Ibu meninggalkannya di saat dia sangat membutuhkan belaian kasih sayang.
Laulu, dia menghampiri ayahnya yang sedang tertunduk di dalam kamar.
“Ayah, kenapa Ibu pergi?” tanya Dicka.
“Anak sialan! Pergi jauh – jauh dari Ayah!”
“Tapi …”
“Pergi!” bentak ayahnya lagi.
Dicka kecil memang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi telah terjadi antara ayah dan ibunya. Yang dia tahu, saat itu ayahnya hanya ingin sendiri.

Sepeninggalan ibu, perangai ayah menjadi berubah. Dia suka marah – marah hanya karena alasan yang sepele. Dia tidak pernah menggendong Dicka lagi seperti dulu. Ayah membiarkannya tumbuh sendiri tanpa pernah memberi perhatian yang cukup. Tak jarang, ayah memukulnya sampai Dicka menangis ketakutan. Apalagi, bila dia menyebut – nyebut nama ibu, ayah akan semakin menambah keras pukulannya.
“Ibu sudah mati! Mati! Ayah berteriak gusar,”ingat itu baik – baik,”
Dicka tidak berani membantah. Tidak hanya tubuhnya yang babak belur, tetapi juga prestasi di sekolahnya. Beberapa kali, dia dikeluarkan dari sekolah gara – gara berkelahi dengan murid lain. Guru – guru pun sampai kewalahan menghadapinya. Sewaktu SD, nilai akademik Dicka tidak bermasalah. Dia selalu menjadi juara kelas. Akan tetapi, bukankah dunia seringkali terasa tidak adil?

Mejelang usianya yang beranjak dewasa, Dicka pernah mengunjungi ibunya selama satu minggu. Namun, hanya kekecewaan yang dia temukan. Bukan pelukan sayang atau dekapan rindu.
Ibu tak pernah menganggapku hadir ke dunia, pikir Dicka getir.
Dia sama sekali tidak diacuhkan. Tidak pernah diperhatikan. Ibu tidak pernah sekalipun rindu kepadanya.
“Ibu, bolehkah aku memelukmu?” tanya Dicka. Namun, ibu hanya memandangnya dengan tatapan yang kosong, seolah dia adalah orang lain yang tidak punya hubungan apa – apa. Seolah tidak ada ikatan di antara mereka berdua.
“Ibu, bolehlah aku memelukmu?” ulangnya. Berharap ibunya akan datang dan menggendongnya, mengucapkan kalimat yang selama ini terus dirindukannya,” ibu menyayangimu, nak.”
Akan tetapi, ibu berlalu begitu saja, tanpa berkata apa – apa.
“Ibu, apa salahku? Mengapa kau perlakukan aku seperti ini?” batin Dicka putus asa.
Akhirnya, dia memutuskan untuk pulang ke rumah. Dengan menjinjing tas kecil, dia berjalan terseok – seok tanpa semangat. Dia merasa kecil, terbuang, dan mungkin saja dibuang. Ketika menoleh, dia melihat ayah tirinya, suami ibunya yang baru, memandang kepergiannya dari depan pintu. Tak ada yang berbaik hati, walaupun hanya berpura – pura, untuk mengantarnya pulang.
Sesampai di rumah, ayah tenang – tenang saja menyambut kepulangannya. Ayah seakan tidak khawatir dia pergi kemana pun asal tidak menyusahkannya saja.
“Darimana?” tanya ayah sambil lalu.
Dengan takut – takut, Dicka menjawab,”Dari rumah ibu, yah.”
“Apa?” kata ayah dengan geram,” Apa katamu?”
Dicka hanya menunduk, tidak berani menatap mata ayahnya.
“Dari … rumah ibu,” ulang Dicka pelan. Pelan sekali. Tetapi, Dicka tahu bila ayah mendengarnya.
Lalu, dunia seakan menjadi neraka bagi Dicka. Ayah mencengkeram pundaknya dan mulai membenturkan kepalanya ke dinding hingga dinding itu berubah warna menjadi merah.
“Ampun, yah …” kata Dicka memelas.
“Perempuan laknat seperti dia tak pantas menjadi ibumu.”
“Ya, Dicka berjanji nggak akan pernah menemui Ibu lagi.”
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Dicka, menuruni pipinya. Kepalanya sakit sekali, samapai mau mati saja rasanya. Bahkan, dia sempat berdoa kepada Tuhan, yang kata orang – orang ada di atas sana,” Tuhan, ambil saja nyawaku ini. Aku tidak ingin hidup lebih lama lagi.”
Namun, Tuhan tidak pernah mau mengabulkan permohonannya. Dicka masih saja terbangun menatap dunia nyata.
“Bagus!” katanya pada Dicka. Lalu, ayah tersenyum sambil menyeringai. Seringai yang terasa menakutkan bagi Dicka. Ayah tidak pernah main – main dengan ancamannya.
Dicka berjalan tertatih – tatih menuju ke kamarnya, kalau bisa disebut sebagai kamar. Semuanya berantakan di sana sini dengan perabotan yang sudah tua. Meja, tempat tidur, almari tidak pernah diganti sejak dua puluh tahun yang lalu. Yang terbaru, hanyalah poster Maroon 5 yang baru dipasangnya tiga hari yang lalu.
“Kamu mau tahu caranya bunuh diri?” Tiba – tiba, Dicka mendengar sebuah suara dan dia menjadi kaget.
“Apa?” katanya pelan. Entah pada siapa dia bertanya.
“Kamu mau tahu caranya bunuh diri?” Suara itu kembali terdengar. Bulu kuduk Dicka sudah benar – benar meremang sekarang.
“Gantung dirimu pada seutas tali.”
“Minum alat pembasmi nyamuk.”
“Campur air dengan racun tikus.”
“Potong nadimu dengan pisau dapur.”
Suara itu terdengar berulang – ulang memenuhi isi kepala Dicka. Tidak mau berhenti, walaupun dia sudah menutup rapat – rapat telinganya.
“Mau kamu apa?” teriak Dicka dengan hati berdebar.
“Dicka kamu sudah terlalu lama menderita. Sudah saatnya kau mengakhiri semuanya. Kamu tahu? Keluargamu tidak pernah menyayangimu. Bahkan, mereka selalu meyalahkanmu walaupun kamu tidak berbuat kesalahan. Ayahmu memukulimu, padahal kamu hanya ingin membelanya saat teman – temanmu menjulukinya ‘si tukang mabuk’. Juga, ibumu yang tidak pernah mencintaimu, walaupun kau selalu berusaha menyenangkan hatinya.
“Tidak! Ayah dan ibu menyayangiku.”
Suara itu membantah,”Apa buktinya? Mereka justru menelantarkanmu. Mereka terlalu egois dan hanya mementingkan kesenangan pribadi. Dicka … kamu tidak berharga … tidak berharga … tidak berharga …”
“Lalu, apa yang harus aku lakukan?”
“Ambillah pisau di meja dan potong nadimu.”
Seperti ada tenaga tak terlihat yang memaksanya untuk mengambil pisau itu. Dan, cress … darah pun muncrat kemana – mana.
Dicka terbangun dengan napas terengah – engah. Bajunya basah terkena keringat yang mengalir deras. Ya, ternyata dia telah bermimpi buruk, sangat buruk. Tanpa sadar, dia tertidur tadi.
Ketika keluar dari kamar, dia tidak melihat ayahnya. Badannya masih terasa sakit. Apalagi, jika nanti digunakan untuk mandi, dia pasti akan meringis menahan sakit. Ya! Selama ini, dia memang sering memancing kemarahan ayahnya. Tetapi, kali ini berbeda. Dia berkelahi bukan untuk pamer, dia benar – benar menggunakannya untuk kebenaran, kalau memang dia masih pantas untuk menyebutnya. Namun, ayah tidak sedikitpun percaya pada ucapannya.
Kebahagiaan tidak pernah lagi singgah di hatinya, hingga dia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi bahagia. Selama ini, dia hidup dengan menyimpan perasaan iri, marah, sedih, kecewa yang tidak pernah habis.

