Rabu, 04 Juni 2008

Dalam KeAkuanku

Aku terkungkung di dalam kegelapan
Aku tidak sanggup lagi bertahan
Aku merasa pada titik terendah
Aku tidak memiliki cahaya di hatiku
Aku merindukan kilau keemasan
Aku terlalu lemah untuk melangkah
Aku terlalu lelah untuk menatap masa depan
Aku sendirian mengarungi ujung dunia
Aku berada pada sunyi terkatup
Aku egois
Aku mengandalkan orang lain, selalu
Aku tidak memiliki keberanian
Aku hanyalah fatamorgana
Aku hanya pengecut yang bersembunyi
Aku diam mendengar jerit resah mereka
Aku terikat belenggu milikku
Aku penakut yang tidak ingin keluar dari sangkar
Aku terdiam dalam bisu yang menyiksa
Aku berjalan menyusuri hitam
Aku melangkah menuju dekap hujan
Aku tidak pernah berani mengambil keputusan
Aku tidak mampu menembus resiko

CeeTra
June 4, 2008/ 3.45 p.m

Adakah Bahagia Untukku? (V)


“An …”
Suara itu, batin Ana dengan kaget …, ternyata ayah sudah pulang.
“Ya, ayah?” tanya Ana sambil berbalik menghadap ke arah ayahnya.
“Kamu sudah berjanji …”
“Ya.”
“Tentunya, kamu nggak akan menghindar.”
Ana merasa badannya lemas dalam sekejap. Dia tidak akan pernah melupakan janjinya pada ayah. Ya, dia memang tidak bisa lagi menghindar. Tidak akan bisa.
Ana memandang langit – langit di kamarnya. Memang, tidak ada apa – apa di sana. Hanya saja, Ana seolah melihat bayangan ayah dengan dirinya sedang berbicara di ruang tamu …
Ketika dia tiba di rumah, ayah sedang membaca koran sambil minum kopi. Padahal, tidak biasanya ayah pulang sesore ini. Namun, untunglah. Ayah pasti bisa menolongnya.
“Ayah!”
“Ada apa?” tanya ayah. Tak sekalipun dia menoleh pada Ana.
“Ayah, aku butuh …”
“Uang? Berapa?”
Ayah seakan bisa membaca pikiran Ana.
“Dua puluh enam juta.”
Ayah sekalipun tak bereaksi ataupun menunjukkan emosinya. Ana menjadi takut.
“Buat apa?” Akhirnya ayah berkata setelah lama berdiam diri. Ana menunggu dengan tegang.
“Buat temanku.”
“Itu saja? Ana, dengar. Ayah tidak akan membantu temanmu jika kau tidak memberi ayah alasan yang masuk akal.”
Ana menyerah. Dia tidak punya pilihan lain. Hanya ayah yang bisa membantunya.
“An, hindari dia.”
“Tapi, ayah…” protes Ana,” dia sudah menolongku.”
“Ya, ayah sudah dengar,” jawab ayah tegas,”Siapa tadi nama temanmu?”
“Dicka.”
“Ayah merasa kamu tidak cocok dengannya. Dia hanya ingin memperalatmu. Kamu tidak pantas bergaul dengannya.”
“Ayah tahu apa tentangku? Tidak ada. Ayah tidak mengerti aku. Aku juga tak pernah mengenal siapa ayah sebenarnya,” keluh Ana dengan suara serak. Ditahannya air mata yang ingin mengalir turun dengan susah payah.
“Kalau begitu, ayah juga tidak bisa membantunya …”
“Ayah …” Hilang sudah satu – satunya harapan. Ana tahu, Dicka bukanlah anak orang kaya. Lagipula, ayahnya sedang bertugas beberapa bulan dan rasanya sungguh mustahil untuk menghubunginya.
“ … kecuali kau mau menerima persyaratan dari ayah.”
Harapan Ana kembali melambung.
“Apa?” tanya Ana dengan semangat.
“Kamu tidak boleh menemuinya. Empat bulan lagi kamu akan kuliah, dan tidak akan bertemu dengannya lagi. Jadi, selesaikan semuanya dari sekarang,” tegas ayah.
“Ya, ayah. Aku janji.”
Apakah aku punya pilihan lain? pikir Ana.
“Ayah tahu kamu sudah dewasa.”
Ana tidak mengerti apa yang dikatakan ayahnya.
Kini, tinggal satu bulan lagi. Ana belum juga mengatakan apa – apa pada Dicka. Dia masih bingung. Reaksi apa yang akan ditunjukkan Dicka nanti? Sedih atau justru tenang – tenang saja?
Mengapa aku berpikir dia akan sedih? Kami hanya teman biasa. Sebentar saja dia pasti sudah melupakanku, pikir Ana.
“Kamu mau ngomong apaan, sih?”
“Aku serius, Ka.”
“Iya. Lalu …”
“Aku akan pergi …”
“Aduh, mau pergi aja harus bilang – bilang. Jangan lupa oleh – olehnya, ya.”
Hati Ana menjadi bimbang. Katakan atau tidak? Dia tidak diberi kesempatan dua kali.
Setelah menghela napas, Ana berkata,”Ka, aku akan pergi sebulan lagi. Jadi, mungkin kita tidak akan bertemu lagi setelah itu.”
“Untuk apa?”
“Kuliah,” jawab Ana singkat.
Dicka terpana. Lalu, dia mengatakan,”Oh, selamat ya. Kamu akan jadi mahasiswi, dong. Kamu kan pintar, nggak kayak aku.”
Ana merasa sedih. Dicka juga. Akan tetapi, mereka tidak mau menampakkan perasaannya masing – masing dengan jujur.
“Aku nggak bermaksud …”
“Udah dulu, ya. Aku mau pergi,” kata Dicka. Dia tidak ingin Ana tahu bila dia sangat membutuhkannya. Selalu membutuhkan kehadiran Ana. Selalu! Selalu! Dan selalu! Saat ini, dia tidak tahan harus berhadapan dengan Ana lebih lama lagi.
“Tunggu …”
“Apa?”
“Nggak ada apa – apa.”
Biarlah perasaan cinta ini terpendam saja di dalam hatiku, batin Ana.

Sesampainya di rumah, Dicka menyalahkan dirinya sendiri.
“Bodoh! Bodoh! Bodoh! Dasar Dicka bodoh. Mengapa aku nggak nyadar?” katanya sambil memukul – mukul kepalanya dengan tangan,” sudah banyak tanda yang ditunjukkan Ana. Apakah semuanya sudah terlambat sekarang?”
Dicka mengenang kembali pertemuan mereka yang aneh. Ana yang menolongnya sewaktu di warung, di arena balap. Dia jadi tersenyum – senyum sendiri.
Ana yang selalu menjaganya, memberinya semangat, dan selalu mendukungnya. Dia lah teman yang selalu ada di sisinya. Tidak seperti orang lain yang baru mengaku sebagai teman di saat suka saja.
Dicka masih ingat saat Ana pernah bilang,”Tuhan itu ada. Dia selalu berada di samping kita. Kita diberi kesehatan yang tak ternilai harganya. Banyak orang kaya yang sakit – sakitan, lho. Terus, buat apa harta mereka? Ka, kamu jangan merusak dirimu sendiri, ya. Buat apa? Nggak bakalan ada gunanya. Tindakanmu justru akan menyusahkan orang lain.”
Lalu, Ana menepuk bahunya pelan.

Saat ini, dia akan pergi dari kehidupan Dicka, mungkin untuk selamanya. Dia tidak tahu harus sedih atau tertawa. Ternyata, Tuhan memang senang mempermainkan dirinya. Bila Ana tidak ada, bagaimana dengannya?
“Apakah aku merasa senang bila dia pergi? Tidak.”
Entah sejak kapan, Dicka berhenti main cewek dan minum. Ana sudah memberi warna dalam hidupnya. Lalu, dia akan kehilangannya begitu saja?
Mengapa dia baru sadar, betapa berartinya seseorang ketika hampir kehilangan? Apakah itu cinta? Cinta yang tidak dipenuhi oleh nafsu.

