Rabu, 22 Oktober 2008

Merindukanmu

Saat aku tertawa di atas semua

Saat aku menangisi kesedihanku

Aku ingin engkau selalu ada

Aku ingin engkau aku kenang


Selama aku masih bisa bernapas

Masih sanggup mengalah

ku kan selalu memujamu

Meskipun tak tahu lagi

Engkau ada di mana

Dengarkan aku, ku merindukanmu


Saat aku mencoba merubah segalanya

Saat aku meratapi kekalahanku

Aku ingin engkau selalu ada

Aku ingin engkau aku kenal


Selama aku masih bisa bernapas

Masih sanggup berjalan

ku kan selalu memujamu

Meskipun tak tahu lagi

Engkau ada di mana

Dengarkan aku, ku merindukanmu


Entahlah … aku sangat menyukai lagu ini. Mungkin, karena aku sedang merindukan seseorang, seseorang yang tidak bisa memahami bagaimana perasaanku ini padanya. Aku tidak tahu bagaimana akhir dari kisah cintaku kelak.

Egokah Aku?

Pernah nggak kalian nonton video klipnya Wali Band, Egokah Aku? Duh, ceritanya sedih banget sampai-sampai aku merasa kasihan ma cowok itu, aku ngga tahu namanya …, muuph! Cintanya yang begitu dalam, tetapi tidak bisa dicapai, hingga dia berbuat nekat. Tidak ada yang salah ketika kita mencintai seseorang, hanya saja keberadaan cinta itu bebas, tidak ada paksaan di dalamnya.


Egokah AKu? – berkisah tentang seorang cowok yang memendam perasaannya selama bertahun-tahun hanya pada satu cewek saja (diperankan Syreen Sungkar). Setiap hari, cowok itu memandang sang cewek dari kejauhan, tak berbuat apa-apa. Dia sungguh ingin memilikinya, sangat ingin memilikinya, tetapi ternyata cewek itu sudah mempunyai seorang kekasih.


Cinta yang terpendam ini, cinta yang telah dipendamnya selama hidupnya, akhirnya meledak. Cowok itu nekat menculik sang cewek untuk dijadikan pengantinnya. Cewek itupun tidak bisa berbuat apa-apa. Sang cowok telah kehilangan akal sehatnya. Bila perlu, dia akan membunuh cewek itu, karena dia berpikir bila hanya dia yang berhak memiliki cewek itu.


Namun, sang kekasih tidak tinggal diam begitu saja (diperankan Adly Fairuz). Dia kelabakan mencari ceweknya yang hilang. Dia sudah berusaha mencari kemana-mana bersama polisi. Dan, pada akhirnya terdapat suatu petunjuk yang mengarahkan pengejaran mereka ke sebuah gudang tempat ceweknya disekap.


Sementara itu, sang cowok tersadar. Dia pun melepaskan ikatan cewek itu. Beberapa detik setelahnya, cowok itu roboh dan meninggal terkena tembakan polisi …


Suatu akhir yang tragis. Sungguh, aku nggak ngerti dengan semuanya! Ya, aku tahu cowok itu salah, tetapi bukan berarti polisi boleh begitu saja menembak. Tidak ada perlawanan dari sang cowok. Satu nyawa melayang karena rasa cinta yang mendalam. Hal itu terasa sangat tidak adil.


Aku saja belum pernah mengalami cinta mati seperti itu. Masih banyak hal lain yang harus kupikirkan. Mungkin, cinta yang begitu dalam … bila kekasihnya meminta nyawanya, tentu akan diberikannya dengan senyuman. Ya Tuhan, sampai sebegitunya!


Puisi Tak Jadi

Seringku memimpikanmu, bukanlah kesalahan

Seringku memikirkanmu, bukanlah masalah

Jika hanya ada rasa hambar atau pahit

Bayagmu melangkah pasti menjauhiku

Meraba, mencari bentuk cintaku padamu

Kamu tahu?


Bila kuterperosok ke dalam jurang

ampir menemui kematian,

Bercumbu dengan maut

Atu tahu, kau akan tersenyum

mencemooh

Tak mau menarikku dalam

Kau berharap bahwa aku tak pernah ada


Gumpalan cinta yang meronta mencari asa

Isyaratkan bahasa asa hati manusia

Laksana gerimis yang berpisah dengan pelangi

Angkasa yang tak berlumur kasih rembulan

Nuansa ini!