Saat ini, Dicka ada di depan rumah Ana, bersembunyi di balik kerimbunan pohon. Lama, dia memandang sekeliling. Tak ada siapapun. Entahlah, ketika dia mengendarai motornya, dia ingin pergi ke sini.
“Dicka!” panggil seseorang. Dia pun segera menoleh dan melihat Ana sedang menatap heran kepadanya.
“Wajahmu kenapa? Berkelahi lagi?” tanya Ana khawatir,”ayo masuk!”
“Aku boleh masuk ke rumahmu?”
“Ya iyalah. Lagian ngapain kamu di situ dari tadi?”
Jadi, Ana sudah lama melihat aku, pikir Dicka.

Dalam sepuluh menit berikutnya, Ana mulai menasihatinya macam – macam sambil mengoleskan antiseptik. Intinya, Ana menyuruh Dicka supaya tidak berkelahi lagi sampai babak belur seperti ini.
“Jadi, siapa yang memukulmu?” tanya Ana akhirnya.
Sebenarnya, Dicka tidak ingin mengatakannya, tetapi Ana terus saja mendesak. Dia pun menyerah dan menjawab singkat,”Ayah.”
“Hah?” kata Ana terlonjak kaget,”jadi, semua ini gara – gara aku?”
“Iya, makanya aku jadi begini. Gara – gara ngebelain kamu,” kata Dicka terus terang. Namun, kemudian dia segera menyambung,”nggak apa – apa. Sudah biasa! Lagipula, tindakanku benar, kok.”
“Sudah biasa apanya?”
“Sudah biasa dipukul,” kata Dicka. Ana samapi merasa heran, Dicka mengucapkannya dengan enteng sekali.
“Mengapa kamu peduli padaku?”
“Yah, anggap saja sebagai balas budi. Aku nggak akan pernah melupakan apa yang sudah kamu lakukan untukku. Bagaimana kalau kita berteman?”
“Kamu mau berteman dengan orang seperti aku?” Dicka sempat menyangsikan ucapan Ana.
“Emangnya ada apa denganmu?”
“Aku beritahu, ya. Aku itu kasar, jelek, suka berantem, kebut – kebutan, …”
“Kalau memang begitu, apa salahnya? Aku percaya kamu bisa berubah jika kau mau.”

Bekerja Itu Penting !!!

Ibu selalu menanamkan kepada kedua anak gadisnya, yaitu aku dan adikku untuk bekerja. “Wanita harus bekerja,” kata beliau mantap. Ya, aku benar – benar mengerti apa maksud ibu sebenarnya. Beliau tidak ingin membiarkan anak – anaknya hidup tanpa mempunyai pegangan yang berarti. Uang memang bukan segalanya, tetapi uang itu penting.