Keesokan harinya, Dicka bergegas menemui Ana.
“Lho, kenapa matamu?”
“Ah, nggak apa – apa. Aku nggak bisa tidur semalaman.”
“Memangnya kamu sedang mikirin apa sampai nggak bisa tidur?”
“Mikirin kamu.”
“Hah?”
“Aku mencintaimu, An.”
“Tunggu! Tunggu dulu.”
“Apa?”
“Maksudmu?”
“Maksudku, aku benar – benar mencintaimu. Maukah kamu menjadi …”
Ana tentu saja terkejut setengah mati mendengarnya.
“Apa – apaan ini? Kenapa tiba – tiba?”
“Jawabanmu?”
“Ka, kamu lagi demam, ya.”
“Jawabanmu?”
Ana sebenarnya ingin berkata ‘ya’, tetapi lagi – lagi perkataan ayahnya merasuk ke dalam pikirannya.
“Maaf … aku tidak bisa.”
“Kenapa? Bukankah kau juga mencintaiku?”
Jantung Ana sudah benar – benar copot dari tempatnya. Sejak kapan Dicka tahu? Sekarang, sudah tak ada gunanya berbohong.
“Ya, aku memang mencintaimu,” kata Ana dengan pahit.
“Lalu, masalahnya apa? Kita kan masih bisa bertemu saat kau pulang ke rumah.”
“ … tapi, aku sudah berjanji pada ayah,” kata Ana,” bila ayah mau memberiku dua puluh enam juta …”
Ana terkejut sendiri. Apa yang sudah dikatakannya tadi? Namun, untunglah Dicka tak mungkin tahu soal itu.
“Jadi, kau yang … Katakan, An. Ngapain kamu melakukannya. Aku nggak butuh pertolonganmu.”
Dicka tampak sama kagetnya dengan Ana.
“Ka, aku takut. Aku sudah tak punya jalan lain. Aku tak mau kehilanganmu. Yah, setidaknya aku bisa melihatmu sampai hari ini,” kata Ana seraya mencoba untuk tersenyum, walau saat itu dia ingin menangis.
Sebenarnya, Dicka ingin memeluk Ana dan membisikkan kata – kata bahwa semua akan baik – baik saja. Akan tetapi, ternyata dia hanya terpaku di tempatnya saja, hingga Ana berkata,”Besok aku akan berangkat.”
“Secepat itu?” tanya Dicka kaget.
“Ya, keberangkatanku dipercepat satu minggu.”
Hening.
Sesaat kemudian,”Jadi, lupakan aku.”
Ketika mengucapkanya, hati Ana seperti teriris sembilu. Rasanya pedih sekali.
“Ya, bila kau takdirku, suatu saat, entah kapan, entah dimana, kita akan bertemu lagi. Dan, aku nggak akan melupakanmu.”
Dicka benar – benar paham, dirinya tak mungkin pantas untuk Ana. Dia terlalu tinggi untuk digapai.

Ana mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Perasaannya mengatakan bahwa Dicka ada di dekatnya, sedang memandangnya.
“Kamu lihat apa? Cepat naik!”
“Ya, ayah.”
“An, ayo!” seru ibunya.
Ana bergegas menuju ke dalam mobil. Sekali lagi, diedarkan pandangannya. Tiba – tiba, matanya terpaku pada sosok seseorang yang sedang berdiri di balik rimbunnya pepohonan.
Dicka sedang memandang ke arah mobil … seakan ingin menembus kaca mobil yang gelap untuk memandang Ana. Dan, Ana ingin sekali berlari menghampirinya, tetapi saat itu mobil sudah melaju meninggalkan halaman rumah.
Maafkan aku, dirimu akan selalu tersimpan di hatiku, batin Ana … setelah yang kita alami bersama.

Sepeninggalan Ana, hidup Dicka menjadi kacau dan hampa. Diacuhkannya saja teman – temannya yang mengajakanya balapan. Dia tidak menginginkan apapun. Dia hanya ingin bersama Ana. Senyumnya, tatapan matanya, suaranya, semuanya. Mengapa dia merasa tersiksa begini?
Ya, dia memang harus mengakhiri semuanya.
Saat membuka mata, Dicka sudah berada di rumah sakit. Dan, ayahnya sedang terkantuk – kantuk di sampingnya. Menunggunya? Lalu, sejak kapan ayah pulang? Dan, mengapa dia tidak ingat sama sekali apa yang menimpanya. Dicka termenung sendirian. Rasanya, dia seperti baru saja terbangun dari tidur yang panjang.
“Dasar anak tidak tahu diri. Bagaimana kalau Ayah tidak pulang tadi!” teriak ayahnya.
“Pak, harap tenang,” kata salah seorang perawat.
“Maaf,” jawab Ayah, tanpa mengurangi volume suaranya.
“Emangnya aku kenapa?” tanya Dicka bingung.
“Seharusnya Ayah yang tanya. Mengapa kamu melakukannya?”
“Melakukan apa?”
“Lihat tanganmu,” jawab Ayah dengan jengkel.
Dan, ketika melihat perban di tangannya, Dicka kembali mengingat semuaya. Semua masalah yang bertumpuk di pikirannya, hingga dia memutuskan untuk …
“Ngapain Ayah nolong Dicka segala?” protesnya,”aku ingin mati saja. Aku sudah terlalu lelah …”
Plak ! Sebuah tamparan mendarat di pipi Dicka.
“Ayah …”
Ayahnya sudah tak mempedulikan lagi pandangan kaget di sekeliling mereka.
“Tapi, bukankah ayah lebih senang jika aku menghilang selamanya?”
“Dicka, hanya kamu satu – satunya milik ayah di dunia. Bagaimana ayah bisa hidup tanpamu? Ayah sangat menyayangimu,” kata Ayah sambil memegang tangan Dicka yang gemetar.
“Tapi, bukankah selama ini …”
“Sssst … sudahlah, nak. Masalah itu jangan diungkit – diungkit lagi,” kata ayahnya lembut.
Sejak kapan terakhir kali Ayah memanggilnya dengan sebutan ‘nak’? Dicka sudah tak mengingatnya lagi.
“Ayah akui bila selama ini ayah yang salah karena telah mengacuhkanmu. Ayahmu ini gagal. Maaf, nak. Ayah membiarkanmu tumbuh sendirian.”
“Ya! Ayah memang keterlaluan, mau menang sendiri …!”
Dicka tidak jadi meneruskan kata – katanya ketika dia melihat ayah memandangnya dengan tatapan kosong.
“Ayah?”
Tiba – tiba Ayah berkata,” Bila melihatmu, ayah selalu merasa sedang berhadapan dengan perempuan itu.” Dan, Dicka melihat ada rasa sakit di mata ayah.
“Siapa? Ibu?” tanya Dicka.
“Jangan menyebut – nyebut namanya lagi.”
Dicka langsung terdiam tak berkomentar.
Kemudian, katanya,” Ayah tidak berharap banyak bila kamu mau memaafkan ayah. Kamu sudah terlalu banyak disakiti.”
Dicka merasa bimbang. Di satu sisi, dia benar – benr ingin memaafkan ayahnya, tetapi dia masih ingat dengan jelas bagaimana ayah menghajarnya tanpa belas kasihan.
Namun, tiba – tiba dia teringat dengan perkataan Ana.
“Maafkan Dicka juga, Yah. Selama ini aku nggak pernah membuat Ayah merasa bangga.”
Ya, harus ada kesempatan kedua bagi kita berdua, batin Dicka. Dan, mereka tersenyum. Senyuman yang penuh kelegaan.
Memang tak ada pelukan hangat. Namun, saat itulah Dicka merasakan kehangatan yang mengalir ke dalam hatinya. Dia tahu … salah satu kebahagiaannya telah kembali. Ayah menyayanginya, mengkhawatirkannya.
“Ayah, aku akan mencoba untuk berubah.”
“Ya, ayah juga.”
Sejak saat itu, Ayah sungguh – sungguh membuktikan ucapannya. Begitu juga dengan Dicka. Dia tidak ingin membuat ayahnya kecewa.
Bersambung ...

Selasa, 22 April 2008

Masalah?