Gemuruh ombak menghempasku, kasar


Aku ingin mereka bahagia

Nyata, tidak

Aku menjadi beban

Tak mampu beri kebanggaan


Maafkan …

Karena aku hanya seorang bodoh

Tak mengerti apapun

Tak mampu dalam apapun

Hanya jadi penghalang


Bila kupu-kupu telah mengepakkan sayap indahnya

Membius penghuni taman hingga terpana

Lebah hanya menangis menahan lara

Iri yang tak lagi tertahan

Menggerogoti sekeping hati, mulai menghitam

Mulai menghilang


Embun, bukankah kau ikut bersedih untukku?

Kita meneteskan air mata bersama

Meratapi diri yang tak berguna

Sudah tak ada harapan

Hanya kesuraman yang menanti


Dan, bila luka menjemput hati

Membawanya pergi menuju sudut gelap

Pelangi pun menghilang tertelan awan

Adakah tersisa jawab?


Kota Tertutup? Jakarta (II)

Patrick Geddes, seorang ahli tata kota yang terkenal, dalam Encyclopedia of Urban Planning membagi pemekaran dan pembangunan kota dalam enam tahapan dimana terjadi interaksi antara faktor-faktor pembangunan kota dan kemerosotan kota, yaitu dimulai dari tahap Eopolis, Polis, Metropolis, Megapolis, Tyranopolis, dan Nekropolis.


Tahap pertama Eopolis menunjukkan perkembangan desa yang sudah teratur dan merupakan organisasi masyarakat dengan ciri-ciri perkotaan. Bentuk inimerupakan tahapan transisi dari kehidupan desa yang tradisional yang umumnya terpencil dikelilingi oleh lahan persawahan tetapi dengan keramaian kehidupan kota. Kemudian, menyusul tahap Polis dimana kehidupan kota yang sudah umum kita kenal di Indonesia dan yang nantinya akan mekar menjadi kota besar yang biasa lebih dikenal dengan sebutan Metropolis. Karena Polis masih bercirikan dan berorientasi ke arah agraris, sedang Metropolis lebih berarah ke ndustri.


Sekalipun Indonesia belum mengenal tahap-tahap selanjutnya seperti yang disebutkan oleh Geddes, tetapi ada baiknya kalau kita juga tahu bahwa kota Metropolis akan mekar terus da menjurus ke kota Megapolis. Kota yang besar seperti Jakarta, kota yang telah mencapai titik untuk mulai merosot dalam berbagai seginya dan akhirnya akan menuju ke bentuk kota yang disebut sebagai Tyranopolis, dimana kehidupan kota sudah dikuasai oleh kaum tirani. Kehidupan kota ini akan mengalami kemacetan-kemacetan, kekacauan pelayanan. Keadaan ini akan mendoronng kota itu menjurus pada perkembangan yang disebut Nekropolis, yaitu sebuah situasi dimana kota-kota itu sudah tidak lagi bisa diatasi pengelolaannya dan mengalami tanda-tanda kematian. Kota pun akan kehilangan semua fungsi kontrolnya, dan seterusnya akan menjadikan kota itu kehilangan jiwa.


Kalau Geddes melihat perkembangan kota dari segi kemerosotan hidupnya, lain lagi dengan Constantinos Doxiades, filsuf perkotaan itu melihat pemekaran kota dari pemekaran areal lahannya. Ia meramalkan bahwa kota Metropolis akan berkembang menjadi Megapolis, kota yang maha besar akhirnya akan berkembang menjadi Ecumenepolis, yaitu apabila kota-kota besar itu makin mekar dan saling menyambung tanpa terasa lagi batas antara satu kota dengan kota lainnya. Kota Jakarta dan Surabaya misalnya, sudah berkembang dengan pesat. Kota-kta besar diantaranya pun, sudah terpengaruh dan mengembangkan dirinya. Semua kota-kota tersebut kemudian akan sambung menyambung sepanjang pantai utara Jawa.


Banyak ahli tata kota lainnya yang melihat pemekaran kota bukan dari dampak kemerosotan lingkungannya atau luas arealnya. Namun, misalnya dari peran-peran kota itu dalam hubungan fungsinya dalam konteks membahagiakan penduduknya. Metropolis yang sudah makin sumpek dan semrawut tu bisa menjurus menjadi Miseropolis, kota yang membuat penduduknya begitu menderita.


Memang banyak pula ahli yang mengkritik pesimisme Geddes dan konsep Miseropolis-nya. Mereka mengemukakan suatu faham pula, bahwa kota dapat berkembang secara optimis dan teknologi dapat mengatasi semua masalah yang dihadapi kota-kota yang kian mekar itu.


Menanggapi optimisme demikian, Barbara Ward, dalam epilog buku The Exploding Cities, mengemukakan bahwa ada dua asumsi yang banyak dipegang orang.