Walaupun terlahir sebagai seorang wanita, bukan berarti kita mau saja untuk dilecehkan oleh kaum pria. Saat membuka mata pertama kali ke dunia, HAM sudah melekat pada diri kita. Pria dan wanita mempunyai hak dan kewajiban yang sama.

Aku sangat tidak senang dengan suatu produk kecantikan, dimana di situ disebutkan bahwa seorang suami menjadi lebih mencintai istrinya karena sang istri bertambah cantik setelah memakai produk tersebut. Pada intinya, ternyata sang suami selama ini hanya memandang istrinya dari segi fisik saja. Mungkin, bila sang istri sudah berumur, sudah tua, tidak tertutup kemungkinan suami mencari wanita yang masih muda dan cantik. Nah, bayangkanlah seandainya kita tidak mempunyai penghasilan …! Kita tidak akan bisa berbuat apa – apa, karena kita tergantung secara ekonomi pada suami. Ingin cerai? Bingung juga. Kalo anak – anak ikut kita, lalu mau diberi makan apa?

Tidak jarang pula, para suami seenaknya menyebut istrinya sebagai kanca wingking yang hanya bertugas macak, masak, manak ( berdandan, memasak, dan melahirkan anak ). Apakah sebegitu rendahnya derajat wanita di mata pria?

Ketika kita memutuskan untuk tidak bekerja dan hanya menjadi seorang ibu rumah tangga, maka secara otomatis kita mempunyai ketergantungan yang tinggi pada suami mengenai masalah finansial. Seorang istri harus benar – benar pandai menangani semua kebutuhan keluarganya. Padahal, tidak selamanya kebutuhan selalu berbanding lurus dengan budjet kita. Adakalanya, terjadi peristiwa yang tidak direncanakan sebelumnya. Misalnya saja, ketika ada saudara kita yang ingin meminjam uang, sedangkan rumahnya di luar kota. Lalu, bagaimana? Apalagi, biasanya ada rasa sungkan untuk meminta tambahan uang dari suami.

Kita sepatutnya bersyukur bila mendapatkan suami yang baik dan mau memahami dan menerima kita apa adanya. Akan tetapi, tidak jarang kita melihat dan mendengar bahwa seorang suami tega melakukan kekerasan alias KDRT pada istrinya, hanya karena tidak menghidangkan makanan yang sesuai dengan keinginannya.

Seringkali, kita cenderung menganggap bahwa semua pekerjaan rumah tangga bukanlah suatu ‘pekerjaan’, karena tidak dapat meghasilkan uang. Padahal, membersihkan rumah seharian itu capeknya bukan main!

Kesimpulannya, dengan mempunyai penghasilan sendiri, walaupun tidak seberapa, kita menjadi mampu untuk membuktikan diri bahwa tidak selamanya wanita bisa diperlakukan seenaknya. Kita pun menjadi lebih bebas untuk memakai uang. Uang – uang kita sendiri, kok!

Terbaik, Bukan Tercinta

Menikah tanpa cinta, bisakah?
Tidak semua orang dapat menikah dengan kekasih yang dicintainya. Kadang, takdir bisa berkata lain.

Hidup tidak semudah yang kita bayangkan, karena jodoh, rezeki, dan mati kita berada di tangan Tuhan. Hidup juga tidak seindah yang kita kira. Banyak hal yang sebenarnya ingin kita capai, tetapi apa daya, kadang … tangan tak sampai. Masalah demi masalah selalu saja hadir dan menggelayut di pundak kita.

Tentu saja, menikah dengan seseorang yang mencintai kita dan kita cintai merupakan impian dan anugerah yang tak ternilai harganya. Bersama dengannya, kita melewati hari demi hari dengan bahagia. Kita rela memyiapkan semua kebutuhannya, hanya untuk melihat senyum tersungging dari bibirnya. Apalagi, bila dia berkata,”Aku takkan pernah meninggalkanmu hingga maut memisahkan kita.” Wuahh … hati kita pasti sudah melayang ke udara.

Namun, aku yakin, jika di dunia ini … lebih banyak orang yang menikah tanpa cinta. Mengapa? Sungguh banyak faktor yang menyebabkannya, bisa karena perjodohan antarkeluarga, materi ataupun kehormatan. Dan, hal itu sudah tidak dapat dipungkiri lagi.
Lalu, apakah kita akan bahagia? Menurutku, jawabannya adalah relatif. Ada orang – orang yang mencintai suaminya justru setelah dia menikah, tetapi tidak sedikit pula yang merasa hidupnya menjadi hambar. Setiap hari melakukan rutinitas yang sama, tanpa diikuti oleh the power of love.

Biasanya, kemudian perhatian sang istri tidaklah ditujukan kepada suaminya, tetapi justru tercurah sepenuhnya untuk anak – anaknya serta bagaimana memenuhi kebutuhan mereka dengan sebaik – baiknya. Anak bukanlah orang lain, karena mereka terlahir dari dalam kandungannya sendiri. Mantan suami memang ada, tetapi mantan anak tidaklah ada.