Apa cih pengertian masalah? Kalo menurut aku, masalah adalah sesuatu yang tidak kita inginkan, sesuatu yang berbeda dengan apa yang kita harapkan. Atau, harapan yang tidak sesui dengan kenyataan. Sedangkan menurutmu, masalah itu apaan? Please, send me your comments!
Setiap orang tidak ingin mendapatkan masalah. Setiap orang tentu tidak ingin mendatangi masalah, tetapi masalah lah yang selalu menghampiri manusia. Lalu, mengapa harus ada masalah? Aku nggak bisa ngejawab soal itu. Pokoknya, yang aku tahu, karena masalah, banyak orang menderita, menangis, meraung, berteriak, atau bahkan melakukan sesuatu yang sangat sangat dilarang oleh agama.

Kita nggak bisa ngerjain PR, itu masalah.
Kita patah hati, itu juga masalah.
Ban motor kita bocor di tengah jalan, juga termasuk masalah!
Memang, hidup kita tidak pernah lepas dari yang namanya masalah. Terus, kalo kita tidak bisa mengatasinya, nggak mustahil masalah menertawakan kita dengan gembira sambil berkata,”Dasar manusia bodoh!”

Ya, mungkin aku, kamu, kita, mereka, semuanya mema bodoh. Benar-benar bodoh! Mengapa? Karena, tidak jarang kita melarikan diri atau bahkan mengibarkan bendera putih (baca: menyerah).

Aku juga sama saja, kok. Aku seringkali lari dari masalah. N, parahnya, aku selalu merasa desperate banget gara-gara itu. Sampai-sampai, aku pernah menulis …

Ya, aku pengen jujur. Aku ngaku bahwa hidup ini tidak semudah yang kita bayangkan! Hidup ini sangat sulit untuk dilalui. Bahkan, aku merasa putus asa setiap hari. Aku melalui hari demi hari dengan perasaan berat. Rasanya, mau mati saja!
Aku sudah muak dengan semua ini. Aku pengen melarikan diri, jauh … Aku pengen pergi jauh, ke tempat yang tidak terjangkau semua. Aku sungguh tidak mengerti. Apakah dunia ini begitu berharga untuk dipertahankan?
Aku ingin kembali ke masa SMA dulu, dimana aku nggak punya beban apapun. I am free like a bird in the sky. Aku sudah jenuh dengan kehidupan ini! Aku lelah … letih …

Nah, kan! Padahal, aku tahu. Kalo nggak cepat-cepat diselesaikan, lama kelamaan masalah itu akan menumpuk juga dan menggerogoti tubuh kita perlahan.

Mungkin, ada orang-orang yang suka menghadapi tantangan, tetapi kebanyakan manusia itu tidak menyukai masalah! Pantas saja, tidak sedikit orang yang mengkonsumsi narkoba dan minum minuman keras. Mereka ingin melupakan masalah, hanya caranya saja yang salah. Masalah itu tidak akan pernah menghilang dan justru akan semakin bertambah.

Aarrrgggg … dunia ini memang penuh dengan masalah! Oh ya, kalo masalah mulai menguasai otak, coba teriak saja sekencang-kencangnya. Di pantai, di gunung, ato dimanapun saja kita berada, asal nggak ngganggu orang lain saja. Setidaknya, cara itu bisa ngebantu kita melepaskan stres.

Truzzz, habis itu apa? Yoo, kita cari solusinya. Setiap masalah pasti punya pemecahannya. Pandai-pandainya kita aja bagaimana menangkap sinyal solusi itu. Nah, Pamela Espeland menyajikan 10 tips bagaimana menyelesaikan masalah. Simak baik-baik, yah!

Jangan anggap negatif semua masalah
Cobalah untuk memandang semua masalah sebagai kesempatan untuk melatih pikran dan mengambil tindakan positif.

Pilah-pilah masalah ke dalam kategori
Mana yang ada hubungannya dengan sasaran hidupmu? Mana yang timbul akibat kamu nggak mengatur hidupmu dengan baik atau karena kamu nggak punya rencana?


Sebanyak mungkin pecahkan masalah-masalah menjadi bagian-bagian
Lalu, pecahkan lagi menjadi langkah-langkah. Kemudian jalankan langkah-langkah itu satu per satu.


Belajar memisahkan mana masalah sesungguhnya dan mana masalah khayalan–yaitu masalah-masalah yang cuma kamu bayangkan di kepalamu
Mungkin kamu hanya membayangkan sebuah masalah dan itu nggak benar-benar terjadi. Kekhawatiran yang berlebihan cuma buang-buang pikiran saja.


Bekerja dari belakang ke depan
Jangan hanya terpaku pada penyelesaian saja. Penyelesaian yang bagus mungkin belum tampak di permukaan. Sebaliknya, fokuskan diri pada proses pencarian jalan keluar.


Ketika dihadapkan pada sebuah masalah yang luar biasa rumit, tuliskan dulu garis besarnya di atas kertas
Buat daftar tentang apa saja yang ingin kamu lakukan soal masalah itu. Lalu, buat satu lagi daftar tentang apa yang mampu kamu lakukan. Apakah kedua daftar itu cocok?


Kumpulkan informasi
Kalau salah seorang temanmu sudah pernah berada dalam situasi yang sama, cari tahu apa yang mereka lakukan. Tanya pada orang-orang dewasa yang kamu percaya – orang tua, guru, guru BP, pemimpin agama, pembimbing.


Bikin rencana cadangan
Kelau ternyata kejadiannya nggak seperti yang sudah kamu rencanakan, lalu apa yang bakal kamu lakukan?


Bersikaplah fleksibel dalam menghadapi proses penyelesaian masalah
Kebanyakan dari kita mempunyai gaya menyelesaikan masalah yang lambat laun menjadi kebiasaan. Tiap kali ada masalah, kita menghadapinya dengan cara yang sama dan ini terjadi berulang-ulang. Mungkin kamu perlu perubahan.


Jangan takut berbicara pada diri sendiri
Sejumlah orang yang paling berhasil dalam hidupnya menyelesaikan masalah dengan berteriak keras-keras saat berpikir.


Moga-moga tips di atas dapat berguna bagi kita bersama.


Stay in love !
Cee-Tra

The World Never Stop to Walk

Ya, aku tidak pernah mengenal siapa yang berada di dalam tubuhku ini, mengatur tanganku dan mengendalikan langkahku. Aku … hanyalah seorang manusia yang tidak tahu kemana harus berjalan. Ketika kujumpai persimpangan jalan, aku merasa sangat kebingungan. Aku harus memilih jalan yang mana? Jalan yang ada di hadapanku tampak lurus, seakan tak terjangkau, membuatku bergidik bila ingin melewatinya.

Namun, aku tidak mempunyai pilihan lain. Akhirnya, aku pun memilih salah satu jalan yang terlihat datar. Aku tidak tahu apa atau siapa yang akan menantiku di ujung sana. Ataukah, jalan itu tidak berujung? Sungguh, I have no idea! Memang, hanya ada satu cara untuk mengetahuinya. Aku HARUS memastikannya.

Aku pun mulai menyusuri jalan itu. Jalan yang panjang dan datar, pikirku. Setapak demi setapak kulalui, hanya berteman dengan kesiur angin yang berhembus perlahan. Namun, semakin lama jalan itu semakin menanjak. Terus … terus … menanjak. Aku menjadi lelah. Tak ada mobil yang mau memberikan tumpangan padaku. Bahkan, menyapa pun mereka enggan. Aku merasa tenagaku habis di tengah jalan. Entah bagaimana aku?

Ya, memang begitulah kehidupan. Kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit. Kita seringkali berdiri sendirian di persimpangan. Benar-benar tidak tahu jalan mana yang akan dipilih. Terkadang, kita pun tak lebih menjadi seorang pengecut. Ingin lari dari kenyataan yang ada. Janganlah lari, kataku. Seorang pengecut hanya mempunyai satu pilihan di dalam hidupnya, yaitu KALAH. Sedangkan, orang-orang yang berani untuk melangkah (walaupun mereka tahu segala risiko yang menghadangnya), mempunyai dua pilihan. KALAH dan MENANG. Jalan yang kita lalui, mungkin semakin lama semakin menanjak, terjal, berbatu, tetapi jalan itulah yang akan membawa kita menuju langit, mencapai pelangi, dan menggapai awan. Dan, satu hal yang pasti; meraih kebahagiaan.