Pertama, adanya tanggapan bahwa proses kemajuan teknologi berjalan lurus secara terus-menerus, dan teknologi dapat memecahkan semua masalah manusia. Jadi, perkembangan menuju urbanisme adalah sejalan dengan kemajuan kota itu sendiri. Kedua, adanya anggapan bahwa kota-kota yang berkembang di masyarakat dengan teknologi maju merupakan contoh kemajuan dan perkembangan, sehingga semua perkembangan kota-kota perlu juga menuju ke pola urban demikian.


Namun, Ward mengemukakan pula bahwa kedua anggapan di atas perlu ditinjau kembali. Sebab, pada akhir abad 20 ini, ternyata sesuatu yang berbeda sekali dari kedua anggapan di atas justru telah menimpa kota-kota dunia. Karena itu, kita perlu mencari pemecahannya untuk menghindari kehancuran yang bakal tidak bisa dielakkan lagi kalau perkembangan dan pemekaran kota itu dibiarkan berlarut-larut dengan sendirinya.


Sumber:

Ahmad, Ahmaddin. 2002. Re_Desain Jakarta: Tata Kota Tata Kita 2020. Jakarta: Kota Kita Press.


Senin, 22 September 2008

Hmm

Luar biasa! Itulah yang dapat kukatakan tentang cinta. Sedetik yang lalu aku belum merasakan kehangatan cinta, tetapi kini aku sudah terbawa merasuk ke dalam alirannya.


Cinta itu bebas! Cinta bisa pergi kapanpun dia mau! Namun, cinta juga bisa datang tanpa kita undang! Cinta adalah misteri alam semesta. Hanya Tuhan yang yang tahu kemana cinta itu akan berakhir.


Cinta membuat kita berdebar-debar setiap saat. Cinta membuat kita tersenyum sendiri, di saat orang lain terdiam. Cinta membuat kita melamunkan tentang harapan yang akan hadir dalam hidup ini.


Girlz, I am in love now …


Bangsa Romawi

Roma menggantikan Athena sebagai pusat dunia barat selama zaman Kekaisaran Romawi (27 SM hingga 324 M). Sejak tahun 509 SM, yaitu sejak tersingkirnya raja asing terakhir yang memerintahnya, Roma menjadi republik yang diperintah oleh kaum aristokrat, dan menjelang kematian Julius Caesar pada tahun 44 SM, Republik Romawi sudah menyebarkan kekuasaannya di seluruh Italia dan wilayah-wilayah di sekitarnya. Sejak Caesar Augustus pada tahun 27 SM, Kekaisaran Romawi mulai melanjutkan ekspansinya. Setiap kaesar berusaha dengan jalan menakhlukan negeri lain untuk menjaga ketertiban dunia, menurut pandangan Roma – Pax Romano, atau Perdamaian Romawi – suatu pemikiran tentang satu dunia terdiri dari berbagai bangsa yang mematuhi undang-undang yang sama di bawah satu orang pemimpin besar.


Ketika Kekaisaran Romawi bertambah kuat dan kaya, jumlah penduduk Roma meningkat dengan cepat, ada berbagai macam perkiraan, mulai dari 250 ribu hingga 2 juta penduduk tetap hingga menjelang abad ketisa sesudah Masehi. Pertumbuhan ini menyebabkan penyediaan perumahan yang sangat tidak mencukupi dan berbaga masalah transportasi. Perkembangan kota tersebut sedemikian cepatnya pada abad ketiga, sehingga di Roma perlu dibangun lebih dari 45 ribu blok apartemen, di samping 2 ribu rumah pribadi yang sudah ada (menarik sekali untuk diperhatikan bahwa beberapa bangunan bertingkat delapan telah dibangun di Roma sampai abad pertama sesudah masehi, yaitu ketika Caesar Augustus membatasi tinggi bangunan maksimum sampai 70 kaki – contoh pertama yang diketahui tentang pembatasan bangunan). Roma juga sangat menderita karena kekurangan suplai air, sehingga mengakibatkan pembuatan akuaduk yang berfungsi untuk mengalirkan air tawar ke kota.


Selama masa itu, para pemimpin Roma yang kaya raya membangun berbagai monumen raksasa dan bangunan-bangunan umum sebagai tanda kebesaran dirinya dan kebesaran Roma, dan setiap kaisar baru membangun akan membangun sebuah forum (tempt pertemuan umum) yang lebih besar daripada yang dibuat oleh pendahulunya. Forum-forum ini menjadi pusat kehidupan politik dan bisnis di Kota Roma.