Mungkin, orang lain melihat bahwa keluarga itu harmonis, tetapi hal tersebut sebenarnya merupakan kenampakan dari luar saja. Kita tidak pernah tahu kan, bila seseorang tersenyum di luar, tetapi menangis di dalam?

Bila ‘menikah tanpa cinta’ menimpa kita, kita harus dan harus mampu menata hati kita dengan baik. Sebisa mungkin, walau bukan 100 % kita harus mencoba untuk menerimanya dengan ikhlas. Yakinkanlah diri bahwa suami kita pasti mempunyai suatu sisi yang dapat kita terima dan hargai.

Ya, mungkin suami kita bukanlah yang tercinta, tetapi dia adalah jodoh yang diberikan Tuhan untuk kita. Dan, Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi kita.

Adakah Bahagia Untukku? ( I )

Malam belum terlalu larut. Mentari baru saja terbenam di ufuk barat. Dicka sedang mengendarai sepeda motornya mengelilingi kota, ketika dia melihat seorang cewek yang sedang diganngu oleh beberapa orang cowok. Mereka mengitari cewek itu, menggodanya. Naluri Dicka sebagai seorang lelaki tiba – tiba bangkit. Dia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi di depan matanya. Sekalipun dikenal sebagai cowok jalanan, dia masih tetap memiliki hati nurani.
“Hai, cantik. Mau ikut dengan kami?” kata salah seorang di antara mereka. Cewek itu semakin terpojok. Dia tampak sangat ketakutan.
Tanpa berpikir panjang, Dicka melangkah maju. Ternyata dia mengenal Rudi, anak atasan ayahnya berada di tengah – tengah mereka. Sesaat, dia menjadi bimbang.
“Rudi …”
Serentak, mereka menoleh ke arah datangnya suara, dan melihat Dicka sedang berjalan mendekat.
“Lepaskan cewek itu, Rud. Kalau tidak ..”
“Kalau tidak, apa?” tantang Rudi,”Ka, kamu jangan berlagak jadi jagoan, deh. Nggak ada untungnya. Gimana kalau kamu juga ikut menikmati cewek ini?”
“Nggak! Lepaskan dia atau kalian akan …”
Namun, Rudi sudah memotong pembicaraan Dicka.
“Atau, kami akan kau hajar? Iya? Ha … ha … ha …, kau jangan membuatku tertawa. Mustahil kau berani melawanku. Selama ini, kau cuma bisa berlindung di bawah ketiak ayahmu. Nggak lebih. Huh!”
Kini, Dicka sudah benar – benar kehilangan kesabarannya. Dia tidak peduli, jika nanti Ayah memukulinya ketika dia sampai di rumah. Yang terpenting, cewek itu selamat terlebih dahulu.
Mereka berempat mengeroyok Dicka, tetapi Dicka bukanlah tipe orang yang mudah dikalahkan. Akhirnya, setelah bersusah payah, dia pun berbalik menang.
“Awas kau! Tunggu saja pembalasanku,” ancam Rudi, sebelum mereka lari pontang – panting meninggalkan tempat itu.
“Kamu tidak apa – apa?” tanya Dicka, sambil membersihkan debu yang menempel di bajunya.
“Aku … aku …” jawab cewek itu gemetar. Selama beberapa saat, dia tidak mampu berkata apa – apa.
Lalu, Dicka pun mengajaknya untuk duduk di rerumputan.
Dia benar – benar ketakutan, pikir Dicka.
“Kamu baik – baik saja?”tanya Dicka, sebab wajahnya tampak pucat.
“Cewek itu mengangguk.
“Ter … terima kasih.”
Dicka tersenyum,”Untuk apa?”
Hening.

Tempat ini sungguh sepi, batin Dicka. Saat itu, dia sedang memandang jalan raya di kejauhan.
Tiba – tiba, cewek itu menoleh.
“Bolehkah aku …”
“Apa?” tanya Dicka mengalihkan pandangannya kepada cewek itu.
“Bolehkah aku … meminjam bahumu sebentar? Aku tahu kamu tidak mengenalku, tetapi …”
“Tentu saja,” jawab Dicka tanpa menunggu kelanjutan kata – kata cewek itu. Kemudian, tanpa diduga Dicka, cewek itu menangis tersedu – sedu, seakan ingin mengeluarkan segala beban yang ada di hatinya.
Dicka menunggu, walaupun hatinya harus bersabar.
Dia adalah cewek baik – baik. Aku tidak boleh memeluknya, pikir Dicka.