Mulailah untuk tidak mengharapkan tumpangan dan menggunakan mobil (baca: jalan pintas). Berjalan akan melatih kita untuk tidak mudah putus asa, dan menempa diri menjadi setajam pisau. Kuakui, memang semua itu sulit untuk dilakukan. Namun, kesulitan itu akan bertambah apabila kita tidak mulai mencoba untuk mengatasinya. Karena, dunia tidak pernah berhenti berdetak, sekalipun kita tercabik-cabik olehnya. Ya, dunia tidak pernah berhenti berdetak, sekalipun kita tercabik-cabik olehnya. Ya, DUNIA TIDAK PERNAH BERHENTI BERDETAK, SEKALIPUN KITA TERCABIK-CABIK OLEHNYA.
Cee-Tra

Rabu, 20 Februari 2008

Adakah Bahagia Untukku? ( IV )

“Gampang sekali! Aksimu memang top!” kata Iwan.
“Siapa dulu, dong!” jawab Randi sombong,”nggasak motornya si Dicka tuh kayak nggecek semut. Langsung keok waktu kuhantam dari belakang. Biar sekalian mampus.”
“Thanks ya, bro. Uangnya cukup, kan?”
“Ya, nggak ada masalah. Dengan begini, kamu bisa jadi juara tanpa ada penghalang.”
“Toast untuk kita berdua,” kata Iwan. Kemudian, mereka mengangkat gelas tinggi – tinggi dan membenturkannya di udara.

Di tempat duduknya, Dicka merasa sangat geram. Kemarahannya sudah sampai di ubun – ubun. Tanpa sengaja, dia mendengar percakapan mereka. Rasanya, ingin sekali dia membunuh para cecunguk itu. Mejanya hanya beberapa langkah dari mereka. Namun, banyak orang berada di restoran itu. Tindakannya pasti akan sangat mencolok. Polisi pun … dia tidak mau membicarakannya. Apalagi, saat ini Ana berada di hadapannya yang bersikeras untuk ikut. Untuk pesta kesembuhannya, kata Ana tadi.
“Ka, tenang. Jangan berbuat macam – macam,” kata Ana. Ternyata, dia juga mendengar pembicaraan mereka.
“Ayo, kita pergi dari sini,” ajak Ana.
Ana memang benar – benar mengerti dirinya. Dia seperti merasa mempunyai seseorang yang selalu menjaganya, tak pernah meninggalkannya … sesulit apapun situasinya. Dan, entah mengapa dia ingin hal ini berlangsung selamanya.
Dicka mengendarai motornya dengan ugal – ugalan. Melewati mobil, menyalip truk dan bus. Sebenarnya, Ana merasa takut, tetapi dia diam saja dan memejamkan mata menahan ngeri. Batas antara kehidupan dan kematian itu begitu tipis. Kalau saja kecelakaan …, dia berusaha mati – matian untuk tidak memikirkannya. Sebab, dia tahu bila suasana hati Dicka sedang tidak enak.
Akhirnya, Ana bisa bernapas lega juga. Dicka akhirnya mengentikan motornya. Ketika membuka mata, Ana melihat sebuah taman kota yang indah. Bunga – bunga bermekaran di tepinya, dan daun – daun berguguran, ditambah lagi ada angin yang berhembus perlahan. Tempat yang romantis, batinnya. Namun, pikiran itu segera dibuangnya jauh – jauh. Mana mungkin Dicka berpikiran sama dengan dirinya?
Saat ini, mereka sedang duduk di sebuah bangku yang bercat putih.
“Lihat saja! Akan kubalas mereka, nanti!” seru Dicka sambil mengepalkan tinjunya. Ternyata, dia masih dongkol dengan kejadian tadi. Ana sampai geleng – geleng kepala melihatnya.
“Lalu, kamu mau apa?” tanya Ana lirih, hampir tak terdengar.
“Aku? Aku akan menghajar mereka sampai babak belur dan tidak bisa terbangun sampai setengah tahun,” jawab Dicka. Pikirannya saat ini memang penuh nafsu untuk membalas dendam.
“Setelah memberi pelajaran pada mereka, apa yang kamu dapat? Tak ada,” jelas Ana.
Dicka termenung. Dalam hati, dia membenarkan kata – kata Ana. Dengan berbuat begitu, dia justru akan menyusahkan banyak orang, termasuk Ana dan ayahnya. Namun, akan dikemanakan harga dirinya jika dia membiarkan cecunguk – cecunguk itu bebas melenggang pergi.
“Ah, persetan dengan harga diri. Sudah sejak lama aku tidak punya harga diri,” putus Dicka akhirnya.
“Kau benar, An. Nggak ada gunanya aku nantang mereka.”
“Sudahlah, anggap saja kecelakaan itu peringatan Tuhan padamu.”
“Tuhan?”
“Ya.”
“Tak pernah ada Tuhan dalam hidupku.”
Ana bertanya – tanya dalam hati mengapa Dicka berkata seperti itu. Dan, ternyata dia tidak perlu lama menunggu jawaban keluar dari mulut Dicka.
“Dulu, setiap hari, ketika aku masih kecil, aku selalu berdoa supaya Tuhan membawa ibu kembali pulang ke rumah, pulang ke sisiku. Aku menunggu … dan terus menunggu, hingga aku merasa sangat lelah. Tapi, Tuhan tetap tidak mau mendengar doaku. Akhirnya, aku memutuskan bila aku membenci – Nya.
Peristiwa itu memang telah berlangsung lama, tetapi masih membekas di dalam ingatan Dicka, sampai sekarang.
Aku yakin, suatu saat Tuhan pasti akan mendengarkanmu, batin Ana.
“Ayo, kita jalan – jalan saja,” ajak Ana. Dan, tanpa sadar dia memegang tangan Dicka.
“Hei … jangan tarik – tarik tanganku, dong. Kamu kan bukan anak kecil lagi.”
“Oh, sori,” jawab Ana sambil cepat – cepat melepaskan tangan Dicka.
Mereka pun berjalan – jalan di sekitar taman.
“Hei, kita kok kayak orang yang lagi pacaran?” Dicka hanya bermaksud bercanda, tetapi Ann tiba – tiba menjadi gugup. Tangannya terasa membeku, dingin sekali. Bahkan, dia sudah tidak sanggup menimpali kata – kata Dicka. Hanya kata ‘oh’, ‘ah’ yang keluar. Namun, Dicka sama sekali tidak menyadarinya.
Setelah puas melihat – lihat, melihat apanya? batin Ana, lha sebagian besar yang mereka lihat adalah orang yang sedang berpacaran.
“Ayo pulang,” kata Dicka mengagetkan Ana.
Dicka menggandeng tangan Ana. Ana yang terkejut segera melepaskan tangannya.
“Ups, sori. Nggak sadar. Suasananya mendukung banget, sih. Lagipula, sudah kebiasaan,” ujar Dicka meminta maaf.
“Sudah kebiasaan?” tanya Ana bingung.
“Gini lho. Cewek – cewek itu sukanya nempel terus sama aku. Aku cakep, sih. Biasanya, mereka mau aja kugandeng, terus …”
“Sudah! Sudah! Dasar cowok narsis,” sela Ana. Dia tidak ingin mendengar kelanjutan cerita Dicka.
“Ha … ha … ha …, nggak ada hubungannya, ya,” kata Dicka sambil tertawa. Kemarahannya tadi sudah menguap entah kemana.
Ana mempercepat langkahnya, meninggalkan Dicka yang masih bengong tidak mengerti.
“Eh, An. Tunggu!” kata Dicka setelah tersadar dari lamunanannya.
Akhirnya, dia berhasil juga mensejajari langkah Ana. Tiba – tiba, Dicka berkata,” Tapi, kamu itu beda banget. Nggak kayak cewek lain yang gampangan.”
Mau nggak mau, hati Ana berdebar mendegarnya. Aduh, mengapa jantungku hari ini terus – terusan kaget, sih? batin Ana.
Bila dapat mengatakan perasaannya dengan jujur, sesungguhnya dia mencintai Dicka. Kalau nggak, ngapain juga selama ini dia selalu membelanya, menolongnya. Ah, cinta memang kadang sungguh aneh. Mengapa dia bisa mengagumi cowok yang hobinya cuma kebut – kebutan, berkelahi nggak ada kapok – kapoknya. Namun, dia tidak pernah mendapat jawaban yang logis.
Dicka tidak pernah tahu, bila Ana menahan hatinya habis – habisan walau itu sangatlah menyiksa. Dia tidak ingin Dicka menganggap bahwa dia telah menodai persahabatan mereka. Sahabat? Ya, mereka hanya sekedar sahabat. Tidak lebih.
“Hei, cepetan turun, dong. Kamu tidur, ya. Sudah sampai di depan rumahmu, nih.”
“Apa?”
“Nggak denger, ya! Aku teriak, lho.”
“Ya … ya …, aku segera turun,” kata Ana.
“Ngapain aja kamu tadi?”
“Ah …”
“Kamu ngapain dari tadi?” ulang Dicka.
“Oh, lagi …”
Belum sempat Ana meneruskan kata – katanya, Dicka sudah memotong,”Lagi ngelamunin aku, ya? Aku kan cakep.”
“Dasar narsis!” jawab Ann sambil menepuk punggung Dicka agak keras.
“Adaaww, sakit tahu!”
“Biarin.”
Setelah berbicara beberapa saat, Dicka berlalu. Saat itu, Ana tidak sadar bila ayahnya sedang mengamatinya dari balik gorden.