Bangsa Romawi telah menyadari pentingnya transportasi, sehingga dalam hal ini bangsa Romawi muncul sebagai perencana wilayah yang pertama. Mereka merancang dan membangun jalan-jalan di seluruh imperium yang membentang dari Inggris hingga ke Babilon, dan dari Spanyol sampai ke Mesir, berfungsi untuk menghubungkan kota-kotanya. Jaringan jalan tersebut memungkinkan sarana agar pasukan-paskan pemerintah bisa bergerak dengan cepat guna memelihara ketertiban dan menumpas pemberontakan.


Dalam upaya menduduki wilayah-wilayah baru, menekan migrasi penduduk ke kota Roma, dan menegakkan citra tentang hukum dan ketertiban Romawi, orang Romawi membangun sejumlah kota militer di seluruh Imperium. Kebanyakan dari kota-kota tersebut mengkuti suatu rencana induk dengan perbedaan-perbedaan yang sedikit sekali, sehingga memungkinkan dilakukan standarisasi. Dibangun dengan pola yang hampir bujur sangkar, kota-kota koloni tersebut didominasi oleh bangunan-bangunan untuk kepentingan masyarakat, yang terletak di persilangan dua buah jalan utama. Rumah-rumah pada umumnya berupa apartemen kecil, tetapi ada juga rumah-rumah bergaya altrium milik orang kaya, atrium merupakana ruang terbuka tidak beratap di tengah rumah, dapat berupa hall atau pasio.


Runtuhnya Kekaisaran Romawi terjadi secara bertahap. Penduduk lebih suka bersenang-senang dan menjadi malas, sedangkan kepemimpinan terpecah-pecah karena saling bertengkar. Perkembangan agama Nasrani juga menggerogoti akar-akar kekuasaan Romawi, dan berbagai golongan serta pihak-pihak di dalam negeri yang saling berperang ikut juga mempercepat keruntuhannya. Suku Barbar mulai menyerang, dan untuk pertama kalinya dalam masa lima abad Kekaisaran Romawi melihat musuh di depan pintunya sendiri. Dengan adanya invasi dari suku Barbar, Roma dan kota-kota lain di dalam Imperium dihancurkan. Monumen-monumen yang didirikan oleh para kaisar dibongkar orang untuk dijadikan sebagai bahan bangunan. Tempat-tempat pertemuan masyarakat, seperti forum dirusak oleh massa yang bertempur. Kekaisaran Romawi runtuh pada akhir abad ketiga. Konstantinus I menjadi Kaisar Kristen pertama yang memerintah Romawi pada tahun 307, dan memindahkan ibukotanya ke Konstantinopel (istanbul, Turki) pada tahun 303.


Pada abad kelima, mulailah Zaman Kegelapan. Kota-kota yang semula direncanakan sebagai lambang kekuasaan Kaisar, digantikan oleh kota-kota abad pertengahan yang berlandaskan kekuasaan para penguasa feodal atas para budak mereka, dan bukan berlandaskan prinsip-prinsip demokrasi ataupun Imperalisme.


Sumber:

Catanese, Anthony J dan James C. Snyder. 1989. Perencanaan Kota. Jakarta: Erlangga.

Asa

Bersamaan dengan ujung mimpiku,

kulalui asa yang menantiku di batas mimpi

Bersama lentera yang membimbing jalanku,

kutapaki kerikil duri tajam di jalan itu

Bersama kepak sayap-sayap di angkasaku

kuterbang dengan menjinjing romansa di angkasa

Kamis, 18 September 2008

Kota Tertutup? Jakarta (1)

Di banyak kota, melonjaknya jumlah penduduk masih dalam batas daya dukung lingkungan dan daya tampung kota-kota tersebut. Namun, di megapolitas seperti jakarta, lonjakan manusia yang mendiami kota itu sudah mulai menimbulkan masalah. Hal yang perlu diingat adalah bahwa daya dukung lingkungan kota, daya serap ketenagakerjaan maupun daya layanan pengelola kota sudah cukup kewalahan menghadapi tantangan penghuni.


Gejala-gejala kejenuhan kota-kota itu sempat menimbulkan gagasan-gagasan para ahli dan penata kota untuk membendung arus urbanisasi itu, atau setidaknya menguranginya, dan kalau perlu menutup kota tersebut dari pendatang baru.