Selama ini, dia selalu bersama dengan teman – teman yang dikenalnya di jalanan. Hubungan antara seorang pria dan wanita menjadi tidak punya batasan yang jelas. Mereka sudah terbiasa dipeluk, bahkan lebih. Dia paham, mereka adalah korban dari ketidakharmonisan keluarga, sama seperti dirinya.
Dicka jadi teringat dengan Devi, temannya yang pernah mengatakan bila ayahnya mempunyai dua orng istri, lalu Ardi yang ayahnya berselingkuh dengan wanita lain dan ibunya hanya diam, menerima saja dengan pasrah.
Tiba – tiba, suara cewek itu membuyarkan lamunan Dicka.
“Terima kasih, kamu sudah menolongku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak ada.”
Kini, Dicka mendengar suara yang lebih tegar. Ternyata, dia sudah lebih pulih, batinnya.
“Nggak apa – apa. Aku memang harus melakukannya.”
Inilah pertama kalinya Dicka menerima ucapan terima kasih. Sebersit perasaan senang menyelusup ke dalam hatinya. Dia merasakan kehangatan kata – kata cewek itu.
Kukira, hatiku telah lama mati, pikirnya.
“Kamu sudah merasa baikan?” tanya Dicka.
Cewek itu mengangguk.
“Aku Dicka.”
“Oh, maaf. Namaku Ana,” kata Ana memperkenalkan dirinya.
“Kamu mau pulang?”
Ana mengangguk.
“Mau kuantar?”
Ana memandang Dicka dengan pandangan tidak percaya, dan Dicka sudah terlanjur melihat tatapan itu.”
“Kamu tidak percaya padaku?”
Ana tampak terkejut. Matanya terlihat gelisah.
“Bukan. Bukannya aku tidak percaya, tapi …”
“Tapi …” kata Dicka menirukan ucapan Ana.
“Tapi, aku masih takut dengan …”
Dicka tidak memaksa. “Baiklah, kamu bisa menunggu taksi di ujung sana.”
Ana bergidik. Jalan yang ditunjukkan Dicka gelap sekali. Justru lebih berbahaya jika berada sendirian di sana.
“Aku ikut denganmu,” kata Ana akhirnya.
Dicka tersenyum. Ana sampai terperanjat melihatnya.
Dia benar – benar tampan, pikir Dicka.

Hampir sebagian besar perjalanan mereka dihabiskan untuk berdiam diri. Sibuk dengan pikirannya masing – masing.
Akhirnya, karena sudah tidak tahan, Ana mulai berbicara.
“Kamu tahu? Aku tak pernah merasa bahagia.”
Dicka terkejut, tetapi segera menjawab.
”Mengapa?” tanyanya sambil berpikir bahwa dunia ini memang memiliki banyak masalah yang membuat orang menjadi kehilangan harapan, juga kebahagiaan.
Ana terdiam.
“Oh, nggak usah bilang jika kamu tidak ingin mengatakannya.”
Beberapa saat kemudian, Ana berkata,” Orang tuaku jarang berada di rumah. Mereka selalu sibuk dengan pekerjaannya, tanpa memikirkan perasaanku. Aku rindu pada kasih sayang mereka.”
Tanpa sadar, Dicka menjawab,”Kamu masih beruntung, Ana. Aku sudah kehilangan ibu, juga kasih sayang seorang ayah.”
“Ibumu … meninggal?”
“Ya, dia sudah meninggal sejak aku masih kecil.”
Ana merasakan kegetiran dalam suara Dicka.
“Ha … ha … ha …, aku tadi ngomong apa, sih? Lupakan aja semua yang kukatakan tadi. Lagipula, setelah ini kita nggak akan ketemu lagi.”
“Ka, kamu nggak perlu maksa untuk tertawa.” Namun, kalimat itu hanya ada di dalam pikiran Ana.
“Ngapain tadi kamu sendirian di sana?” tanya Dicka mengalihkan pembicaraan.
“Aku menunggu teman,”
“Oo …” sahut Dicka.
Padahal, Ana berharap Dicka akan bertanya lebih banyak tentang dirinya.
Lho, ada apa denganku? pikir Ana bingung.

Sesampai di depan rumah Ana.
“Terima kasih. Kamu orang baik.”
Aku orang baik ? pikir Dicka sambil mengemudikan motornya. Dari kaca spion, Dicka melihat Ana melambaikan tangan. Mungkin, artinya ‘sayonara untuk selamanya’.

Kamis, 17 Januari 2008

Lima Cara Mengatasi Rasa Malu …

Pernah berharap bisa lenyap dari muka bumi karena sesuatu yang kamu katakan atau lakukan? Tiap orang pasti punya saat – saat memalukan. Berikut ini langkah – langkah yang bisa kamu ambil jika lain kali kamu merasa telah mempermalukan dirimu sendiri.

Akui bahwa kamu memang malu
Jangan membela diri atau mencoba menyembunyikan perasaanmu. Kamu mungkin bahkan bisa tertawa dan berkata,”Wuah! Aku nggak pernah semau ini!” Perasaan seperti ini akan lebih cepat hilang kalau kamu nggak pernah berusaha menutupi atau berpura – pura nggak terjadi apa – apa.

Maafkan diri sendiri
Jadi, kamu bikin satu kesalahan. Memangnya kenapa? Hal – hal macam ini lazim terjadi. Jadi jangan menyalahkan diri terus – menerus. Kalau kamu telah menyakiti atau mempermalukan orang lain, minta maaflah. Kadang ini adalah bagian yang paling sulit, tapi minta maaf sangat penting karena akan membuat kedua belah pihak merasa lebih nyaman.

Sadarilah bahwa nggak semua orang memperhatikan apa yang barusan kamu lakukan
Suatu saat, kamu berkata atau melakukan sesuatu yang memalukan. Dan, rasanya seluruh dunia memperhatikanmu. Ini mungkin nggak seluruhnya benar. Kebanyakan orang bakal terlalu sibuk mengkhawatirkan kesalahan – kesalahan yang mereka buat sendiri hingga nggak akan sempat memperhatikan kesalahanmu.