My Dreaming On

Tulisan ini kubuat, setelah aku menghadapi UM – UGM yang mengerikan. Mungkin, nggak cuma aku yang mengalami sindrom kayak gini menjelang ujian dan penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi. Saat itu, aku bener – bener kecewa pada diriku. Memang, belum pengumuman sih, tapi aku udah yakin kalo aku nggak bakalan diterima di UGM. Padahal, UGM adalah universitas harapan dan Jogja adalah kota impianku. Akhirnya, aku harus membuang jauh kenangan – kenangan itu … (Pati, 21 Januari 2008)

Bapak dan Ibu, terutama Ibu, ingin aku naik podium. Itu berarti, aku harus juara I, II, atau III dalam perolehan nilai UAN di SMA – ku. Tapi, bagaimana mungkin aku sanggup menuruti keinginan mereka? Bagiku, hal tersebut merupakan sesuatu yang hampir mustahil (kecuali dengan karunia dari Allah SWT, tentunya. Dan, aku sangat mengharapkannya).

Dulu, sewaktu SMA, Ibu naik podium. Tentu bangga rasanya bila mendapat ucapan selamat dari teman – teman, guru, bahkan kepala sekolah. Tiada yang lebih indah selain hal itu. Dan, beliau adalah ibuku. Aku bangga kepadanya.

Tapi, bagaimana dengan aku? Aku hanyalah murid biasa. Tidak punya kemampuan lebih untuk menaklukkan dunia. Bisa lulus ujian saja, aku sudah bersyukur. Bagaimana aku memenuhi keinginan mereka? Bagaimana?

Hal ini membuatku merasa tersiksa. Saat ini, detik ini, aku masih memikirkannya. Aku sangat takut bila mengecewakan mereka. Ya, mereka takkan memukulku karena nilaiku jelek atau merosot, tapi … dari sorot mata mereka, aku tahu bahwa aku telah mengecewakan mereka. Begitu dalam! So deep! Aku sungguh sangat takut. Ya Allah!

Lilin yang hampir padam,
mengharap cahaya ‘kan datang
padanya
‘tuk pertahankan harapan
yang tersisa
Akankah ada?

Aku takut, bila kegelapan menghampiri
Aku takut, bila tak ada keluarga
di sampingku
Akankah ada mampuku ‘tuk
penuhi harapan mereka?

UGM. Unversitas yang menakjubkan. Universitas yang menakutkan. Pada tanggal 8 April 2007, aku mengikuti UM – UGM. Aku yakin bila aku nggak akan diterima. Aku sudah salah pada banyak soal. Aku nggak akan diterima, meskipun untuk pilihan ketigaku. Padahal, keluargaku; keluarga kecilku, keluarga besarku mengharapkan aku lebh dari batas kemampuan yang aku miliki. Aku bisa apa? Paling – paling, pas pengumuman dan aku nggak diterima, mereka akan menyelahkanku. Memang tidak dalam kata – kata. Satu hal yang pasti, walaupun Ibu bilang “tidak apa – apa jika tidak diterima”, aku yakin bahwa ada rasa kecewa yang teramat besar dalam hidupnya. Aku takut mengecewakan semuanya. Aku benr – benar takut. Seandainya Allah SWT membantuku. Tapi, benarkan ‘kan ada keajaiban?

Aku jadi ingat perjuangan Ibu agar aku dapat mengikuti UM – UGM di Jogja. Ibu sudah menghabiskan hampir satu juta hanya demi aku yang terlalu ngotot ikut UM. Ibu dengan setia menemaniku, hingga akhir. Bagaimana perasaanmu, Ibu, bila anakmu ini (yang bodoh ini) tidak bisa memenuhi keinginanmu? Padahal, kau sudah mengorbankan begitu banyak uang, tenaga, dan pikiran untukku.

Bahkan, Om Sulhan yang tidak ada sangkut pautnya, juga ikut terlibat (pada saat di Jogja, aku menginap di rumah Om – ku). Om Sulhan juga sudah banyak berkorban untukku. Bapak juga. Semua. Semuanya begitu baik padaku. Aku menyayangi keluarga besarku. Tapi, apa yang bisa kuperbuat untuk membalas kebaikan mereka? Tidak ada. Aku tidak punya apa – apa yang layak untuk diberikan kepada mereka. Aku hanya selalu merepotkan mereka saja. Aku anak yang tidak berguna.

Hanya dalam mimpi aku bisa mendapat semuanya. Tapi, buat apa? Mimpi sangat jauh dari kenyataan. Bila kita hanya bermimpi, kita tidak akan pernah maju. Tapi, aku hanya bisa bermimpi. Mimpi yang indah. Hanya bermimpi! Hanya bermimpi! Terus bermimpi! Selamanya tetap ‘kan menjadi impian. Tak berubah menjadi nyata.

11 April ’07

Anak dan Orang Ketiga

Bagaimana perasaan seorang anak apabila dia tiba – tiba dipaksa untuk menghadapi kenyataan bahwa … ayahnya mempunyai istri kedua?

Menurutku, ada dua buah kemungkinan yang akan terjadi padanya. Pertama, dia akan menjadi seseorang yang pendiam, menutup diri dari lingkungan sosial, dan tidak merasa PD pada dirinya sendiri. Aku pengen cerita tentang seseorang yang sangat dekat denganku, sebut saja namanya A. Pada saat SMP, dia harus menerima bahwa ayahnya mempunyai istri kedua yang dinikahi secara siri. Tentu saja, kehidupannya yang pada saat itu sudah sulit, semakin menjadi lebih sulit. A, ibu, dan saudara – saudaranya harus berhemat, gara – gara ayahnya memberikan sebagian besar uangnya kepada orang ketiga alias sang istri keduanya itu. Jadi, A tumbuh dewasa sebelum waktunya. Dia menjadi anak yang cenderung minder. Walaupun demikian, dia sadar bahwa dia harus menjadi anak yang kuat, agar tidak semakin menyusahkan ibunya.

Lalu, pilihan yang kedua, anak tersebut berubah menjadi nakal. Dia merasa frustasi dengan keadaan di sekitarnya. Dia berpikir bila dia sudah tidak dibutuhkan lagi. Nah, di sinlilah anak itu mulai berbuat sesuatu yang nggak bener, kayak suka bolos sekolah, tidak pulang ke rumah beberapa hari, … . Sebenarnya, dia ingin menarik perhatian orang tuanya. Kalo hal ini tidak berhasil, dia akan merusak dirinya sendiri, misalnya dengan mabuk – mabukan, balapan liar, yang jelas – jelas sangat berbahaya. Ataupun, yang paling parah nih, terjerat sama penggunaan narkoba. Dia tidak tahu bahwa yang sebenarnya rugi adalah dirinya sendiri. Ayahnya nggak akan mungkin meninggalkan istri keduanya hanya karena dirinya. Kebanyakan pria adalah sosok egois yang terlalu mementingkan dirinya sendiri.

Waktu tidak pernah berhenti berputar, seperti mentari yang menyapa dunia setiap pagi. Dan, begitu juga kehidupan. Walaupun sangat sangat sangat sulit, kita harus terus dan terus menghadapi segala cobaan dengan hati ikhlas, sabar, tawakkal. Plizz, janganlah menyia – nyiakan hidup kita hanya demi hal – hal yang tidak terlalu berguna.