Salah satu gagasan yang dilaksanakan dalam mewujudkan jakarta sebagai kota tertutup adalah dengan cara mengontrol dan memperketat penduduk pendatang. Pemberia kartu penduduk yang dibatasi hanya pada para pendatang yang mempunyai pekerjaan yang tetap dan sempat tinggal, maupun pengawasan para tamu yang menginap dengan kewajiban melapor kepada Ketua RT maupun RW, memang sempat mengurangi bertambahnya penduduk baru. Namun, dalam kenyataannya hal ini sering tidak diiringi dengan pengurangan banyaknya pendatang. Hal ini disebabkan banyaknya pendatang yang datang tanpa meminta bukti identitas diri di tempat yang baru itu.


Banyak usaha dan peraturan telah dicoba diusahakan untuk menutup kota dari serbuan para pendatang tersebut. Namun, tampaknya gejala urbanisasi telah sedemikian kuatnya, sehingga setiap usaha pengontrolan pada para pendatang maupun usaha penutupan kota akan sulit berhasil.


Selama faktor-faktor pendorong dan penarik masih ada, dan selama tingkat kehidupan di kota masih sangat mencolok, maka gejala perpindahan penduduk dari desa ke kota atau dari daerah-daerah minus ke daerah-daerah surplus, akan mengakibatkan ketidakseimbangan distribusi penduduk yang mengakibatkan konsentrasi-konsentrasi penduduk yang tinggi di daerah-daerah tertentu atau lebih-lebih di kota-kota tertentu.


Sebetulnya, masalah yang ditimbulkan oleh urbanisasi bukanlah menyangkut kurangnya lahan dunia, tetapi menyangkut kurang meratanya pembangunan di atas lahan tersebut. Melihat kenyataan ini, maka usaha penutupan kota tidak mungkin bisa dilakukan secara sepihak oleh pengelola kota sendiri. Suatu koordinasi yang terpadu dengan usaha pemerataan pemukiman dan distribusi kerja perlu dipikirkan dan dilakukan secara bersama-sama di seluruh Indonesia. Seperti misalnya, koordinasi dengan proyek-proyek transmigrasi, dengan pembangunan kota-kota baru dan lainnya.


Pada umumnya, penanganan yang terpadu adalah realisasi yang lebih wajar yang bisa ditempuh daripada penutupan kota. Yaitu, berupa pembangunan wilayah atau pusat-pusat pertumbuhan baru di luar kota yang dapat sekaligus menyerap angkatan-angkatan kerja dan tempat permukiman untuk mereka. Akan tetapi, hal yang sering terjadi adalah pengadaan dua faktor penarik berupa ‘wisma’ dan karya ini belum cukup mampu bersaing dengan daya tarik kota besar, karena pada dasarnya manusia jua membutuhkan sarana lain, seperti atraksi budaya dan rekreasi yang umumnya mudah didapat di kota besar.


Martin Gallent, wakil ketua New York City Planning Comission, ketika ditanya mengenai konsep ‘kota tertutup’ mengemukakan, memang pernah dicari jalan agar kota New York yang dijluki kota kosmopolitan itu mau ditutup untuk para pendatang baru. Namun, rupanya hal itu merupakan pemikiran yang tidak realistis. Karena, soal daya tarik kota besar bukn hanya karena luasnya lapangan kerja, tetapi juga mencakup daya tarik romantisme dan avonturisme kota yang penuh dengan hal-hal yang heterogen, keserbaanekaan, obyek rekreasi dn seni yang beranekaragam. Campur aduknya penduduk serta hiruk pikuknya suasana misalnya, dan pilihan yang lebih luas dan bebas merupakan daya tarik tersendiri. Hal-hal tersebut tidak mungkin dijumpai di desa-desa atau di kota-kota kecil.


Masalah urbanisasi tidak bisa dilepaskan dari kegiatan pembangunan kota (urban development), dan bukan hanya itu, kedua keadaan ini akan saling berkaitan, saling mempenagruhi dan merupakan lingkaran setan yang tidak ketahuan ujung pangkalnya.


Sudah umum diketahui bahwa urbanisasi yang berjalan terus-menerus menuntut kota-kota untuk memenuhi tuntutan kebutuhan mereka yang berbondong-bondong memasuki kota tersebut. Sebaliknya, setiap aktivitas pembangunan kota akan menarik tenaga kerja dari luar kota dan hasil pembangunan kota yang menarik tentu akan menghisap minat orang-orang dari daerah yang pembangunan di daerahnya belum kelihatan. Akibat yang akan muncul dapat diperkirakan, bahwa pembangunan kota justru merupakan daya tarik yang menghasilkan urbanisasi pula. Menghentikan urbanisasi akan berakibat juga pada pembangunan yang sedang berjalan.