Teruslah melangkah
Taruh saat – saat memalukan di tempat mereka seharusnya berada, yaitu di masa lalu. Dorong dirimu seperlunya, tapi pastikan kamu terus melangkah maju. Kalau seseorang menggodamu tentang apa yang baru saja terjadi, katakan,”Oh ya! Tadi memang agak memalukan.” Tertawa dan tunjukkanlah bahwa kamu bisa mengatasi godaan orang – orang. Orang lain akan segera lupa tentang saat – saat memalukan itu _ begitu pula seharusnya kamu.

Pikir masak – masak sebelum bertindak atau berbicara
Selalu ingat jurus ini akan membantumu terhindar dari saat – saat memalukan. Memang ini saja nggak akan membantu kamu bakal bebas dari semua bentuk rasa malu, tapi paling nggak kemungkinannya bisa dikurangi. Dan, ketika kamu terpeleset, ulangi langkah 1 – 4 agar bisa cepat pulih dari rasa malu.

Dikutip dari Buku Pintar Remaja Gaul, Penuntun Agar Sukses Belajar, Bergaul, dan Tetap Fun

Tolong … Tiadakah yang Mendengar Jeritan Kami?

Saat aku membaca Jurnal Perempuan untuk edisi 24 “Perempuan di Wilayah Konflik” hatiku merasa ikut sakit. Bagaimana tidak? Para tentara yang seharusnya bertugas untuk mengamankan daerah konflik, justru telah berbuat sesuatu yang telah melebihi batas. Dengan tega, mereka memperkosa perempuan di bawah todongan senjata. Padahal, mungkin di antara mereka masih ada yang seumur denganku.

Aku membayangkan bahwa mereka tentu saja mengalami trauma yang hebat, ketakutan yang berlebihan, merasa sangat tidak berdaya, dan putus asa dalam menjalani kehidupan. Bahkan, tragisnya, ada juga yang akhirnya menjadi ‘kupu – kupu malam’, karena sudah tidak dianggap suci oleh lingkungannya. Padahal, mereka semua hanya merupakan korban yang harus diselamatkan, bukan untuk dikucilkan. Padahal, bukan mereka yang pertama kali meletupkan perang!

Aku yang hidup di daerah yang damai, dimana tidak ada konflik yang terjadi, dimana aku dapat hidup hingga saat ini, dimana aku dapat mengenyam pendidikan hingga jenjang universitas, mungkin saja tidak sepenuhnya mengerti seberapa besar penderitaan yang dialami oleh kaumku di daerah konflik sana. Di sini, aku hanya bisa berharap bahwa mereka diberi kesabaran dan ketabahan dalam menjalani semua masalah ini. Aku tidak bisa membantu apapun yang berguna bagi mereka.

Nah, aku ingin menulis tentang apa yang aku baca di Jurnal Perempuan tersebut. Salah satu yang kuanggap ‘paling menarik’ adalah mengenai kondisi perempuan di daerah Papua. Kita tentu saja tahu bila tanah Papua merupakan tanah yang kaya akan barang tambang (terutama emas dan tembaganya) serta kekayaan alam yang berupa kelapa sawit, kopi, cokelat, hasil laut). Namun, hasil sumber daya alam yang melimpah tersebut ternyata sebagian besar mengalir ke pemerintah pusat. Hal tersebut tentu saja mengakibatkan banyak penduduk Papua yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kondisi ini tentu saja mempunyai dampak yang sangat besar bagi perempuan, terutama mengenai masalah kesehatan yang masih rendah dan adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Menurut Santie (2002: 67), pada tahun 1997, kematian ibu di Papua adalah 1025/100.000 kelahiran hidup. Padahal, angka nasional menunjukkan angka sebesar 343/100.000 kelahiran. Angka kematian ini disebabkan oleh beban pekerjaan perempuan yang sangat berat, kualitan gizi yang buruk, dan masih kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kesehatan.

Di daerah pedesaan Papua, perempuan menanggung pekerjaan yang sangatlah beragam, mulai dari memasak, mengasuh anak, mencari kayu bakar, hingga bertanggung jawab terhadap perekonomian keluarga. Pria hanyalah bertugas untuk membuka lahan, lalu selanjutnya perempuan lah yang mengolah semuanya sampai panen tiba. Ya! Pasti mereka sangat lelah …

Sedangkan mengenai kesehatan, banyak ibu hamil yang terserang malaria, sehingga bayinya cenderung terlahir prematur. Hal ini, tentu saja akan membahayakan kesehatan ibu dan anaknya. Apabila tidak mendapat pertolongan yang tepat, ibu akan mengalami pendaharan dan akhirnya menjadi keguguran. Selain malaria, banyak wanita yang juga mengidap TBC dan HIV/AIDS.

Pada umumnya, kaum perempuan tertular HIV/AIDS dari suaminya. Tidak ada kejujuran di antara pasangan sebelum mereka menikah. Menurut John Rahail (dalam Santi, 2002: 69), faktor yang mempengaruhi pesatnya HIV/AIDS adalah pandangan masyarakat yang belum tepat tentang kesehatan, keleluasan bagi pria untuk berhubungan dengan bukan dengan pasangannya, kebiasaan minum minuman keras, dan dikarenakan pemerintah hanya mendahulukan pembangunan fisik. Padahal, Puskesmas telah dibangun di setiap kecamatan, tetapi ternyata tidak ada dokter yang bertugas di sana.