Adakah Bahagia Untukku? ( III )

“Apa pedulimu pada nyawaku? Aku nggak berhutang apapun padamu,” katanya, seolah meremehkan cewek yang ada di depannya.
“Dicka!” Ada sekelumit rasa jengkel di hati Ann,”tunggu dulu!”
Dia pun berlari menghampiri Dicka yang duduk di atas sepeda motornya, bersiap untuk pergi.
Setelah mengatur napasnya yang terengah – engah, Ana berkata,”Ka, kamu jangan ikut balapan lagi, ya. Kamu bisa benar – benar …”
“Benar – benar apa?”
“Benar – benar mati.” Namun, kata – kata itu tidak jadi diucapkannya.
“Alah, jangan sok nasihatin aku, deh. Belagu amat. Kamu kira aku ini siapa? Aku bukan anak baru kemarin sore yang lagi belajar jalan.”
Mereka terdiam sesaat, sibuk dengan pikirannya masing – masing. Ana tidak tahu lagi bagaimana caranya membujuk Dicka untuk menghentikan kegiatan yang menurutnya sungguh … gila.
Memang, setahu Ana, Dicka tidak pernah mau dinasihati oleh siapapun, termasuk ayahnya sendiri. Entah terbuat dari apa kepalanya itu. Mungkin dari batu sungai yag minta ampun kerasnya itu.
“Tapi ….” Ana mencoba sekali lagi.
“Udah deh, nggak usah ngurusin aku segala. Kagak ada untungnya. Sana pergi!” usir Dicka kasar.
“Kamu nggak boleh …”
Dan, saat itu Dicka sudah ngeloyor pergi, menyisakan kepulan debu yang menyesakkan Ana sampai dia terbatuk – batuk. Dicka jelek, pikir Ana dengan perasaan yang tidak menentu.

“Nanti sore, ada balapan di Lapangan Joyokusumo. Kamu ikut nggak?” tanya Iwan, teman Dicka.
“Jam berapa?” Dicka balik bertanya.
“Jam 3 sore. Ikut?”
“Ya, pastilah,” sahutnya optimis.
“Oke, kalu gitu aku duluan.”
“Lho, ngapain buru – buru?”
“Biasalah, ada urusan sedikit. Nanti juga beres begitu aku datang.”
“Sombong!” komentar Dicka.
Iwan tersenyum dan meninggalkan warung dengan tenang.

Dicka kembali meneruskan makannya. Sejak dari pagi, dia belum memasukkan apapun ke mulutnya, kecuali … tentu saja air putih. Hanya air putih.
Dia sudah menghabiskan dua porsi besar makan piring nasi, ketika dia sadar bila ada sesuatu yang tidak beres. Dia tidak membawa uang sama sekali, sudah diberikannya pada Iwan untuk pendaftaran perlombaan nanti sore.
Bagaimana ini? pikir Dicka panik. Nggak mungkin kan, dia menyelinap keluar begitu saja. Bisa digebukin massa sampai babak belur. Memang orang sekarang cenderung lebih emosional, termasuk dia sendiri. Yah, dia pun tak malu mengakuinya.
Lagipula, harga dirinya tidak mengizinkan hal itu. Mau ditaruh di mana mukanya. Dia kan pembalap nomor satu di kota ini. Untunglah, akhirnya dia menemukan satu cara.

“Kamu harus berterima kasih kepadaku,” kata Ana.
“Untuk apa?”
“Aku baru saja menyelamatkanmu dari kerja paksa. Uang sakuku untuk dua hari habis gara – gara kamu.”
“Sebulan yang lalu, aku juga menyelamatkan hidupku.”
Ana merasa mendapatkan pukulan telak. Dia tidak bisa membalas ucapan Dicka, karena semua yang dikatakannya benar. Tiba – tiba, dia merasa sedih.
“Kenapa kamu diam?” tanya Dicka heran. Tidak biasanya Ana yang cerewet dan sok ini menjadi kehilangan kata – kata.
“Jadi … jadi, kamu minta imbalan?” kata Ana dengan suara tertahan,”kalau nggak mau, dulu kau nggak perlu menolong aku.”
“Hah? Apa?” Dicka menatap Ana dengan wajah tidak mengerti.
“Ya, aku memang berhutang budi padamu,” kata Ana serak,”apa yang kamu inginkan dariku?”
Dicka baru mengerti sekarang, dan kemudian dia tertawa sampai perutnya terasa sakit. Ana memandang Dicka bertanya – tanya.
“Sori, aku nggak ngira kamu sampai berpikiran seperti itu,” kata Dicka setelah tawanya reda.
“Nggak lucu!” Ana cemberut menahan marah. Dia pun berbalik membelakangi Dicka.
“An, aku nggak pernah berpikir kamu berhutang padaku. Aku sudah senang kamu mau berteman denganku, yah … yang bisa dibilang urakan, nakal, nggak bener, berandalan, …,”sahut Dicka,” Terima kasih kamu masih memperhatikanku,”
“Kamu bukan cowok seperti itu,” jawab Ana kembali berbalik menghadapi Dicka dengan wajah serius.
“Ha … ha … ha …, kamu ketipu. Dasar cewek, gampang banget dikibulin. Aku tadi cuma bercanda.”
Perasaan Ana menjadi bercampur aduk tak karuan. Dia tidak ingin tangisannya pecah di depan cowok brengsek ini.

Dicka segera mengalihkan pembicaraan.
“Nanti nonton, jam tiga. Lapangan Joyokusumo. Aku ada di sana. Biasalah!”
Ana benar – benar ingin mencegah. Namun, dia takut, jika dia berbicara, air matanya akan mengalir keluar. Dan, dia tidak mau hal itu terjadi.
Ana menunggu beberapa saat hingga emosinya mereda.
“Kamu masih …”
“Sudah ya, nanti kalau aku menang, uangmu aku ganti deh. Jangan khawatir.”
Selalu begitu. Dicka selalu meninggalkan Ana sendirian.
“Ka, aku nggak mikirin soal uang itu, tapi yang aku khawatirkan itu kamu. Kamu, Ka. Mengapa kamu tak pernah mengerti?” pikir Ana.
Jadi, mau tak mau, Ana harus ikut pergi menonton. Sejak pagi tadi, perasaannya tidak enak. Dia tidak ingin terjadi apa – apa pada cowok itu. Namun, tiba – tiba Ana sendiri merasa heran. Mengapa dia tidak bisa berhenti memikirkan Dicka. Apakah … dia sedang jatuh cinta? Pada Dicka? Pada sosok tampannya? Atau, pada tubuhnya yang atletis? Ah, mustahil. Masih banyak cowok selain dirinya. Hingga kepalanya menjadi pusing, dia tetap belum menemukan jawaban yang memuaskan.

Kini, Ana berada di tengah – tengah gemuruh suara penonton yang memadati area luar stadion. Sebenarnya, dia sudah ingin cepat – cepat keluar dari sana, tetapi dia menahan hatinya sekuat mungkin. Ya, dia harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri, bahwa Dicka baik – baik saja.
Ana mencari sosoknya di antara para pembalap. Setelah beberapa menit, dia menemukan Dicka yang sedang bersiap – siap mengendarai sepeda motornya. Untuk sesaat, Ana merasa lega. Namun, semua itu tidak berlangsung lama. Jantungnya kembali berdebar kencang saat perlombaan dimulai. Semua motor melaju dengan kecepatan tinggi. Ana bahkan merem melek beberapa kali.
Baru saja menghela napas lega, Ana dikejutkan adanya sebuah motor yang oleng karena diserempet motor lain. Pembalap itu terpelanting jatuh beberpa meter dari tempat kecelakaan. Begitu juga dengan motornya yang ringsek di beberapa bagian, karena menggesek jalan, sehingga menimbulkan percikan api.
Mengerikan. Besok, aku nggak mau nonton balapan kayak gini lagi, pikir Ana. Apalagi, pembalap itu jatuh hanya sekitar tiga meter dari tempatnya berdiri.
Dan, kemudian dia melihat helm itu. Motor itu. Tidak salah lagi, gumam Ana berulang – ulang.
Tanpa berpikir panjang, Ana segera melompat menuju pembalap itu.
Pasti dia bukan Dicka, Ana berharap – harap cemas. Ini hanyalah mimpi buruk. Lalu, dia memanjatkan doa. Tak dipedulikannya, penonton yang sempat memandang heran kepadanya. Mungkin mereka berpikir ‘cewek apaan, sih’? Menerjang masuk ke arena? Tapi, itu urusan nanti. Yang terpenting sekarang adalah memastikan siapa yang berada di balik helm itu.
Ana membukanya dengan sangat hati – hati. Dan, mimpinya buyar seketika. Dia melihat dengan jelas … wajah Dicka yang pucat tak sadarkan diri.
Paramedis datang beberapa saat kemudian. Dicka dibawa ke rumah sakit dengan ambulans. Ana bersikeras untuk ikut. Hanya dia yang kenal dengan Dicka.