Banyak pemikir ternyata telah melihat dan mengutarakan bahwa pembangunan kota dan pemekaran kota ternyata ada batasnya. Dan pada suatu saat akan mencapai suatu titik jenuh.


Seperti kita ketahui, pemekaran kota secara besar-besaran baru dialami manusia sejak revolusi industri tiga abad silam. sementara gejala pemekaran dan pembangunan kota yang mencolok baru terjadi sejak perang dunia kedua.


Patrick Geddes, seorang ahli tata kota yang terkenal, dalam Encyclopedia of Urban Planning membagi pemekaran dan pembangunan kota dalam enam tahapan dimana terjadi interaksi antara faktor-faktor pembangunan kota dan kemerosotan kota, yaitu dimulai dari tahap Eopolis, Polis, Metropolis, Megapolis, Tyranopolis, dan Nekropolis.


Bersambung …


Sumber:

Ahmad, Ahmaddin. 2002. Re_Desain Jakarta: Tata Kota Tata Kita 2020. Jakarta: Kota Kita Press.


Jumat, 12 September 2008

Adakah Bahagia Untukku? (VII)

“Ayo, kita pulang. Aku nggak mau kamu kedinginan di sini,” kata Dicka.

“Tenang saja … kan ada kamu,” canda Ana. Di tangannya tergenggam sebuah benda yang selama ini hanya menjadi sepotong mimpi. Mereka pun tersenyum bersama, sebagai tanda bahwa mereka saling memahami.

Di kejauhan, ombak semakin sering menjilat – jilat pasir.

Dicka pun mengantar Ana pulang ke kosnya. Namun, alangkah terkejutnya mereka, ketika melihat ayah Ana sudah berdiri menanti di depan pagar dengan gusar.

“Mengapa Ayah bisa tahu …,” batin Ana heran.

Tetapi, tiba – tiba dia sangat paham saat melihat pandangan mata Leni. Tatapan itu sudah mengatakan semuanya.

“An, ayo ikut Ayah!” paksa ayahnya,”Ayah harus mengatakan sesuatu pada kamu.”

“Tapi …”

Dicka yang masih ada di samping Ana pun akhirnya ikut berbicara.

Om, maaf jika saya lancang. Saya mohon Om mau merestui hubungan kami. Kami saling mencintai.”

“Tidak bisa! Ana harus melanjutkan kuliahnya dulu. Lagipula, kamu tidak pantas berada di samping putriku.”

“Ayah!” protes Ana.

“Diam! Ayah pasti akan mencarikan seorang pria yang sejajar dengan keluarga kita!” Ayah Ana berteriak. Padahal, pada saat itu mereka sedang berada di pinggir jalan.

“An, kamu sudah berani melawan Ayah?”

Ana benar – benar bingung. Keputusan apa yang akan dia ambil? Ayah atau kekasihnya?

“Maaf …,” gumam Ana sambil menggandeng tangan Dicka, mengajaknya pergi.

“An … apa kamu yakin dengan keputusanmu?”

Ana mengangguk pelan. Air matanya menitik jatuh.

“Aku nggak apa – apa. Ayo!”

Kemudian, mereka segera pergi dari tempat kos Ana. Sampai – sampai Ayah Ana syok melihatnya. Beliau tidak akan pernah percaya jika putrinya yang lembut bisa menentang dirinya.

Setelah dapat mengatasi keterkejutannya, Ayah Ana segera memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengejar mereka.

“Cepat! Jangan biarkan mereka lolos!” teriaknya.

“Ka, kita dikejar,” kata Ana, ketika dia melihat beberapa tangan kanan Ayahnya.

“Ya, aku tahu.”

Pada saat itu, jalanan sepi, sehingga Dicka pun menambah kecepatan motornya.

“Aku percaya padamu. Aku percaya kita akan bahagia,” gumam Ana.

Dicka tidak menjawab. Dia sedang memusatkan perhatiannya ke depan. Tiba – tiba, sebuah mobil memotong jalan. Dicka yang sedang mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi segera mengerem. Namun, ternyata semuanya sudah terlambat.

Dicka merasa dirinya melayang ke udara sebelum membentur jalan. Sudah tak terbayangkan lagi bagaimana nyeri yang menyengat di sekujur tubuhnya. Namun, di tengah kesadarannya yang semakin menipis, dia masih mencari – cari sosok Ana. Di mana dia?

Matanya sudah semakin mengabur, ketika dia melihat Ana bersimbah darah, dan … dia tidak bergerak. Dicka seketika menjadi panik. Dengan menyeret – nyeret kakinya menahan sakit, Dicka menuju ke arah Ana.