Kekerasan Terhadap Perempuan
Kecamatan Waris merupakan sebuah kecamatan di perbatasan antara Indonesia dengan Papua Nugini. Anak perempuan di sini rata – rata tidak bisa menyelesaikan pendidikannya karena adat mengharuskan mereka kawin dengan Oom – nya. Jadi, mereka biasanya menerima pinangan itu, karena bila mereka berani menolak ketentuan adat, terdapat kepercayaan bahwa perempuan tersebut tidak akan sehat tubuh dan alat reproduksinya.

Laki – laki juga boleh mempunyai istri lagi saat dia mempunyai banyak babi atau sudah mempunyai anak laki – laki. Ketika perempuan sudah dinikahi laki – laki, maka pria tersebut berhak melakukan apapun atas diri istrinya. Kekerasan dalam rumah tangga menjadi kejadian yang sudah umum terjadi. Banyak perempuan yang kemudian kabur karena sudah tidak tahan lagi diperlakukan semena – mena oleh suaminya. Namun, kaburnya istri untuk menghindari KDRT ini justru dianggap melanggar adat dan dituduh telah melakukan selingkuh.

Sumber :
Santie, Budi. 2002. “Perempuan Papua: Derita tak Kunjung Usai,” dalam Jurnal Perempuan 24, Perempuan di Wilayah Konflik. Hlm. 65 s.d. 82. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan.

Lima Cara Mengatasi Rasa Cemas

Pernah merasa bahwa ada dua sisi dalam dirimu? Satu sisi yang keren, terbuka_dan sisi lain yang pemalu, gugup, dan nggak seberapa keren? Apakah dari luar kamu tampak percaya diri, tapi sebenarnya nggak yakin pada diri sendiri? Apakah kamu khawatir nggak bakal diterima di lingkunganmu kalau orang – orang tahu siapa kamu sebenarnya? Cobalah kiat – kiat di bawah ini untuk mengatasi rasa nggak yakin pada diri sendiri serta rasa cemas dalam dirimu.

Buat daftar kelebihanmu
Kamu mungkin bisa memasukkan hal – hal semacam,”Orang – orang tahu mereka bisa mengandalkanku,” atau “Aku adalah pendengar yang baik.” Kamu bisa juga memasukkan ketrampilan – ketrampilan khusus yang kamu punya, seperti gemar bikin lelucon, pandai menggambar, menyanyi, main sepak bola, atau bahkan kalau kamu adalah seorang murid yang baik.

Buat daftar kelemahanmu
Sifat – sifat apa saja yang menghalangi kebahagiaan atau keyakinanmu? Lupakan sejenak tentang penampilan. Pusatkan perhatian pada sifat – sifatmu yang perlu diubah, atau keahlian – keahlian yang perlu dikembangkan. Contoh: “Aku selalu menunda – nunda pekerjaan.” “Aku nggak selalu jujur tentang apa yang kurasakan.”

Pastikan kedua daftar yang kamu buat sama panjangnya
Kalau kamu menulis lima kelemahan, cari juga lima kelebihan dalam dirimu. Kalau merasa sulit menemukan kelebihanmu, minta masukan dari orang tua atau temanmu.

Tinjau ulang kelebihan – kelebihanmu
Bagaimana perasaanmu tentang kelebihan – kelebihan itu? Apakah dalam daftar yang kamu buat tercantum hal – hal yang sebelumnya nggak kamu anggap berarti? Kalau ya, sekarang juga beri dirimu pujian. Kemudian, pikirkan cara supaya kamu bisa lebih banyak memanfaatkan kelebihan – kelebihanmu. Tulis gagasan – gagasan yang muncul supaya nanti bisa diolah menjadi tujuan yang hendak kamu capai.

Tinjau ulang kelemahanmu
Pisahkan mana kelemahan yang masih bisa kamu toleransi sampai saat ini, dan mana yang harus dihadapi sekarang juga. Jangan langsung mengatasi semuanya. Sebaliknya, pilih satu kelemahan dan susun rencana untuk menghadapinya. Contoh, kalau kamu ingin membuang kebiasaan menunda – nunda pekerjaan sampai saat – saat terakhir, cari cara untuk lebih terorganisasi dalam menghadapi tenggat waktu. Mungkin kamu bisa memecahkan tugas jangka panjang jadi bagian – bagian lebih kecil. Dengan begitu, besar kemungkinan buatmu untuk bergerak dengan pasti menuju tujuan akhir. Ketika sukses menyelesaikan sebuah tugas, kamu akan merasa lebih memotivasi untuk memulai tugas berikutnya tanpa menunda – nunda lagi. Dalam waktu singkat,”Aku bisa hidup dengan teratur” mungkin bisa menjadi salah satu kelebihanmu.

Dikutip dari Buku Pintar Remaja Gaul, Penuntun Agar Sukses Belajar, Bergaul, dan Tetap Fun

Sabtu, 12 Januari 2008

Itulah Cinta

Apakah telapak tangan kamu berkeringat, hati kamu deg-degan, suara kamu nyangkut di dalam tenggorokan kamu? Hal itu bukanlah cinta, tapi suka.

Tangan kamu tidak dapat berhenti memegang dan menyentuhnya? Hal itu bukanlah cinta, tapi birahi.

Apakah kamu bangga dan selalu ingin memamerkannya kepada semua orang? Hal itu bukanlah cinta, tapi kamu sedang mujur.