Beberapa jam setelah mendapat perawatan, Dicka akhirnya sadar. Dia kaget melihat jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Apalagi, dia merasa ada seseorang di sampingnya. Tapi, siapa? Ayahnya kan sedang tugas ke luar Jawa.
Ana beringsut bangun dan melihat Dicka sedang menatapnya dengan pandangan heran.
“Ngapain aku ada di sini? Lho, ini dimana?” Dia tidak paham untuk beberapa saat. Badannya terasa sakit semua.
“Tapi, menurut dokter kamu nggak ngalamin gegar otak, kok. Masa mereka salah mendiagnosa?” pikir Ana.
“Ana, kenapa aku bisa ada di rumah sakit? Aku kan baik – baik saja.”
“Huf, untunglah kamu masih kenal aku.”
Ana bernapas lega.
“Dengar, ya. Tadi, dokter bilang tiga tulang rusuk sama kakimu patah.”
“Hah, apa?” tanya Dicka tak percaya.
“Lihat saja sendiri gimana keadaanmu,” jawab Ann sambil menyerahkan sebuah cermin kepadanya.
“Aku sudah kayak mumi gini,” komentar Dicka sambil meringis kesakitan.
“Rasain. Salah sendiri pake ngebut segala. Aku kan sudah bilang …”
“Jadi, ceritanya aku nggak bisa naik motor, nih?”
Ana memandang Dicka dengan rasa kasihan. Dia tahu arena balap adalah hidupnya, dunianya. Dan, dia tak bisa memungkirinya.
“Nggak, kok. Cuma dua bulan.”
“Selama itu?”
“Gara – gara kamu sendiri yang ceroboh. Coba siapa yang repot, kan aku.”
“Oh ya, ngapain kamu ada di sini?”
Dicka bego. Masa nggak pernah ngerti juga? batin Ana.
“Yah, daripada di rumah. Nggak ada orang. Pergi semua,” kata Ana berusaha menutupi kesedihannya.
Dicka ber – o panjang. Dia memang sudah mendengar bahwa kedua orang tua Ana adalah usahawan yang sukses. Jarang ada di rumah.
“Nih, sudah kubelikan nasi goreng dua bungkus. Selera makanmu nggak mungkin berkurang. Lagipula, makanan di rumah sakit, kamu tahu kan?”
“Makasih banyak. Seandainya kamu itu pacarku, aku tentu akan merasa sangat bahagia,” kata Dicka.
Jantung Ana berdebar kencang, sampai – sampai dia takut bila Dicka mendengarnya.
”Aku ngomong apaan, sih? Sori, aku ngrepotin kamu terus. Aku juga nggak bisa ganti uang kamu,” kata Dicka lagi. Kesombongan yang ditunjukkan Dicka selama ini sudah menguap entah kemana.
“Ah, nggak masalah. Aku sudah senang kamu nggak bisa naik motor lagi. He … he … he …”
Dicka merengut pura – pura kesal. Padahal, di dalam hatinya, dia merasa … bahagia. Ada seseorang yang memperhatikannya. Ah, dia benar – benar beruntung bisa bertemu dengan Ana.

Selama seminggu, Dicka berada di rumah sakit. Setiap hari, sepulang sekolah, Ana menjenguknya dengan membawa buah – buahan ataupun makanan.
Dia cewek yang baik, pikir Dicka, dan aku cowok yang buruk. Mana pernah ada kecocokan?

Saat ini, Dicka sedang kebingungan. Dia jelas – jelas tidak mempunyai uang untuk membayar biaya perawatannya. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Ana pasti mau menolongnya, tetapi selama ini dia sudah cukup membuatnya repot.
Dicka termenung sendirian di tempat tidur. Lusa adalah hari kepulangannya. Bagaimana ini? Dia pun kemudian memutuskan untuk bangun darn berjalan di sepanjang lorong rumah sakit. Dengan gugup, Dicka bertanya ke bagian administrasi.
“Mbak, biaya perawatan saya berapa, ya?”
“Maaf, nama mas siapa?” tanya salah seorang perawat sopan.
“Dicka Hermawan S dari kamar 307.”
“Sebentar,” kata perawat itu sambil mengecek dari dalam komputernya.
Dicka menunggu dengan cemas, lebih cemas daripada menanti hasil ujiannya beberapa tahun yang lalu. Dan, akhirnya perawat itu berkata,”Oh, semua sudah lunas.”
Dicka menghela napas sesaat, tetapi hanya sekejap.
“Mbak nggak bohong?” tanya Dicka untuk meyakinkan bahwa telinganya masih normal.
“Anda menginginkan struk kopinya?”
“Ya,” jawabnya cepat sekali.
Lalu, dia pun melihat struk itu, dan terbengong tak percaya. Nominal yang tertera di sana hingga puluhan juta, tepatnya dua puluh lima juta enam ratus lima puluh dua ribu rupiah. Wuih, Dicka sampai keder membayangkannya.
Siapa yang telah menolongku? pikir Dicka, apakah Ana? Ah, nggak mungkin Ana mempunyai uang sebanyak itu.
Dia tidak bisa menemukan jawabannya, dan justru semakin menambah pusing kepalanya. Ah, dipikir nanti saja!

Sudah hampir tiga bulan berlalu. Dicka merasa benar – benar pulih dari kecelakaan sialan itu. Dia sudah tidak sabar untuk kembali berada di tengah – tengah arena balap. Namun, sebersit pikiran tiba – tiba melintas di benaknya, mengganggu jalan pikirannya. Ana melarangnya ikut.
Dia diurus belakangan aja, deh, batin Dicka. Memang, kecintaannya pada dunia Rossi ini sudah mencapai taraf yang kronis. Sulit untuk disembuhkan. Ana pun tidak akan bisa membujuknya!
“Permisi,” kata Ann. Dia sedang berada di depan rumah Dicka sambil menjinjing keranjang buah. Pintunya setengah terbuka, tetapi kok seperti tidak ada orang.
Tiba – tiba, saat hendak beranjak pergi, Ana mendengar suara Dicka,”Tunggu sebentar!”
Ana pun lalu dipersilakan masuk.
“Ada apa, An?” tanya Dicka.
“Nih, untuk kamu,” kata Ana menyodorkan keranjang di tangannya. Pada saat itulah, dia merasakan tangan Dicka yang menegang.
“Kamu tidak apa – apa?” Ana melihat keringat dingin mengalir turun dari dahi Dicka.
“Ayahmu ada di rumah?” tanya Ana.
Tiba – tiba, dari sebuah kamar terdengar suara seorag wanita.
“Siapa itu di luar, sayang?” katanya mesra.
Ana terperanjat kaget. Sesaat, dia merasa sudah tidak menginjak tanah, melayang entah kemana. Pikirannya menjadi kacau. Dia sangat … sangat syok, seperti terkena serangan jantung.
“Eh, oh, aku mengganggu, ya?” ujar Ana, setelah dia mati – matian memaksa keluar suaranya.
Dicka terdiam. Wajahnya pun ikut – ikutan menjadi pucat.
“Kalau gitu, aku pergi dulu,” tambah Ana sambil melangkah keluar.
“An, tunggu …,” kata Dicka tersendat – sendat.
Ana menoleh. Tapi, lagi – lagi Dicka merasa mulutnya terkunci rapat. Dia tidak tahu apa yang mesti dijelaskannya pada Ana.
Akhirnya, Ana berkata,”Apapun yang kamu lakukan, itu nggak ada hubungannya denganku. Aku bukan pacarmu apalagi ayahmu. Aku nggak berhak melarang apa yang kamu lakukan. Kamu sudah dewasa, kan? Bisa nentuin mana yang bener mana yang salah. Tapi, aku tetap percaya pada kamu, kok. Bukanlah suatu dusta bila kau telah menolongku, memperlakukanku dengan baik. Dan, aku sangat menghargainya.”
“Maaf …,” jawab Dicka lirih. Namun, kemudian dia sendiri merasa heran mengapa dia meminta maaf. Dia nggak salah, kok.
Apakah benar dia tidak bersalah?
Sepeninggalan Ana, Dicka merenung. Lama sekali. Ternyata, apa yang dikatakan Ana memang benar, pikirnya.
Entah mengapa, tiba – tiba dia merasa jijik dengan dirinya sendiri. Dia pun berjanji nggak akan pernah melakukan hal … hal yang bodoh, hina seperti itu lagi. Tanpa berpikir panjang, Dicka pun segera mengusir wanita itu pergi.
Pada saat sendiri seperti saat ini, dia tidak bisa melupakan pandangan Ana tadi. Bukan pandangan jijik! Bukan! Dia yakin itu.
Pandangan itu, pandangan Ana … begitu kecewa … sakit … terluka. Seumur hidup, Dicka tidak ingin melihatnya lagi. Entah mengapa, saat membayangkan kejadian itu, hatinya seperti selalu tersayat – sayat pisau. Pedih sekali.