“An, bangun! Aku ada di sini!” kata Dicka sambil mengguncang – guncang tubuh Ana.

Cringg …, sebuah cincin terjatuh dari tangan Ana.

Dari kejauhan Dicka mendengar orang – orang mulai berkerumun dan berteriak.

“Tapi, mereka meneriakkan apa?” tanya Dicka. Semua tampak bagaikan mimpi bagi dirinya. Apakah ini sebuah mimpi buruk? Tapi, mengapa dia tidak terbangun juga?

Suara ombak memecah karang seperti nyanyian pelantun rindu bagi mereka.

Dicka merogoh sesuatu dari dalam kantongnya. Sebuah benda yang tidak pernah terlepas dari dirinya, dan telah menjadi bagian dari hidupnya.

“Ini!” katanya pada Ana,”maaf kalo nggak ada pembungkusnya,”

Benda itu berkilauan ditempa mentari senja.

“Aku takut nggak sempat memberikannya padamu.”

Ann tersenyum. Manis sekali.

Dicka terbangun dengan jantung berdebar dengan kepala pening. Mengapa aku ada di sini? Bau rumah sakit ini sudah sangat dikenalnya.

Tiba – tiba, dia merasa telah kehilangan sesuatu. Dimana Ana? Hanya ada ayah di sampingnya.

“Yah, Ana dimana?” tanya Dicka gelisah, sambil mencengkeram lengan ayahnya.

Namun, ayahnya tidak menjawab. Beliau justru meletakkan tangannya di atas tangan Dicka dan tersenyum pilu. Dicka pun merasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Ana … dimana dia? Dicka nggak membunuhnya, kan?”

Semua ini bukan salahmu, nak. Semua bukan salahmu.”

Seketika, dunia Dicka menjadi runtuh.

“Ayah?”

Dicka pun menangis di dada Ayahnya.

“Sudahlah. Semua ini bukan salahmu,” jawab Ayah berusaha menenangkan anaknya.

Dicka sudah tidak lagi mempunyai semangat untuk hidup. Seseorang yang selalu mengisi lorong – lorong hatinya, kini sudah menghilang. Menghilang untuk selamanya. Menghilang, tanpa pernah bisa kembali. Ya, Ana sungguh tega meninggalkannya sendirian di sini, tak mengajaknya.

Hari ini … . Dia sungguh tidak bisa menghadapi hari ini. Seharian, dia hanya mengurung diri di kamarnya. Dia tidak makan, tidak minum, tidak menginginkan apapun. Para perawat sampai bingung dibuatnya. Walaupun ayahnya selalu mengatakan bahwa semua ini bukanlah kesalahannya, Dicka tetap merasa dirinya berdosa.

Seharusnya, Ana tidak perlu lari bersamanya. Seharusnya, Ana masih hidup hingga sekarang dan memiliki kebahagiaannya. Seharusnya, Ana masih bisa menikmati hari – harinya … . Dan, semua ini karena dia. Dia lah yang telah membunuh Ana.

“Tuhan, ambil saja nyawa yang tidak berharga ini! Tapi, kembalikan Ana untukku. Mengapa Engkau justru memilih dia dan membuatku tersiksa seperti ini? Mengapa lagi – lagi aku harus kehilangan dirinya? Belum cukupkah jika Kau hanya mengambil Ibu dariku? Tuhan, aku tidak mengerti semua ini!”

Akhirnya, Dicka memutuskan untuk pergi ke rumah Ana, meskipun dia tahu kehadirannya nanti justru akan semakin menambah suasana menjadi kacau. Namun, dia tidak peduli. Dibunuh pun tidak apa – apa. Dicka hanya ingin melihat Ana untuk yang terakhir. Ana – nya yang cantik, baik, lembut, …

Tak ada gunanya jika dia hanya berada di rumah sakit seperti ini dan merenungi kenangan – kenangannya bersama Ana, dan menangis … hingga air matanya mengering.

“Ana, apakah kau merasa kesepian berada di sana? Sungguh, aku ingin menemanimu.”

Ayah Ana menyambut kedatangan Dicka dengan histeris.

“Mau apa kamu ke sini? Pergi! Kamu yang telah membunuh putriku,” teriak Ayah Ana.

Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dicka. Namun, dia seolah sudah tidak merasakan apapun.

“Sabar, Pak!” kata seseorang sambil berusaha menenangkan Pak Budi.

“Lepaskan! Biarkan aku membunuhnya.”

“Sudahlah, Pak. Semua ini sudah merupakan suratan takdir. Bapak harus mengikhlaskan kepergian putri Bapak.”