Apakah kamu menginginkannya karena kamu tahu dia akan selalu disamping kamu? Hal itu bukanlah cinta, tapi kesepian.Apakah kamu masih bersama dia karena semua orang menginginkannya? Hal itu bukanlah cinta, tapi kesetiaan.

Apakah kamu menerima pernyataan cintanya karena kamu tidak mau menyakiti hatinya? Hal itu bukanlah cinta, tapi rasa kasihan.

Apakah kamu bersedia untuk memberikan semua yang kamu sukai deminya? Hal itu bukanlah cinta, tapi kemurahan hati.Akan tetapi …

Apakah kamu masih bersamanya karena campuran dari rasa nyeri dan kegembiraan yang tidak dapat digambarkan dan sangat membutakan? Itulah cinta.

Apakah kamu masih menerima kesalahan mereka, karena hal itu adalah bagian dari kepribadiannya? Itulah cinta.

Apakah kamu tertarik pada orang lain tapi masih bersamanya dengan setia? Itulah cinta.

Apakah kamu rela memberikan hati kamu, kehidupan kamu, dan kematian kamu? Itulah cinta.

Apakah hati kamu tercabik bila dia sedih? Itulah cinta.Apakah kamu menangis untuk kepedihannya biarpun dia cukup tegar? Itulah cinta.

Apakah matanya melihat hati kamu yang sesungguhnya, dan menyentuh jiwa kamu secara dalam sekali sampai terasa nyeri? Itulah cinta.

Sekarang, kalau kita tahu bahwa cinta itu menyakitkan dan menyiksa kita sebegitu rupa, lalu kenapa kita masih juga mencintai? Mengapa hal ini adalah hal yang kita cari dan ingini? Semua penyiksaan ini, sebuah kematian terhadap ego dan kepribadian sendiri? Mengapa? Semua ini disebabkan oleh.... CINTA

Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu menitikkan airmata dan masih peduli terhadapnya.

Cinta yang sebenernya adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih menunggunya dengan setia.

Cinta yang sebenernya adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum dan berkata "aku turut berbahagia untukmu".

Apabila cinta tidak bertemu, bebaskan dirimu, biarkan hatimu kembali ke alam bebas lagi, kau mungkin menyadari, bahwa kamu menemukan cinta dan kehilangannya, tapi ketika cinta itu mati, kamu tidak perlu mati bersama cinta itu.

Disadur dari http://inspirasipagi.blogspot.com/

Selasa, 08 Januari 2008

DiriMu

Seandainya aku dapat melukisMu
yang penuh cahaya
dengan goresan takdir hidupku
Dan, kan kutemukan
kebenaran hati yang tersembunyi
ketakutan bayang naluri jiwa

Setiap jengkal ku melangkah,
selalu ada Engkau
Membimbingku ke jalan penuh damai
Memberi kekuatan tanpa pernah habis
abadi

Ya! Hidupku adalah milikMu
Duniaku adalah duniaMu
Senyumku adalah senyumMu
Helaian nafasku adalah pemberianMu

Namun,
KehadiranMu di sisiku tak pernah hadir
Padahal, aku sungguh merindukan
diriMu
Penuh hangat mempesona
Engkau telah membuatku jatuh
cinta

Aku menunggu
Aku menunggu … dengan sejuta harap

To Be U

Jadilah dirimu, maka hidupmu akan berarti

Kita tentunya sudah sering banget mendenga kata “Be Yourself”. Emang sih, hanya terdiri dari dua kata, tetapi tunggu dulu! “Be Yourself” memiliki makna yang sangat dalam.

Mau denger ceritaku …! Aku pernah menyukai seorang cowok. Dia adalah cinta pertamaku. Tentu perasaanku nggak karuan. Kalian tahulah gimana rasanya ngalamin first love. Namun, ternyata dia sudah mencintai cewek lain. Aku kan jadi broken. He … he … he …, waktu denger itu aku nangis, lho.

Cewek ini lebih cantik, lebih tinggi, pokoknya aku langsung mengibarkan bendera putih begitu melihat dirinya. Dan, di sinilah mulai timbul masalah! Aku menjadi seseorang yang tidak lagi bersyukur atas segala anugerah yang telah diberikanNya. Setiap hari, aku melihat cermin, dan selalu merasa bila aku ini cewek yang jelek, gemuk, hingga tidak pantas untuk dicintai. Pokoknya, perbedaannya jauh banget, kayak langit dan bumi. Aku pun kemudian menjadi semakin sering bertanya – Tanya, mengapa aku tidak terlahir secantik cewek itu?

Seiring waktu yang berputar, aku mulai tersadar dari mimpi dan anganku. Aku tidak akan bisa menjadi seperti dia, cewek itu, sampai kapanpun. Setiap manusia terlahir unik, tidak akan ada yang sama persis walau kembar sekalipun. Setiap manusia mempunyai keterbatasan, setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan yang menjadikannya selalu berusaha untuk memperbaiki kekurangan yang ada.

Belum terlambat untuk memulai jujur pada diri sendiri. Terimalah dirimu apa adanya, hadapi hidupmu dengan berani, cobalah untuk menemukan kebahagiaan. Yakinkan diri bahwa suatu saat nanti, kita akan menemukan seseorang yang memahami kita.

Selalu katakan, INILAH AKU !!!