Bunuh Kata ‘Bunuh Diri’

Belakangan ini, fenomena bunuh diri seakan sudah menjadi suatu kejadian yang sangat biasa. Astaghfirullah! Kita sering melihat beritanya di berbagai media massa, baik media cetak maupun elektronik. Sungguh! Aku sampai merasa heran mengapa peristiwa itu terjadi. Ya, mungkin saja aku tidak bisa sepenuhnya memiliki rasa empati untuk ikut merasakan apa yang sedang dialami oleh orang tersebut. Karena aku tidak pernah mengalami masalah seberat yang ditanggungnya.

Sudah banyak kita lihat, gadis yang bunuh diri karena pacarnya tidak mengakui janin yag sedang dikandungnya. Dalam hal ini, aku merasa kedua – duanya salah. Si pria salah karena sikapnya yang sangat tidak bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukannya. Padahal, dia lah yang menyebabkan si gadis menderita. Seandainya perzinaan itu tidak terjadi, kejadiannya tidak akan menjadi serumit itu. Si gadis juga salah, dia membiarkan si pria dengan seenaknya mengambil ‘mahkota’ – nya yang berharga! Hanya karena alasan untuk membuktikan perasaan sayangnya pada kekasihnya.

Bunuh diri tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Aborsi ilegal juga, karena hal itu berarti akan membunuh janin yang tidak berdosa hanya karena perbuatan kita yang berdosa. Sedangkan menjadi single parent (mungkin … inilah pilihan yang berat, tetapi yang terbaik. Indonesia yang masih menjunjung nilai kesopanan yang tinggi, bahkan, mungkin … kita akan menjadi sasaran gosip yang empuk hingga berbulan – bulan) bila si pria benar – benar melepas tanggung jawabnya. Memang bukanlah sesuatu yang mudah. Dibutuhkan kesabaran dan rasa ikhlas yang besar. Dan …, tidak banyak orang yang mampu melakukannya. Kita selalu mempunyai pilihan di dalam hidup ini.

Tinggal bagaimana kita mampu memilih jalan yang terbaik. Bunuh diri atau menjadi single parent? Seberat apapun permasalahan yang dihadapi, kita harus selalu kuat menghadapinya. Menurutku, bunuh diri merupakan sebuah tindakan pengecut. Dia melarikan diri dari masalah. Dia tidak berani menghadapi kenyataan yang ada.

Contoh lainnya, yang lebih sederhana, yaitu patah hati. Ketika patah hati, seakan kita tidak bisa berpikir lagi. Aku pernah mengalaminya. Setiap hari terasa kelabu. Sayangnya, belum ada hari yang cerah untuk jiwa yang sepi. Kalo nggak, pasti aku sudah menyanyikannya. Namun, bukan berarti setelah itu kita terus menjadi putus asa dan melakukan bunh diri. Tidak hanya ada satu pria / wanita di dunia ini. Entah kapan, kita pasti mengalaminya lagi, our beautiful love.

Dalam agama Islam, sudah jelas dikatakan bahwa perbuatan bunih diri itu dilarang. Pelakunya tidak akan pernah bisa berada di sisi Allah SWT. Rohnya hanya melayang – layang tidak tahu hendak kemana. Aku ngeri lho ngebayanginnya! Akan tetapi, aku tidak bermaksud menakut – nakuti. Aku hanya ingin mencoba memberikan sedikit pengertian bahwa banyak orang di dunia ini yang berjuang melawan kematian. Mereka terus berusaha sembuh dari penyakitnya, bahkan penderita HIV / AIDS juga. Walaupun tahu bahwa dia tidak akan sembuh, kemudian dia mengabdikan dirinya untuk memberi penyuluhan – penyuluhan agar tidak ada lagi yang terkena penyakit seperti dirinya.

Lalu, mengapa banyak orang yang menyia – nyiakan nyawanya sendiri? Membuang begitu saja roh yang ditiupkan oleh – Nya ke badan kita. Padahal, hanya Allah yang berhak menentukan kapan kita mati.

LoVe V.S LoGic

Aku mempunyai seorang sepupu, yang bernama Ocha. Sudah hampir selama dua tahun, dia mencintai Rengga, temannya. Namun, cinta itu tidak berjalan mulus, dan akhirnya dia pun bertepuk sebelah tangan. Setiap hari, Ocha tidak bisa berhenti memikirkannya. Hingga … entah sejak kapan, Rengga sadar bila Ocha mencintainya. Lalu, setelah itu apa yang terjadi? Rengga menolak Ocha. Tapi, Ocha tidak menyerah. Sampai dia menceritakan love story – nya padaku, dia masih sangat menyayangi Rengga, dan hebatnya … dia masih terus berjuang, memperjuangkan rasa cintanya. Tanpa kenal lelah.

Aku juga pernah mengalami hal yang sama. Aku nggak bisa membedakan lagi apakah yang kulakukan ini bodoh ataukah ungkapan dari sebuah kejujuran. Yang jelas, nasibku pun sama. I am rejected. Tentu saja, aku merasa sakit hati, kecewa, terluka, de el el. Tapi, biarlah. Semua itu sudah lama berlalu. Nah, yang ingin kuceritakan di sini adalah suatu ‘perbedaan’. What’s different? Perbedaan antara aku dan Ocha. Aku yang memilih logika dan Ocha yang lebih mengagungkan cinta.

Mungkin, aku memang cewek yang tak pernah berani mengambil resiko. Selama ini, dapat dibilang aku hanya memilih jalur yang aman saja. Aku tidak berani memperjuangkan makna cinta. Yah, akibatnya … tahulah! Aku nggak pernah memperoleh cinta sejati. Aku terlalu takut untuk mengejar dia. Selain itu, ibuku juga selalu mengajarkan padaku bila ‘wanita itu dipilih, bukan memilih’.

Jadi, sebagai seorang cewek, aku dituntut untuk menjunjung tinggi budaya timur yang lebih mengutamakan aspek kesopanan. Cewek nggak boleh lebih dulu mengejar pria. Setelah itu, dengan susah payah aku berhasil melupakannya. Untuk apa tetap mengejarnya apabila pada akhirnya kita pun tidak bisa memilikinya. Mungkin, kita memang mendapat raga, tetapi tidak untuk jiwanya. Percuma saja! Tentunya, aku akan lebih memilih dicintai daripada mencintai. Karena cinta sepihak itu selalu berada pada posisi yang sangat lemah. Dan, aku sudah merasakannya.

Oh, tapi, jangan khawatir, karena ini cuma pendapatku yang tidak akan bisa mempengaruhi keputusan orang banyak. Keputusan tetap berada di tangan kita, cinta atau logika … hanya hati kita yang bisa memilih. Pikirkan baik – baik, pasti ‘kan kita temukan jalan terbaik.