“Apa? Suratan takdir? Bila cowok brengsek itu tidak mendekati putriku, semua tidak akan berakhir seperti ini!”

“Lepaskan!”

Saat itu, Dicka sudah tidak mendengar apapun.

“Aku datang, An. Aku ada di sini menemanimu. Mengapa kamu tidak terbangun juga? Bukankah kau juga mencintaiku? ” bisik Dicka mencium kening Ana.

Orang – orang mulai berteriak. Tapi, Dicka sudah tidak mendengar apapun.

“Jangan, Pak! Apa yang akan Bapak lakukan?”

Akan tetapi, tidak ada orang yang berani mendekat. Pak Budi mengacung – ngacungkan pisau yang dibawanya ke hadapan orang – orang yang hadir. Dan, semua hanya bisa terpana … terdiam, ketika Pak Budi mendekati Dicka.

Ketika berbalik, Dicka merasakan ada sebuah benda dingin yang menembus perutnya. Dia melihat darah mengalir membasahi bajunya. Merah …

Semua terkejut menyaksikan kejadian itu. Tubuh Dicka roboh. Darah mengalir cepat menggenangi lantai yang berwarna putih.

“An, aku tahu saat ini pasti akan datang …”

Hingga akhir, Dicka tidak pernah mengerti rencana Tuhan untuknya, dan dia tersenyum.

Hari itu … hari yang tak terlupakan.

TAMAT

Dear Diary


Dear adikku,

Aku tahu kamu marah padaku

Aku tahu kamu kecewa padaku

Aku tahu bila aku salah

Aku tahu kalau aku tidaklah pantas menjadi kakakmu

Aku tahu bahwa aku tidak pantas menjadi apapun bagimu

Kamu boleh mengacuhkanku,

tidak menganggapku sebagai saudaramu,

tetapi kuingin kau mengerti selamanya engkau tetaplah adikku


Adikku,

aku memang tidaklah sesempurna dirimu yang cantik, baik hati,

dan disayangi oleh semua orang, ayah,ibu, teman-temanmu

Sedangkan, aku tidak punya teman

Hanya kaulah temanku

Entahlah bila kau tidak pernah menganggapku sebagai teman


Adikku,

aku memang jelek, tidak layak untuk berada di sampingmu

menemanimu

Ya, aku hanya bisa memandangmu dari jauh,

melihatmu tertawa bahagia

Sungguh …

Aku senang melihatmu bahagia



Dear Ibu,

Ibu, engkau adalah segalanya bagiku. Engkau telah rela mengandungku selama 9 bulan 10 hari. Engkau telah rela merawatku dari bayi hingga sekarang. Pada saat aku sakit, engkau senantiasa berjaga di sampingku.


Ibu, engkau sangatlah baik padaku. Engkau sangat pengertian padaku. Engkau selalu menjawab masalah demi masalah yang kuhadapi. Terima kasih, Ibu! Tanpamu, aku tidak akan pernah melihat indahnya dunia. Tanpa kebaikan hatimu, mungkin aku sudah berakhir di tempat sampah. Jasa-jasamu tidak akan pernah dapat kubayar walau dengan mengorbankan jiwa dan ragaku.

Namun, maafkan aku, Ibu! Kadang, aku meragukan cintamu padaku. Aku merasa bila engkau lebih menyayangi adik. Membagi cinta yang berat sebelah.


Kuingin, kali ini … ada yang mengerti tentang diriku. Namun, kali ini pula engkau tidak berada di sisiku. Ibu, engkau tidak mengerti betapa tersiksanya saat mengetahui kenyataan bahwa engkau telah pergi dan memilih untuk bersama dengan adikku. Kini, tinggallah hatiku yang kosong, hampa, penuh sayatan luka, penuh duri, penuh kepedihan.



Dear diriku,

Aku ragu, apakah aku masih memiliki rumah untuk kembali …

Bukankah di sana sudah ada adikku yang sempurna …

Bersama ayah dan ibu menjadi sebuah keluarga yang bahagia …

Tanpa diriku!

Tanpa diriku pun, mereka takkan merasa kehilangan …

Mereka telah memiliki adikku yang sempurna …

Dan, aku hanyalah sampah yang selalu siap untuk dibuang …

Kapanpun mereka mau …

Seperti ampas?

Apakah aku tidak memiliki arti bagi mereka?

Untuk apa sebenarnya aku hidup di dunia ini?

Kukira, aku sudah mendapatkan tempat di rumah itu

Ternyata, aku salah

Mungkin, bagi mereka aku hanyalah seorang pembantu


Aku hancur … hingga tak bersisa